Perang yang melanda Jalur Gaza tidak memadamkan semangat Allam Mohammed Shabir untuk tetap mengejar mimpinya sebagai atlet. Meski kehilangan kedua kaki akibat serangan selama konflik pada 2025, pria berusia 36 tahun itu terus berlatih demi kembali berkompetisi di ajang olahraga internasional. Getty Images/Ahmad Hasaballah
Allam, yang berasal dari kamp pengungsi Beach Camp di Gaza City, merupakan mantan pemain Beach Services Club dan Friendship Sports Club. Cedera yang dideritanya dalam serangan Israel membuat kedua kakinya harus diamputasi, mengubah kehidupannya secara drastis. Getty Images/Ahmad Hasaballah
Alih-alih menyerah pada keadaan, Allam memutuskan membangun ruang latihan sederhana di dalam rumahnya. Di ruangan itulah ia menjalani latihan fisik setiap hari sebagai bagian dari proses pemulihan sekaligus mempersiapkan diri untuk kembali berolahraga. Getty Images/Ahmad Hasaballah
Perjuangannya tidak mudah. Banyak klub olahraga dan pusat kebugaran di Gaza rusak atau hancur akibat perang, sehingga akses terhadap fasilitas latihan menjadi sangat terbatas. Untuk melengkapi ruang latihannya, Allam harus mengumpulkan berbagai peralatan olahraga secara bertahap di tengah kondisi yang serba sulit. Getty Images/Ahmad Hasaballah
Latihan yang dijalaninya bukan sekadar untuk menjaga kebugaran tubuh. Bagi Allam, olahraga menjadi cara untuk membangun kembali kepercayaan diri setelah kehilangan kedua kaki, sekaligus membuktikan bahwa keterbatasan fisik tidak menghalangi seseorang untuk terus berkarya dan berprestasi. Getty Images/Ahmad Hasaballah
Di tengah proses rehabilitasi, Allam menyimpan harapan besar untuk kembali tampil di panggung olahraga internasional. Ia bercita-cita mengikuti berbagai kejuaraan dan menjadi inspirasi bagi penyandang disabilitas, khususnya mereka yang menjadi korban konflik bersenjata. Getty Images/Ahmad Hasaballah