Gorontalo (ANTARA) - Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo menilai penguatan program bahasa Indonesia bagi Penutur Asing (BIPA) berpotensi menjadi penggerak ekonomi baru di daerah.
Dampak ekonomi tersebut antara lain lahir dari terbukanya lapangan kerja bagi pengajar BIPA, berkembangnya lembaga pelatihan, hingga meningkatnya sektor jasa pendidikan.
Kepala Kantor Bahasa Provinsi Gorontalo Zamzam Hariro saat diwawancara di Gorontalo, Rabu, mengatakan bahasa Indonesia tidak hanya berfungsi sebagai alat komunikasi, tetapi juga memiliki nilai ekonomi apabila dipelajari secara luas oleh warga negara asing.
Menurut dia, makin tinggi minat warga asing mempelajari bahasa Indonesia, makin terbuka pula peluang pengembangan sistem uji kemahiran bahasa yang dapat memberikan nilai tambah ekonomi bagi daerah.
"Kalau orang belajar bahasa Indonesia, tentu mereka membutuhkan biaya untuk belajar. Bisa datang ke Indonesia, bisa juga dibuka lembaga-lembaga pendidikan yang mengajarkan bahasa Indonesia, bahkan nantinya ada sistem pengujian yang dapat dimanfaatkan secara ekonomi," katanya.
Ia mengatakan, pembelajaran bahasa Indonesia juga akan mendorong orang asing mempelajari budaya, etika, tradisi, dan kehidupan masyarakat Indonesia. Kondisi tersebut dinilai membuka peluang ekonomi bagi pelaku seni, budaya, maupun sektor jasa yang berkaitan dengan aktivitas warga negara asing selama berada di Indonesia.
Selain itu, Zamzam menilai kewajiban berbahasa Indonesia bagi tenaga kerja asing di perusahaan akan menciptakan kebutuhan terhadap tenaga pengajar BIPA, penyusunan bahan ajar, hingga lembaga kursus bahasa Indonesia di dalam maupun luar negeri.
Ia meyakini peluang tersebut akan semakin besar apabila pemerintah menerapkan kebijakan yang mendorong tenaga kerja asing mempelajari bahasa Indonesia sebelum atau selama bekerja di Indonesia.
Menurutnya, kebijakan tersebut tidak hanya memperkuat posisi bahasa Indonesia, tetapi juga menciptakan efek domino terhadap pertumbuhan ekonomi masyarakat.
Pewarta: Faradila Alim
Editor : Debby H. Mano
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.