Surabaya, Jawa Timur (ANTARA) - Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Jawa Timur (Jatim) menyatakan penguatan kompetensi sumber daya manusia (SDM) menjadi bagian penting untuk menekan berbagai risiko yang dihadapi pekerja migran Indonesia di luar negeri.
"Kalau dia tidak memiliki skill dan tidak dibekali keterampilan, di sana tidak bisa apa-apa dan bisa dipulangkan," kata Ketua Umum Kadin Jatim Adik Dwi Putranto di Surabaya, Jumat.
Adik menuturkan banyak PMI bermasalah karena kurangnya literasi dan keterampilan hingga nekat bekerja ke luar negeri melalui jalur dan cara tidak resmi.
Selain itu, kata dia, literasi dan keterampilan juga membuat PMI tidak mudah beradaptasi dengan budaya negara tujuan sehingga mengalami culture shock yang dapat memengaruhi perilaku dan keberlangsungan pekerjaan.
"Yang penting sekarang tenaga harus legal, terdaftar pada Dinas Tenaga Kerja dan melalui jalur resmi. Bukan ilegal. Kemudian dibekali kompetensi, baik kompetensi teknis maupun nonteknis,” kata Adik.
Direktur Kadin Institute Nurul Indah Susanti mengatakan pemetaan kompetensi menjadi langkah penting agar calon pekerja migran tidak hanya memiliki kemampuan dasar tetapi benar-benar disiapkan berdasarkan kebutuhan negara penempatan.
“Sekarang job-nya banyak sehingga harus di-matching-kan. Tugas kita memetakan kompetensi pekerja yang akan dikirim ke luar negeri dengan kompetensi yang diinginkan oleh negara penempatan,” ujar Nurul.
Menurut dia, tenaga kerja yang ingin bekerja di luar negeri harus memiliki tiga modal utama yakni keterampilan, pengetahuan, dan sikap sehingga pelatihan perlu menggabungkan kemampuan teknis dengan kemampuan nonteknik termasuk karakter dan soft skill.
Kebutuhan tenaga kerja juga semakin spesifik seperti di sektor manufaktur membutuhkan tenaga untuk packing, screwing, fitting, pengelasan industri hingga pengoperasian teknologi.
Untuk sektor pertanian membutuhkan tenaga untuk penanaman, pemeliharaan hingga pemanenan sedangkan sektor kebutuhan kesehatan mencakup caregiver, caretaker dan tenaga perawatan lansia.
Sementara pada sektor domestik, pekerjaan mulai diarahkan berdasarkan jabatan dan kompetensi seperti housekeeper, childcare, babysitter, family cook dan family driver.
Nurul menegaskan perubahan tersebut menunjukkan pekerja migran kini semakin diarahkan sebagai tenaga profesional berdasarkan jabatan, bukan lagi sekadar dikategorikan sebagai pekerja formal atau informal.
Peluang pasar kerja global pun dinilai semakin terbuka seperti Jepang yang membutuhkan tenaga caregiver sedangkan Jerman memiliki kebutuhan di sektor hospitality termasuk cook dan bidang makanan.
Nurul menilai Jawa Timur memiliki modal kuat untuk mengambil peluang tersebut karena memiliki basis pendidikan vokasi yang besar sehingga didorong untuk dipersiapkan sejak awal agar kompetensinya sesuai kebutuhan negara tujuan.
“Yang kita siapkan bukan hanya skill, tetapi juga knowledge dan attitude. Kemampuan teknis harus siap, kemampuan nonteknis juga harus disiapkan, terutama pengembangan karakter dan soft skill,” ujarnya.
Pewarta: Astrid Faidlatul Habibah
Editor : Vicki Febrianto
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.