Kontroversi Alex Karp, Bos Teknologi Paling Tak Dipercaya Anak Muda

Jakarta -

Sebagian besar anak muda berusia 18-34 tahun mengaku tidak percaya dengan bos teknologi di balik perusahaan AI, menurut survei yang dilakukan CNBC dan Generational Lab. Dari sembilan nama bos teknologi yang diajukan, CEO Palantir Alex Karp yang paling tidak dipercayai responden.

Menurut survei tersebut, 81% responden mengaku tidak mempercayai Karp dapat bertindak bertanggung jawab soal AI. Tidak hanya Karp, Chairman dan co-founder Palantir Peter Thiel juga tidak dipercayai oleh 79% responden.

Karp memang merupakan sosok yang kontroversial di dunia teknologi. Ia pernah merilis manifesto yang isinya memuji kekuatan Amerika Serikat dan menyiratkan bahwa beberapa budaya lebih rendah dibandingkan budaya lainnya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Dalam postingannya di Twitter/X, Karp menulis bahwa beberapa budaya telah menghasilkan "keajaiban" sedangkan budaya lainnya bersifat "regresif dan berbahaya". Ia juga mengkritik Barat karena "menolak mendefinisikan budaya nasional atas nama inklusivitas".

Karp juga pernah beberapa kali mengomentari konflik antara Israel dengan Palestina. Ia mengecam aksi mahasiswa di sejumlah universitas di AS yang memprotes aksi Israel dan mengatakan aktivis yang berdemonstrasi seharusnya mengikuti pertukaran pelajar di Korea Utara.

"Para aktivis perdamaian adalah aktivis perang," kata Karp saat berbicara di AI Expo for National Competitiveness, seperti dikutip dari The Guardian, Selasa (18/8/2026).

Menurut laporan Amnesty International, produk AI buatan Palantir dipakai oleh Departemen Keamanan Nasional AS untuk menargetkan warga non-Amerika yang menyuarakan hak-hak Palestina. Palantir juga memiliki kerjasama strategis untuk menyediakan teknologinya kepada militer Israel.

Ketika militer AS mulai menyerang sejumlah kapal di Laut Karibia pada September 2025, Karp menyiratkan kejahatan perang seharusnya diakui secara konstitusional agar perusahaannya diuntungkan. Palantir memiliki kontrak senilai USD 10 miliar dengan militer AS.

"Salah satu alasan mengapa saya menyukai pertanyaan ini adalah, semakin konstitusional (kejahatan perang), semakin Anda ingin mewujudkannya, Anda akan semakin membutuhkan produk saya," ujar Karp di acara DealBook Summit pada Desember 2025.

Pria berusia 58 tahun ini juga vokal menentang imigran dan perbatasan yang terbuka. Karp berulang kali memuji kebijakan imigrasi Presiden AS Donald Trump dan menawarkan jasa Palantir kepada Immigration and Customs Enforcement (ICE).

"Saya akan menggunakan seluruh pengaruh saya untuk memastikan negara ini tetap skeptis terhadap migrasi dan memiliki kapasitas pencegahan yang hanya digunakan secara selektif," kata Karp.

Pada Agustus 2025, ICE mengumumkan Palantir akan membangun platform pengawasan senilai USD 30 juta bernama ImmigrationOS untuk mendukung kebijakan deportasi massal.

(vmp/vmp)

TAGS

LIHAT LAINNYA