Langkah ini menunjukkan bahwa dalam industri pembiayaan digital, dugaan pelanggaran oleh seorang petugas penagihan tidak hanya dipandang sebagai persoalan individu. Perusahaan juga perlu memastikan apakah terdapat kelemahan dalam sistem pengawasan, penerapan SOP, maupun tata kelola penagihan yang perlu diperbaiki untuk menjaga perlindungan konsumen.
Ringkasan
KrediFazz menonaktifkan petugas penagihan yang diduga melanggar SOP dan kode etik berdasarkan hasil evaluasi internal sementara. Langkah tersebut diambil sebagai bagian dari mitigasi risiko sembari investigasi terus berjalan untuk memastikan seluruh fakta telah diverifikasi secara objektif.
Selain menonaktifkan petugas, perusahaan juga melakukan beberapa langkah lanjutan, antara lain:
melanjutkan investigasi internal;
berkoordinasi dengan OJK;
mengevaluasi mitra collection agency;
memperkuat mekanisme pengawasan penagihan;
memastikan seluruh tindak lanjut didasarkan pada fakta yang telah diverifikasi.
Berbeda dengan persepsi sebagian masyarakat yang menganggap penonaktifan identik dengan vonis bersalah, dalam praktik tata kelola perusahaan langkah tersebut justru lazim dilakukan ketika muncul dugaan pelanggaran serius. Tujuannya adalah meminimalkan risiko selama proses investigasi berlangsung sekaligus menjaga objektivitas evaluasi.
Berawal dari Kasus yang Viral di Media Sosial
Kasus ini bermula dari unggahan di media sosial yang menyebut seorang pengguna produk Pinjaman Tunai KrediFazz di Purworejo diduga mengalami perlakuan tidak pantas dari seorang oknum petugas penagihan.
Dalam unggahan yang kemudian viral tersebut disebutkan pengguna memiliki tunggakan. Setelah belum mampu melunasi pembayaran hingga batas waktu yang diberikan, oknum petugas penagihan diduga menawarkan pelunasan utang dengan syarat melakukan hubungan badan.
Unggahan itu memicu kecaman publik dan mendorong Kredivo memberikan tanggapan awal melalui media sosial. Namun, dalam media briefing bersama wartawan, perusahaan kemudian memberikan penjelasan yang lebih rinci mengenai perkembangan penanganan kasus.
Salah satu informasi penting yang disampaikan adalah posisi masing-masing pihak dalam kasus tersebut.
Perusahaan menjelaskan bahwa pengguna merupakan pengguna aplikasi Kredivo, sedangkan fasilitas pembiayaan yang menjadi objek penagihan adalah produk Pinjaman Tunai KrediFazz yang dipasarkan melalui aplikasi Kredivo. Adapun petugas yang bersangkutan merupakan petugas penagihan dari mitra collection agency yang mewakili KrediFazz.
Penjelasan tersebut menjadi penting karena memperjelas hubungan antara Kredivo sebagai platform dan KrediFazz sebagai penyedia produk pembiayaan yang sedang ditagihkan.
Mengapa Petugas Langsung Dinonaktifkan?
Salah satu perkembangan yang paling banyak menyita perhatian dalam media briefing adalah keputusan KrediFazz untuk menonaktifkan petugas penagihan yang diduga terlibat.
Anita Wijanto, Direktur Utama KrediFazz, menegaskan keputusan tersebut diambil berdasarkan hasil evaluasi internal sementara.
"Berdasarkan hasil evaluasi internal sementara, petugas penagihan terkait telah dinonaktifkan karena melakukan tindakan yang dinilai berisiko tinggi untuk melanggar standar operasional prosedur (SOP) dan kode etik yang berlaku," ujar Anita dalam media briefing di Jakarta, Senin, 27 Juli 2026.
Pernyataan itu mengandung dua poin penting.
Pertama, penonaktifan dilakukan berdasarkan hasil evaluasi awal, bukan setelah investigasi selesai.
Kedua, alasan penonaktifan bukan karena perusahaan telah menyimpulkan adanya pelanggaran, melainkan karena tindakan yang diduga dilakukan petugas dinilai memiliki risiko tinggi bertentangan dengan SOP dan kode etik perusahaan.
Dengan kata lain, keputusan tersebut merupakan langkah pengamanan agar proses investigasi dapat berjalan tanpa menimbulkan potensi persoalan baru.
Penonaktifan Bukan Berarti Investigasi Selesai
Salah satu kesalahpahaman yang sering muncul dalam kasus seperti ini adalah anggapan bahwa ketika seorang petugas dinonaktifkan, maka perusahaan telah menjatuhkan kesimpulan akhir.
Padahal, kondisi tersebut berbeda.
