Garut (ANTARA) - Anggota Komisi X DPR RI, Ferdiansyah mendorong Kementerian Kebudayaan (Kemenbud) untuk menerapkan konsep "Ngajagi Lembur" atau menjaga kampung sendiri dengan melakukan berbagai gerakan gotong royong yang dapat membangun dan mengembangkan daerahnya di berbagai sektor.
"Ya, ini berlaku untuk seluruh Indonesia, juga termasuk Garut, tapi dengan tata cara, metode yang berbeda-beda disesuaikan dengan daerahnya masing-masing," kata Ferdiansyah usai kegiatan Diskusi Budaya Gotong Royong dalam Pemajuan Ekosistem Kebudayaan di Cipanas Kabupaten Garut, Jawa Barat, Kamis.
Ia menuturkan, kegiatan tersebut diselenggarakan Kemendikbud sebagai mitra kerja Komisi X DPR RI dengan pembahasan menarik tentang nilai gotong royong di masyarakat di tengah keberagaman masyarakat.
Ia menyampaikan konsep "Ngajagi Lembur" itu dilakukan secara bersama-sama dalam atu ikat seperti sapu lidi agar memiliki kekuatan bersama untuk menyelesaikan berbagai persoalan di wilayahnya.
"Jadi, seperti sapu lidi yang diikat menjadi satu tidak terurai, satu demi satu, untuk apa, untuk menyelesaikan masalah ekonomi, masalah sosial, masalah budaya, masalah politik, jadi didasari oleh kebersamaan," katanya.
Ia menyampaikan, Indonesia memiliki keragaman yang dapat menjadi dasar, bukan kekurangan, tapi nilai tambah untuk melakukan tujuan nasional, sesuai dengan semboyan negara yakni Bhineka Tunggal Ika.
Nilai-nilai keberagaman ini, lanjut dia, harus dijaga dan dikembangkan kelestariannya melalui konsep "Ngajagi Lembur" di berbagai daerah sehingga menjadi modal untuk penyelesaian masalah apapun.
"Dalam konteks ada kesamaan, dan irisan yang sama di antara setiap provinsi dan kabupaten, hanya saja mungkin adalah metodenya atau tata caranya yang berbeda-beda," katanya.
Ia berharap adanya konsep "Ngajagi Lembur" itu tidak hanya ada nilai budayanya, tapi juga kebersamaan, kemudian menjaga rasa aman, nyaman yang akhirnya tumbuh ekonomi masyarakat karena terdapat perkumpulan orang.
Ia berharap, masyarakat tidak hanya tentang penerapan sistem keamanan lingkungan (siskamling) yang selama ini sudah berjalan, tapi ada kegiatan lain yang memiliki nilai kesadaran saling membantu apabila ada yang kesusahan, dan mendukung atau ikut senang apabila ada yang bergembira.
"Jadi, konteksnya jangan yang kesusahan, tapi senang pun harus kita bersama-sama, kebersamaan itu dibangun ketika susah dan senang," katanya.
Pewarta: Feri Purnama
Editor : Riza Fahriza
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.