Atmosfer jelang Muktamar Nahdlatul Ulama (NU) kali ini dinilai menghadirkan fenomena baru yang jauh lebih terbuka dan edukatif dibanding perhelatan sebelumnya.

Hal tersebut disampaikan oleh Tokoh Muda NU yang juga Dosen Universitas Nahdlatul Ulama Indonesia (UNUSIA), Muhammad Afifi.
Menurut Afifi, keterbukaan panggung bagi para kandidat Calon Ketua Umum (Caketum) PBNU mulai dari penggunaan fasilitas Gedung MPR hingga forum podcast memberikan kesempatan emas bagi para pemegang hak suara (muktamirin) dari tingkat Cabang maupun Wilayah untuk membedah secara langsung gagasan serta program kerja para calon.
"Muktamar sekarang sangat beda. Kandidat disediakan panggungnya untuk tampil. Ini sangat baik agar muktamirin bisa melihat bagaimana program ke depan," ujar Afifi dalam keterangan yang diterima redaksi di Jakarta, Jumat, 21 Agustus 2026.
Di tengah dinamisnya bursa pencalonan dan beragam hasil survei, Afifi menyoroti kemunculan Wakil Ketua Umum MUI, KH Marsudi Syuhud sebagai figur yang sangat potensial. Ia menilai Kiai Marsudi bergerak secara senyap namun masif di akar rumput.
"Kandidat yang menarik dan jarang tersorot media itu KH Marsudi Syuhud. Beliau ini 'kuda hitam'. Gerakannya lancar dan banyak tidak terekam oleh tim sukses kandidat lain. Sosok model seperti ini yang berpeluang besar muncul sebagai Ketua Umum," ungkapnya.
Mengenal Kiai Marsudi sejak lama bahkan sempat ditugaskan mengajar di pondok pesantren milik Kiai Marsudi di Kedoya, Jakarta, Afifi paham betul karakter kepemimpinan mantan Sekretaris Jenderal PBNU tersebut.
Kiai Marsudi dinilai sebagai figur yang optimis, membumi, terbuka (welcome) kepada semua kalangan, serta memiliki rekam jejak (legacy) konkret di ranah internasional maupun nasional, seperti inisiatif program gerakan seribu dokter. Namun, nilai tambah utama Kiai Marsudi terletak pada keberpihakannya terhadap penguatan ekonomi warga.
Afifi yang juga Ketua Umum Aliansi Lingkar Advokasi, Sinergi, dan Tumbuh Usaha (ALASTU) ini menegaskan bahwa agenda besar Muktamar ke-33 NU di Jombang terkait pemberdayaan ekonomi umat hingga kini masih belum tuntas.
Di tengah masih banyaknya warga Nahdliyin yang berjuang menghadapi kemiskinan, NU membutuhkan pemimpin yang memiliki pemetaan konkret untuk menyelesaikan persoalan riil tersebut.
"Warga NU butuh makan dan kesejahteraan. Ini tugas NU, dan sosok yang paling tergambar jelas pemetaannya untuk persoalan ekonomi kerakyatan adalah KH Marsudi. Beliau tahu metode pendampingannya, penguatan koperasinya, dan memiliki SDM yang mumpuni untuk menjalankan itu," jelas Afifi.
Menutup pandangannya, Afifi mengimbau para pemilik hak suara di Muktamar agar memilih sesuai hati nurani serta berfokus pada kebutuhan mendesak jamaah.
"Ideologi dan SDM itu penting, tapi pemenuhan kebutuhan riil masyarakat seperti ekonomi, kesejahteraan, dan kesehatan adalah hal utama. Muktamirin harus memikirkan itu agar Nahdliyin tidak merasa kehilangan arah dalam pemenuhan ekonomi umat," pungkasnya.
Temukan berita-berita hangat terpercaya dari RMOL.ID di Google News.
Untuk mengikuti silakan klik tanda bintang.