Kopi liberika dan harapan yang tumbuh di Padi Jaya - ANTARA News Kalimantan Barat

Pontianak (ANTARA) - Di antara hamparan kebun yang didominasi tanaman sawit, pinang, kelapa, dan karet, kopi liberika di Desa Padi Jaya, Kabupaten Kubu Raya, Kalimantan Barat, kini menjadi harapan baru.

Sebanyak 200 bibit kopi liberika dibawa Tim Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak ke desa yang menjadi salah satu kawasan penyangga Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK) Untan Pontianak tersebut.

Bibit itu bukan untuk menggantikan tanaman yang sudah tumbuh di kebun warga, melainkan menjadi tambahan dalam sistem agroforestri, pola pengelolaan lahan yang menggabungkan tanaman kehutanan dengan tanaman produktif masyarakat.

Ketua Pengabdian kepada Masyarakat (PKM) Fakultas Kehutanan Untan Pontianak Erianto mengatakan keberadaan KHDTK tidak boleh hanya dipandang sebagai kawasan pendidikan dan penelitian. Kawasan tersebut juga harus memberikan manfaat bagi masyarakat yang hidup di sekitarnya.

KHDTK Untan Pontianak memiliki fungsi pendidikan, penelitian, konservasi, dan pemberdayaan masyarakat. Karena itu, pengelolaannya memerlukan kerja sama antara perguruan tinggi, pemerintah desa, dan masyarakat sekitar.

Menurut Erianto, menjaga hutan tidak cukup hanya dengan membuat aturan perlindungan kawasan. Masyarakat yang tinggal di sekitar hutan juga perlu memiliki pilihan usaha yang dapat meningkatkan kesejahteraan tanpa menambah tekanan terhadap lingkungan.

"Konservasi harus beriringan dengan pemberdayaan. Masyarakat perlu mendapatkan manfaat dari keberadaan kawasan hutan, sehingga mereka juga memiliki rasa memiliki dan ikut menjaga kawasan tersebut," katanya.

Tim Fakultas Kehutanan Universitas Tanjungpura (Untan) Pontianak membawa program terkait kawasan penyangga Kawasan Hutan dengan Tujuan Khusus (KHDTK), di Desa Padi Jaya, KKR, Kamis (27/8/2026) (ANTARA/Dedi)

Perjalanan menuju Desa Padi Jaya memperlihatkan wajah pertanian masyarakat yang beragam. Di sepanjang jalan, terlihat kebun warga dengan berbagai tanaman produktif, mulai dari sawit, pinang, kelapa, hingga tanaman lainnya.

Bagi Erianto dan tim PKM Fakultas Kehutanan Untan Pontianak, kondisi tersebut menjadi modal penting dalam pengembangan kopi liberika. Pengembangan ekonomi masyarakat tidak selalu harus dilakukan dengan membuka lahan baru.

Tanaman produktif dapat dimasukkan ke dalam kebun yang sudah ada dengan tetap memperhatikan karakter tanah, tata air, tanaman penaung, serta kemampuan masyarakat dalam pemeliharaannya.

Pendekatan agroforestri menjadi pilihan karena memungkinkan petani mendapatkan hasil dari tanaman produktif sekaligus mempertahankan fungsi ekologis lahan.

Kopi liberika dipilih karena dinilai cukup adaptif terhadap kondisi lahan tertentu, termasuk kawasan rawa dan gambut. Namun, Erianto mengingatkan bahwa pengembangannya tidak bisa dilakukan secara instan.

"Bibit tidak cukup hanya dibagikan lalu ditanam. Harus dilihat kesesuaian lahannya, tinggi muka air, pola pemeliharaan, hingga kemampuan petani,"” ujarnya.

Hal itu penting karena sebagian wilayah Kalimantan Barat memiliki karakter lahan gambut yang membutuhkan pengelolaan hati-hati. Kesalahan pengelolaan dapat membuat tanaman tidak berkembang optimal sekaligus meningkatkan risiko kerusakan lingkungan.

Selain membawa bibit kopi liberika, kegiatan PKM Fakultas Kehutanan Untan Pontianak juga membawa pesan konservasi kepada masyarakat. Tim menyerahkan media edukasi berupa banner pencegahan pembakaran lahan serta poster satwa liar yang dilindungi di Kalimantan Barat. Materi tersebut akan ditempatkan di fasilitas publik seperti kantor desa, sekolah, dan pondok pesantren.

