Jadi Favorit Warga +62, Kok Daun Kelor Tak Direstui di Australia? Dokter Bilang Gini

Jakarta -

Daun kelor dikenal sebagai salah satu makanan yang kaya nutrisi dan telah lama dikonsumsi masyarakat Indonesia. Namun, berbeda dengan di Tanah Air, Australia hingga kini belum mengizinkan kelor sebagai pangan karena dikategorikan sebagai novel food atau pangan baru.

Ketua Perkumpulan Dokter Pengembang Obat Tradisional dan Jamu Indonesia (PDPOTJI) dr Inggrid Tania menjelaskan, perbedaan tersebut bukan berarti kelor berbahaya. Menurutnya, status kelor di Australia berkaitan dengan sejarah konsumsi masyarakat setempat.

"Pangan tradisional itu mengacu pada tradisi di suatu wilayah. Kelor menjadi pangan tradisional di banyak wilayah Asia, seperti India, Indonesia, negara-negara Asia Tenggara, hingga kawasan sekitar India," kata Inggrid kepada detikcom, Kamis (16/7/2026).

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Ia menjelaskan, masyarakat di sejumlah daerah di Indonesia telah mengonsumsi kelor secara turun-temurun. Misalnya di Lombok, daun kelor kerap diolah menjadi sayur bening dan disantap sebagai menu harian.

"Kalau di Indonesia, misalnya di Lombok, masyarakat sudah biasa makan sayur bening kelor sejak zaman nenek moyang. Jadi memang sudah menjadi bagian dari pangan tradisional," lanjut dia.

Sebaliknya, masyarakat Australia tidak memiliki riwayat mengonsumsi kelor sebagai makanan sehari-hari. Karena itu, saat mulai diperkenalkan sebagai superfood, kelor masuk dalam kategori novel food yang harus melalui evaluasi keamanan sangat ketat.

Hasil Uji Masih Bertentangan

Ingrid mengatakan regulator pangan Australia dan Selandia Baru memiliki standar keamanan yang sangat tinggi terhadap setiap pangan baru. Sebelum mendapat izin edar, suatu produk harus melewati berbagai pengujian, mulai dari toksisitas akut dan kronis, genotoksisitas, mutagenisitas, hingga pengaruh terhadap reproduksi.

Menurutnya, sejumlah penelitian pada hewan coba menunjukkan hasil yang belum konsisten.

"Misalnya pada uji reproduksi, ada penelitian yang menunjukkan kelor dapat memicu keguguran pada tikus atau menurunkan kesuburan. Tapi ada juga penelitian lain yang tidak menemukan efek tersebut," jelas Ingrid.

Perbedaan hasil itu dipengaruhi banyak faktor, seperti dosis yang diberikan kepada hewan uji hingga asal tanaman kelor yang digunakan dalam penelitian.

"Bahkan sama-sama ditanam di Australia, tetapi dari negara bagian yang berbeda hasil pengujiannya bisa berbeda. Jadi regulator ingin memastikan standar budidayanya juga jelas," katanya.

Selain itu, beberapa penelitian pada hewan juga menemukan indikasi genotoksisitas atau potensi perubahan DNA. Meski demikian, Ingrid menegaskan temuan tersebut masih sebatas pada hewan coba dan belum dapat disimpulkan akan terjadi pada manusia.

"Belum tentu berefek seperti itu pada manusia. Tetapi regulator memang akan mengambil langkah yang paling aman sampai seluruh bukti ilmiahnya benar-benar konsisten," ujarnya.

Masih Boleh sebagai Obat Herbal

Meski belum diizinkan sebagai pangan, kelor tetap dapat digunakan sebagai obat herbal komplementer di Australia.

Ingrid menjelaskan, regulator yang mengawasi pangan dan obat di Australia berbeda. Kelor sebagai makanan dinilai berpotensi dikonsumsi setiap hari dalam jangka panjang, sehingga persyaratan keamanannya lebih ketat.

"Yang belum diizinkan itu jika kelor dikonsumsi sebagai pangan sehari-hari, misalnya dijadikan sayur, teh, atau olahan makanan lain yang dimakan terus-menerus," katanya.

Sementara itu, penggunaan kelor dalam bentuk obat herbal, seperti ekstrak kapsul, masih diperbolehkan karena telah didukung data ilmiah, termasuk hasil pengujian hingga uji klinis sesuai ketentuan regulator obat Australia.

Menurut Ingrid, kondisi tersebut menunjukkan bahwa keputusan Australia bukan berarti menyatakan kelor berbahaya. Status tersebut lebih mencerminkan kehati-hatian regulator dalam menilai keamanan pangan baru bagi masyarakat yang sebelumnya tidak memiliki riwayat konsumsi kelor secara turun-temurun.

Halaman 2 dari 2

Simak Video "Video: Viral Kisah Wanita di Bekasi Kena Gagal Ginjal Stadium 5, Ini Penyebabnya"
[Gambas:Video 20detik] (naf/naf)