Dalam praktik tata kelola perusahaan, penonaktifan sementara merupakan bagian dari manajemen risiko. Langkah itu memberi ruang bagi perusahaan untuk melakukan investigasi secara independen tanpa adanya potensi konflik kepentingan maupun gangguan terhadap proses pendalaman fakta.
KrediFazz pun menegaskan bahwa seluruh keputusan akhir akan tetap didasarkan pada hasil investigasi yang menyeluruh.
Dalam lembar fakta yang dibagikan kepada media, perusahaan menyatakan seluruh tindak lanjut yang telah maupun akan dilakukan selalu mengacu pada fakta dan informasi yang telah diverifikasi.
Artinya, perusahaan tidak ingin mengambil keputusan hanya berdasarkan tekanan opini publik ataupun viralnya sebuah kasus.
Pendekatan tersebut juga menunjukkan adanya upaya menjaga keseimbangan antara perlindungan konsumen dan prinsip kehati-hatian dalam proses investigasi internal.
Langkah Cepat Dinilai Penting Menjaga Kepercayaan Publik
Di luar proses investigasi, keputusan menonaktifkan petugas juga memiliki makna yang lebih luas.
Dalam industri pembiayaan digital, petugas penagihan merupakan pihak yang paling sering berinteraksi langsung dengan pengguna. Cara mereka berkomunikasi dan menjalankan proses penagihan kerap menjadi wajah perusahaan di mata masyarakat.
Karena itu, ketika muncul dugaan pelanggaran oleh seorang petugas, dampaknya tidak hanya berhenti pada individu yang bersangkutan. Kepercayaan publik terhadap perusahaan maupun industri pembiayaan digital secara keseluruhan juga dapat ikut terpengaruh.
Hal inilah yang menjadi salah satu alasan KrediFazz memilih mengambil langkah cepat sembari tetap melanjutkan investigasi.
Dalam lembar fakta, perusahaan menegaskan bahwa kejadian yang sedang diusut tersebut tidak mencerminkan standar praktik penagihan yang selama ini diterapkan.
"Kejadian seperti yang diberitakan tidak mencerminkan standar dan praktik penagihan yang dijalankan selama ini. Untuk itu, perusahaan akan menyelesaikannya secara tuntas karena hal ini menyangkut kepercayaan masyarakat terhadap KrediFazz, Kredivo, dan industri pembiayaan digital secara keseluruhan," ujar Indina Andamari, Head of Marketing Kredivo.
Pernyataan tersebut mengindikasikan bahwa fokus perusahaan tidak hanya menyelesaikan satu kasus, tetapi juga memastikan kepercayaan masyarakat terhadap layanan pembiayaan digital tetap terjaga. Dalam konteks tata kelola, langkah ini menjadi sinyal bahwa dugaan pelanggaran oleh individu tidak boleh dibiarkan berkembang menjadi persoalan sistemik yang berpotensi merusak reputasi perusahaan maupun industri secara lebih luas.
Baca Juga: Apa Itu PayLater? Pengertian, Cara Menggunakan, dan Tips Bijak Agar Terhindar dari Utang
Baca Juga: Gen Z Sulit Mengelola Keuangan? FOMO, Flash Sale, dan Paylater Jadi Penyebab Utamanya
KrediFazz Evaluasi Mitra Collection Agency Setelah Kasus Mencuat
Selain menonaktifkan petugas penagihan yang diduga melanggar SOP, KrediFazz juga mengarahkan evaluasi pada aspek yang lebih luas, yakni mekanisme pengawasan terhadap mitra collection agency. Langkah ini menjadi penting mengingat petugas yang bersangkutan bukan merupakan karyawan internal, melainkan berasal dari perusahaan mitra yang menjalankan fungsi penagihan atas nama KrediFazz.
Dalam industri pembiayaan digital, penggunaan collection agency merupakan praktik yang lazim dilakukan untuk menangani akun-akun yang mengalami keterlambatan pembayaran. Namun, meskipun proses penagihan dilakukan oleh pihak ketiga, tanggung jawab untuk memastikan praktik penagihan tetap sesuai regulasi dan kode etik tetap berada di tangan perusahaan pembiayaan.
Karena itu, KrediFazz menilai evaluasi tidak cukup berhenti pada individu yang diduga melakukan pelanggaran.
Anita mengatakan perusahaan kini tengah melakukan evaluasi bersama mitra collection agency terkait.
"KrediFazz tengah melakukan evaluasi bersama mitra collection agency terkait untuk memperkuat kebijakan, mekanisme pengawasan, serta penerapan praktik penagihan sesuai standar dan regulasi yang berlaku," ujar Anita.
Evaluasi tersebut mencakup berbagai aspek, mulai dari implementasi SOP di lapangan, mekanisme pengawasan terhadap petugas penagihan, hingga efektivitas sistem pelaporan apabila ditemukan dugaan pelanggaran.
