Komputer Tak Laku, Nasib Pedagang Miris Jualan Laptop Makin Susah

Jakarta, CNBC Indonesia - Industri komputer global tengah dihantam tekanan berat menyusul krisis kelangkaan chip memori yang dipicu oleh ledakan adopsi teknologi kecerdasan buatan (Artificial Intelligence/AI). Berdasarkan laporan terbaru dari firma riset IDC, pengapalan komputer pribadi (personal computer/PC) secara global anjlok 4,9% secara tahunan (year-on-year/YoY) pada kuartal II (Q2) 2026 menjadi 68,2 juta unit.

Angka minor ini sekaligus memutus tren positif pasar PC yang sebelumnya sempat mencatatkan pertumbuhan selama sembilan kuartal berturut-turut. Selain lonjakan harga komponen akibat krisis chip memori, kelesuan pasar ini juga diperparah oleh pusaran isu geopolitik yang mengguncang perekonomian dunia.

"Inti persoalannya di sini adalah ketidakselarasan antara jumlah unit dan nilai pendapatan. Volume pengiriman menurun, namun pendapatan justru meningkat karena para vendor menerapkan kenaikan harga lebih cepat daripada laju penurunan permintaan," ujar Jitesh Ubrani, Research Director untuk Perangkat Konsumen di IDC, dikutip dari FoneArena, Selasa (1/9/2026).

Ubrani memprediksi bahwa krisis kelangkaan cip memori ini tidak akan mereda dalam waktu dekat dan diperkirakan baru akan melandai pada awal 2028 mendatang. Kondisi makroekonomi yang memburuk serta siklus penarikan maju inventaris berpotensi memicu perlambatan tajam pada tingkat pertumbuhan industri selama paruh kedua 2026.

Sebagai langkah antisipasi, para pabrikan komputer pribadi-termasuk produsen laptop, telah bersiap menaikkan harga jual produk mereka pada tahun depan. Di sisi lain, para

Pilihan Redaksi

  • Harga iPhone 17 Naik Bulan Ini, Padahal iPhone 18 Rilis September
  • Dampak Krisis Menggila, iPhone Baru Terpaksa Pakai Chip Buatan China
  • Biaya Produksi iPhone Baru Sudah Tak Masuk Akal, Begini Dampaknya
  • Pengusaha Ungkap Kriteria Laptop Idaman, Bukan Cuma After-Sales

distributor kini mulai mencemaskan tingginya tingkat penumpukan inventaris, terutama untuk lini produk di kisaran harga yang lebih tinggi.

IDC menilai, tekanan biaya yang berkelanjutan ini diprediksi bakal memengaruhi siklus pembaruan (refresh cycle) PC secara lebih luas. Kendati minat konsumen terhadap pemrosesan AI langsung di perangkat (on-device AI) sedang tinggi-tingginya, kenaikan biaya komputasi awan (cloud) dan komponen fisik menjadi batu sandungan tersendiri.

Situasi pelik ini turut mempercepat konsolidasi di tingkat vendor. Merek-merek raksasa seperti Apple, Dell, dan Lenovo memanfaatkan skala operasi raksasa mereka di berbagai lini bisnis-termasuk pasar ponsel dan server-guna mengamankan pasokan chip memori yang semakin langka sekaligus menekan para pemain kecil di industri.

"Seiring dengan kondisi pasar yang terus memburuk, manajemen rantai pasokan makin krusial. Pabrikan-pabrikan besar dengan daya beli tinggi dan jaringan rantai pasokan yang kuat berada pada posisi yang lebih menguntungkan ketimbang pesaing-pesaing yang lebih kecil," ungkap VP Perangkat Konsumen IDC, Jean Philippe Bouchard.

Di tengah kejatuhan pasar secara keseluruhan, persaingan di jajaran lima besar (Top 5) pabrikan PC menunjukkan dinamika tersendiri. Tercatat hanya Apple dan Asus yang mampu melawan arus dan membukukan pertumbuhan positif.

Tiga raksasa teratas yang menguasai takhta-masing-masing Lenovo di peringkat pertama, HP di posisi kedua, dan Dell di urutan ketiga-justru harus puas mengapalkan produk dalam jumlah yang lebih sedikit dibanding periode yang sama tahun lalu.

Sementara itu, Apple yang bertengger di posisi keempat sukses mencatatkan lonjakan pengapalan hingga 10,1% YoY pada Q2 2026. Adapun Asus menyusul di peringkat kelima dengan pertumbuhan tipis sebesar 0,2% YoY.

Perusahaan Pengapalan Q2 2026 Market Share Q2 2026 Pertumbuhan YoY
Lenovo 16,6 juta 24,4% -2,1%
HP Inc 13,0 juta 19,1% -9,0%
Dell Technologies 9,3 juta 13,6% -5,0%
Apple 6,7 juta 9,9% 10,1%
Asus 5,0 juta 7,4% 0,2%
Lainnya 17,5 juta 25,7% -10,5%
Total 68,2 juta 100,0% -4,9%

(fab/fab) [Gambas:Video CNBC]