Oleh Masuki M. Astro
Bondowoso (ANTARA) - Setiap budaya memiliki tradisinya yang khas untuk merayakan bulan lahirnya manusia agung, panutan miliaran manusia yang selamat (Islam). Di Indonesia, tradisi itu dikenal dengan maulidan.
Bukan hanya komunitas, di tingkat individu, masing-masing juga memiliki caranya merayakan kesyukuran atas hadirnya sosok pembawa nilai-nilai luhur kemanusiaan bernama Muhammad SAW itu.
Sutejo yang akrab dipanggil Kang Tejo menjalankan tradisi batinnya di momen bulan lahirnya Nabi Muhammad itu dengan laku sambung hati. Kali ini ia membawa misi penggembalaan, meminjam istilah dalam agama Kristen. Dalam pencarian di Mbah Google, kata gembala itu senilai dengan diksi ra'in (Bahasa Arab) yang bermakna pemimpin. Dalam konsep Jawa, dikenal sebagai "bocah angon". Hanya saja, Kang Tejo bukan bocah, sebab rambut dan kumisnya sudah memutih.
Kembali ke konteks Islam, penggembalaan ini ada haditsnya yang diriwayatkan oleh Bukhari Muslim, yakni Kullukum ra'in wakullukum 'an ra'iyyatihi. "Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas apa yang dipimpinnya."
Doktor sastra yang mengasuh banyak umat Muhammad itu, bahkan bukan hanya yang berwujud manusia, tapi juga tumbuhan, seperti singkong, ubi jalar, uwi, dan mbote dalam rindundangnya rumah itu tetap kontinu dalam menjaga ikatan tali batin dengan saudaranya agar tidak putus.
Bagi seorang dosen yang juga mendapat kepercayaan mengeketuai organisasi di lingkungan pendidikan itu, menjaga tali batin yang terbentang oleh jarak ratusan kilometer bukan persoalan mudah. Ketidakmudahan karena rentang jarak, waktu, dan fisik itu terlampaui berkat spirit gembala atas anak-anaknya untuk belajar menderas laku yang diamanahkan oleh agama sebagai rahmatan lil 'alamiin. Mereka yang beruntung dan istimewa, sehingga digembalakan untuk ngangsu kaweruh hidup itu adalah Mas Irvan, Mas Tuya, dan Mas Renggar.
Kerelaan hati untuk melakoni penggembalaan ini bukan berangkat dari motif untuk mengisi daftar pertanggungjawaban pada 'an ra'iyyatihi. Itu berangkat dari rasa cinta. Kang Tejo begitu mencintai anak-anak yang digembalakannya, bahkan bisa melebihi anak-anak biologisnya.
Sebagai penguasa panggung pertunjukan, Kang Tejo biasa memainkan ritme dalam menyampaikan nilai-nilai hidup untuk konsumsi batin anak-anak gembalanya itu. Beberapa kali suara meninggi, bahkan terasa menekan. Pada waktu lain, dia sangat lembut menyampaikan permintaan maaf dan mengungkapkan rasa cintanya.
Ketika nilai-nilai yang dibawa dalam perjalanan batin di atas aspal dari ujung bagian kulon Jawa Timur ke bagian wetan itu diperagakan oleh Allah dalam diskusi panjang, maka selawat mengalir tanpa kata tanpa suara.
Ada kontraksi yang mewujud dalam geliat kaku otot tubuh ketika ego merasa diganggu oleh pemahaman baru dari jiwa. Ada yang biasa saja, bahkan yang mengalami penggugatan dalam tanya.
Pagi menjelang pengakhiran pertemuan, relaksasi dalam balutan hangat matahari di lantai atas membawa jiwa mereka ke jalur kesadaran sesuai keunikannya masing-masing. Ada yang masuk ke taman indah, ada yang masuk ke arena air terjun tak terbendung dari ketinggian, ada juga yang masuk ke kalbu tempat pandu spiritual menyatukan arah batin.
"Semua adalah pertanda baik, sesuai jalan kalian anak-anakku" kata Kang Tejo.
Detik terus melaju, menit terus berputar, dan jam mengalir sebagai pertanda kita masih berada dalam ruang waktu.
Dunia menyajikan hukum dualitas alias kontradiksi. Pergerakan waktu membuka kesempatan pada manusia untuk menjelajahi kebebasan, namun saat bersamaan ia juga menggendong pembatasan.
Penggembalaan Kang Tejo dan tiga anak asuhnya; Mas Irvan, Mas Tuya, dan Mas Renggar, harus memenuhi panggilan waktu untuk kembali menyusuri aspal dari wetan ke kidul.
Mereka kembali bersama getaran lirih, Allaahumma sholli 'alaa Sayyidina Muhammad wa'ala ali Sayyidina Muhammad.
Editor : Abdul Hakim
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.