Langkah ini menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya berupaya menyelesaikan satu kasus, tetapi juga mengidentifikasi apakah terdapat kelemahan dalam sistem pengawasan yang perlu diperbaiki.
Koordinasi dengan OJK Dilakukan Sejak Awal Penanganan
Perkembangan lain yang diungkap dalam media briefing adalah langkah perusahaan yang sejak awal memilih berkoordinasi dengan Otoritas Jasa Keuangan (OJK).
Berdasarkan lembar fakta, KrediFazz dan Kredivo memperoleh informasi mengenai dugaan kejadian tersebut pada 21 Juli 2026. Sehari kemudian, perusahaan langsung menyampaikan laporan tertulis kepada OJK.
Tidak berhenti di situ, pada 23 Juli 2026 kedua perusahaan juga melakukan audiensi dengan regulator untuk memaparkan perkembangan penanganan kasus.
Dalam pertemuan tersebut, perusahaan menjelaskan kronologi kejadian, hasil pendalaman awal, langkah yang telah diambil, hingga rencana memperkuat sistem pengawasan penagihan.
Indina menegaskan koordinasi dengan regulator merupakan bagian dari komitmen perusahaan menjalankan praktik pembiayaan yang bertanggung jawab.
"Kami memahami perhatian publik terhadap isu ini dan memastikan bahwa setiap langkah yang diambil maupun akan diambil didasarkan pada hasil investigasi yang komprehensif, objektif, dan faktual," kata Indina.
Ia menambahkan bahwa seluruh kesimpulan maupun tindak lanjut akan disampaikan kepada publik setelah proses evaluasi selesai dilakukan.
Langkah tersebut memperlihatkan bahwa penanganan kasus tidak hanya dilakukan melalui mekanisme internal perusahaan, tetapi juga berada dalam pengawasan regulator yang memiliki kewenangan mengawasi industri pembiayaan.
Perdamaian Tidak Menghentikan Pendalaman Internal
Salah satu fakta yang menarik perhatian dalam kasus ini adalah keputusan KrediFazz dan Kredivo untuk tetap melanjutkan investigasi meski pengguna dan petugas penagihan telah mencapai kesepakatan damai.
Dalam lembar fakta disebutkan bahwa Polres Purworejo memfasilitasi mediasi antara kedua belah pihak pada 22 Juli 2026. Berdasarkan informasi yang diterima perusahaan, juga tidak terdapat laporan polisi resmi yang diajukan terkait dugaan tersebut.
Meski demikian, perusahaan menegaskan proses pendalaman internal tetap berjalan.
"Meskipun pengguna dan petugas penagihan terkait sudah berdamai melalui mediasi dari pihak berwajib yaitu Polres Purworejo, Kredivo dan KrediFazz tetap melanjutkan pendalaman internal sebagai bagian dari komitmen kami untuk memahami secara menyeluruh seluruh fakta dan informasi terkait kejadian ini," kata Indina.
Pernyataan tersebut mempertegas bahwa penyelesaian damai tidak otomatis mengakhiri evaluasi internal perusahaan. Investigasi tetap diperlukan untuk memastikan apakah terdapat pelanggaran terhadap SOP, kode etik, maupun ketentuan regulator.
Mengapa Langkah Ini Penting bagi Perlindungan Konsumen?
Di balik keputusan menonaktifkan petugas penagihan dan mengevaluasi collection agency, terdapat pesan yang lebih besar mengenai arah tata kelola industri pembiayaan digital.
Selama ini, ketika muncul kasus yang melibatkan debt collector, perhatian publik umumnya tertuju pada tindakan individu yang diduga melakukan pelanggaran. Padahal, persoalan yang tidak kalah penting adalah bagaimana perusahaan merespons dugaan tersebut melalui perbaikan sistem.
Kasus di Purworejo menunjukkan bahwa perusahaan tidak hanya fokus pada penyelesaian sengketa, tetapi juga berupaya memperkuat mekanisme pengawasan agar proses penagihan berjalan sesuai prinsip perlindungan konsumen.
Pendekatan seperti ini menjadi penting karena kepercayaan masyarakat terhadap layanan pembiayaan digital tidak hanya ditentukan oleh kemudahan memperoleh pinjaman atau bertransaksi, tetapi juga oleh bagaimana perusahaan menangani keluhan dan dugaan pelanggaran yang terjadi di lapangan.
Bagi KrediFazz, evaluasi terhadap petugas penagihan, mitra collection agency, hingga penguatan SOP merupakan bagian dari upaya menjaga standar layanan yang selama ini diterapkan.
