Krisis energi memburuk, Kuba kembali alami pemadaman listrik

Kuba kembali mengalami pemadaman listrik berskala nasional setelah jaringan listrik kolaps pada Minggu (2/8) malam waktu setempat. Insiden tersebut membuat sekitar 10 juta penduduk kehilangan aliran listrik dan memperpanjang krisis energi yang terus memburuk.

Melansir Reuters, Selasa (4/8) kolapsnya sistem kelistrikan ini menjadi pemadaman nasional keempat yang terjadi dalam kurun sekitar satu bulan. Hal tersebut dikarenakan Kuba telah lama bergantung pada pembangkit listrik berusia tua dan pasokan bahan bakar dari luar negeri.

Operator listrik milik negara, Union Electrica de Cuba, mengumumkan melalui media sosial bahwa sistem kelistrikan nasional mengalami kegagalan. Namun, hingga kini belum ada penjelasan lebih lanjut mengenai penyebab pasti runtuhnya jaringan tersebut.

Tekanan terhadap sistem kelistrikan Kuba terus meningkat seiring sulitnya negara tersebut memperoleh impor bahan bakar. Kondisi itu membuat pembangkit listrik kesulitan beroperasi secara optimal dan memicu pemadaman yang semakin sering terjadi dalam beberapa bulan terakhir.

Krisis energi tersebut diperburuk setelah Kuba kehilangan salah satu sumber utama pasokan minyak akibat blokade yang diberlakukan Amerika Serikat di bawah pemerintahan Presiden Donald Trump. Kebijakan itu diterapkan setelah tergulingnya Presiden Venezuela Nicolas Maduro pada 3 Januari 2026.

Selama bertahun-tahun, Venezuela menjadi pemasok minyak terbesar bagi Kuba. Sementara itu, pasokan minyak dari Meksiko juga terhenti di tengah meningkatnya tekanan dari Washington, sehingga mempersempit sumber energi yang dapat diandalkan Havana.

Di tengah keterbatasan tersebut, pemerintah Kuba mulai membuka sektor energinya secara bertahap. Saat ini Kuba mengizinkan proyek impor bahan bakar pertama yang didukung investor asing dan memberikan izin kepada hampir 200 perusahaan Kuba untuk ikut mendistribusikan bahan bakar secara grosir.

Langkah tersebut diharapkan dapat membantu mengurangi krisis pasokan energi yang berkepanjangan. Namun, dengan infrastruktur pembangkit yang sudah menua dan pasokan bahan bakar yang masih terbatas, Kuba diperkirakan masih akan menghadapi risiko pemadaman listrik dalam waktu mendatang.