Jakarta, CNN Indonesia --
Kementerian Perindustrian (Kemenperin) menyiapkan dashboard posko komando terpusat (war room) untuk memantau kinerja industri guna mengantisipasi potensi penutupan fasilitas produksi di berbagai sektor manufaktur.
Juru Bicara Kemenperin Febri Hendri mengatakan langkah tersebut merupakan arahan langsung Menteri Perindustrian agar seluruh unit pembina sektor memiliki sistem pemantauan dini terhadap kondisi industri.
"Bapak Menteri Perindustrian (Agus Gumiwang) sudah memerintahkan kepada semua unit di Kemenperin, terutama pembina sektor, untuk membangun dashboard pemantauan kinerja industri," ujar Febri dalam konferensi pers Indeks Kepercayaan Industri (IKI) Juli, Kamis (30/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Melalui dashboard tersebut, Kemenperin akan memantau kinerja masing-masing sektor hingga kondisi setiap entitas perusahaan industri. Dengan demikian, potensi penurunan utilisasi maupun ancaman penutupan pabrik dapat dideteksi lebih awal.
"Kalau kemudian sudah terpantau dan sepertinya ada potensi penutupan, Kemenperin nanti akan mengambil langkah-langkah," jelasnya.
Selain memanfaatkan dashboard, Kemenperin juga menggunakan Indeks Kepercayaan Industri (IKI) sebagai instrumen pemantauan bulanan terhadap kondisi sektor manufaktur.
Febri menjelaskan apabila suatu subsektor mencatatkan kontraksi secara berulang dan semakin dalam, pemerintah akan memberikan perhatian khusus untuk mencegah dampak yang lebih luas terhadap industri.
Ia menjelaskan langkah pertama yang dilakukan Kemenperin ketika mendeteksi potensi penutupan pabrik adalah berkoordinasi langsung dengan perusahaan untuk mengidentifikasi penyebabnya.
Menurut Febri, penyebab penutupan fasilitas produksi bisa beragam, mulai dari salah kelola perusahaan (mis management), perubahan strategi bisnis, penurunan daya saing, hingga persoalan pasokan bahan baku dan pembiayaan.
"Selama penyebabnya itu masih ada dalam jangkauan Kemenperin, Kemenperin akan dengan cepat melakukan mitigasi agar penutupan fasilitas produksi itu tidak terjadi," imbuhnya.
Sebagai bentuk mitigasi, Kemenperin akan membantu perusahaan mencari solusi sesuai akar persoalan yang dihadapi.
Jika kendalanya berasal dari pasokan bahan baku, pemerintah akan berkoordinasi agar kebutuhan bahan baku dapat dipenuhi. Apabila masalahnya terkait pembiayaan, Kemenperin akan menjembatani perusahaan dengan lembaga keuangan.
Sementara untuk industri yang kehilangan pasar ekspor, pemerintah akan membantu membuka akses ke pasar baru.
Dalam kasus industri tekstil dan garmen di Jawa Tengah, Kemenperin juga menggandeng asosiasi industri untuk mencari investor yang bersedia memberikan pendanaan maupun mengakuisisi perusahaan yang mengalami kesulitan.
"Bapak Menteri sudah sampaikan bahwa semua unit kerja di Kemenperin, terutama unit kerja pembina industri untuk mengambil langkah cepat dan terukur, agar tidak terjadi penurunan utilisasi dan terutama penutupan fasilitas produksi," ujar Febri.
(ldy/sfr)