Hal tersebut juga tercermin dari pernyataan perusahaan yang menegaskan akan terus memperkuat pengawasan terhadap seluruh aktivitas penagihan, baik yang dilakukan secara internal maupun melalui mitra, agar seluruh proses berjalan profesional, beretika, mematuhi ketentuan yang berlaku, serta mengedepankan prinsip perlindungan konsumen.
Pada akhirnya, perkembangan terbaru dalam kasus ini bukan hanya soal penonaktifan seorang petugas penagihan. Yang lebih penting adalah bagaimana langkah tersebut menjadi momentum bagi perusahaan untuk mengevaluasi tata kelola penagihan secara menyeluruh. Di tengah meningkatnya penggunaan layanan pembiayaan digital, penguatan pengawasan terhadap proses penagihan menjadi salah satu faktor yang akan menentukan tingkat kepercayaan masyarakat terhadap industri di masa mendatang.
Baca Juga: Volume Transaksi Kredivo Ramadan Naik 27 Persen, Paylater Semakin Jadi Pola Baru Cara Belanja Masyarakat
Baca Juga: Literasi Jadi Kunci, Kredivo Perkuat Ekosistem Keuangan Digital
FAQ
Apa alasan KrediFazz menonaktifkan debt collector yang diduga melanggar SOP?
KrediFazz menonaktifkan sementara petugas penagihan yang bersangkutan berdasarkan hasil evaluasi internal awal. Menurut Anita Wijanto, Direktur Utama KrediFazz, langkah tersebut diambil karena petugas dinilai melakukan tindakan yang berisiko tinggi melanggar standar operasional prosedur (SOP) dan kode etik perusahaan. Penonaktifan dilakukan sebagai bagian dari mitigasi risiko sambil menunggu hasil investigasi yang lebih komprehensif.
Apakah debt collector tersebut sudah dinyatakan bersalah?
Belum. KrediFazz menegaskan bahwa penonaktifan sementara bukan merupakan keputusan akhir atau bentuk vonis terhadap petugas yang bersangkutan. Perusahaan masih melakukan investigasi internal untuk memverifikasi seluruh fakta dan informasi yang berkaitan dengan dugaan pelanggaran sebelum menentukan tindak lanjut berikutnya.
Mengapa investigasi tetap berjalan meski pengguna dan petugas penagihan sudah berdamai?
Menurut KrediFazz dan Kredivo, penyelesaian damai melalui mediasi tidak menghentikan proses evaluasi internal perusahaan. Investigasi tetap diperlukan untuk memastikan apakah terjadi pelanggaran terhadap SOP, kode etik, maupun regulasi yang berlaku. Hasil investigasi juga akan menjadi dasar dalam menentukan langkah perbaikan agar kejadian serupa tidak terulang.
Apa langkah yang dilakukan KrediFazz setelah kasus ini mencuat?
Selain menonaktifkan petugas penagihan yang diduga terlibat, KrediFazz telah melakukan evaluasi terhadap mitra collection agency, melaporkan perkembangan kasus kepada OJK bersama Kredivo, memperkuat mekanisme pengawasan penagihan, serta berkomitmen menjalankan seluruh tindak lanjut berdasarkan hasil investigasi yang objektif dan terverifikasi.
Apa itu collection agency dalam industri pembiayaan digital?
Collection agency adalah perusahaan mitra yang ditunjuk oleh lembaga pembiayaan untuk membantu proses penagihan kepada pengguna yang mengalami keterlambatan pembayaran. Meskipun penagihan dilakukan oleh pihak ketiga, perusahaan pembiayaan tetap bertanggung jawab memastikan seluruh aktivitas penagihan berlangsung sesuai regulasi, SOP, dan prinsip perlindungan konsumen.
Apa peran OJK dalam penanganan kasus ini?
OJK berperan sebagai regulator yang mengawasi industri pembiayaan. Dalam kasus ini, KrediFazz dan Kredivo telah menyampaikan laporan kepada OJK serta melakukan audiensi untuk memaparkan kronologi, hasil pendalaman awal, langkah penanganan, dan rencana penguatan pengawasan. Koordinasi tersebut dilakukan sebagai bentuk kepatuhan terhadap regulasi dan komitmen menjaga praktik pembiayaan yang bertanggung jawab.
Apa dampak kasus ini bagi pengguna layanan KrediFazz dan Kredivo?
Bagi pengguna, langkah yang diambil perusahaan menunjukkan adanya upaya memperkuat perlindungan konsumen melalui evaluasi SOP, pengawasan terhadap mitra collection agency, dan investigasi terhadap dugaan pelanggaran. Ke depan, perusahaan menyatakan akan meningkatkan pengawasan agar seluruh proses penagihan berjalan secara profesional, beretika, dan sesuai dengan ketentuan yang berlaku.