Pendidikan lingkungan, menurut tim, perlu menjangkau masyarakat luas, terutama generasi muda. Masyarakat perlu mengenal kekayaan hayati Kalimantan dan pentingnya menjaga satwa seperti orang utan, trenggiling, enggang, dan beruang madu yang menjadi bagian dari ekosistem.

Di kawasan gambut, persoalan kebakaran menjadi perhatian utama. Penggunaan api dalam pembukaan lahan dapat berdampak pada kawasan sekitar, kesehatan masyarakat, dan habitat satwa. Karena itu, tanaman produktif seperti kopi diharapkan dapat menjadi salah satu pilihan dalam pengelolaan lahan yang lebih ramah lingkungan.

Kegiatan di Desa Padi Jaya tidak berhenti pada penyampaian materi. Warga juga mengikuti praktik perbanyakan tanaman secara generatif maupun vegetatif, termasuk cangkok, okulasi, dan sambung pucuk.

Antusiasme terlihat ketika warga berdiskusi mengenai persoalan tanaman yang selama ini mereka hadapi. Mereka tidak hanya bertanya tentang kopi liberika, tetapi juga teknik memilih cabang tanaman, mata tunas, media cangkok, hingga cara meningkatkan keberhasilan penyambungan.

Perguruan tinggi membawa pengetahuan dan teknologi budidaya, sementara masyarakat memiliki pengalaman dalam membaca kondisi tanah, cuaca, dan karakter tanaman di wilayah mereka. Pertemuan keduanya menjadi bagian penting dalam proses pendampingan.

Harapan desa

Kepala Desa Padi Jaya, Yani Hartomo, menyambut baik program Fakultas Kehutanan Untan Pontianak. Menurut dia, masyarakat memiliki potensi lahan untuk mengembangkan kopi, tetapi masih menghadapi kendala, terutama keterbatasan modal, peralatan, dan kemampuan teknis.

"Kami sangat menyambut program ini karena bisa membantu masyarakat dan daerah. Kami berharap jika ada bantuan bibit kopi liberika lagi, masyarakat bisa mendapatkan bibit yang tersertifikasi karena kualitas buahnya lebih terjamin," ujar Yani.

Selama ini, sebagian masyarakat masih menggunakan bibit kopi kampung atau lokal yang hasil buahnya belum maksimal. Selain bantuan bibit, mereka juga berharap ada pendampingan berkelanjutan dan kerja sama dengan pihak luar.

Menurut Yani, masyarakat memiliki lahan tetapi masih kekurangan modal dan kemampuan teknis. Ia berharap investor kopi atau pelaku usaha seperti kafe di Pontianak mau melihat potensi desa dan bekerja sama sebagai sumber bahan baku.

Tren konsumsi kopi yang terus berkembang, menurutnya, menjadi peluang bagi masyarakat desa apabila mereka mampu menghasilkan produk berkualitas.

Bibit kopi liberika yang diserahkan kepada Desa Padi Jaya menjadi langkah awal pengembangan komoditas baru. Namun, keberhasilannya tidak hanya ditentukan oleh jumlah bibit yang ditanam. Pemantauan, pendampingan, pengolahan pascapanen, dan akses pasar akan menentukan apakah kopi tersebut benar-benar memberikan nilai tambah bagi masyarakat.

Perkembangan tanaman nantinya perlu dicatat, mulai dari lokasi tanam, pertumbuhan bibit, hingga kendala yang dihadapi petani. Jika mampu beradaptasi, pengembangan dapat dilanjutkan ke pembibitan, produksi, pengolahan, hingga pemasaran.

Pemberdayaan masyarakat tidak selesai ketika kegiatan pengabdian berakhir. Keberhasilannya justru akan terlihat ketika masyarakat mulai menerapkan pengetahuan yang diperoleh di kebun mereka sendiri.

Saat kegiatan berlangsung pada 27 Agustus 2026, warga Desa Padi Jaya turut menyajikan kopi robusta hasil produksi lokal kepada rombongan. Sajian sederhana itu menunjukkan bahwa masyarakat sebenarnya sudah memiliki hubungan dengan komoditas kopi.

Di kawasan penyangga KHDTK Untan, 200 bibit kopi liberika kini mulai ditanam. Harapannya, tanaman itu tidak hanya tumbuh di kebun warga, tetapi juga membuka peluang ekonomi dengan tetap menjaga kawasan hutan.

Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Kopi liberika dan harapan yang tumbuh di Padi Jaya

Pewarta: Dedi
Uploader : Admin Antarakalbar

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.