Kudus anggarkan Rp4,9 miliar untuk perbaiki Jembatan Kesambi penyebab banjir
Kamis, 27 Agustus 2026 20:37 WIB
Perbaikan Jembatan Kesambi di Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, karena konstruksi jembatan dinilai menjadi salah penyebab banjir ketika debit air sungai meningkat. ANTARA/Akhmad Nazaruddin Lathif
Kudus, Jawa Tengah (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kudus, Jawa Tengah, menganggarkan dana Rp4,9 miliar untuk merevitalisasi Jembatan Kesambi di Desa Kesambi, Kecamatan Mejobo, karena konstruksi jembatan menjadi salah penyebab banjir ketika debit air sungai meningkat.
"Jembatan tersebut memiliki pilar di bagian tengah yang kerap menjadi tempat tersangkutnya sampah, seperti batang bambu ketika aliran sungai meningkat, sehingga mengakibatkan air melimpas dan terjadi banjir," kata Kepala Dinas Pekerjaan Umum dan Penataan Ruang (PUPR) Kabupaten Kudus Harry Wibowo di Kudus, Jateng, Kamis.
Selain persoalan konstruksi, kata dia, usia jembatan juga sudah 20-an tahun menjadi pertimbangan Pemkab Kudus untuk dilakukan revitalisasi.
Nantinya, kata dia, konstruksi jembatan akan diubah sehingga tidak lagi menggunakan pilar di tengah.
Dengan demikian, aliran air sungai di bawah jembatan diharapkan lebih lancar dan risiko terjadinya luapan air dapat ditekan.
Harry menambahkan sejumlah jembatan lain di sekitar lokasi juga membutuhkan perhatian. Namun, sebagian di antaranya berada pada ruas jalan desa sehingga perbaikannya dapat dilakukan pemerintah desa dengan dukungan pemkab. Sedangkan jembatan nomor 10 merupakan jalan kabupaten.
Selain mengubah konstruksi, jembatan tersebut juga dibuat lebih lebar agar bisa dilalui kendaraan dari dua arah sehingga arus lalu lintas masyarakat menjadi lebih lancar.
Sementara itu, Kepala Bidang Bina Marga Dinas PUPR Kudus Supriyadi menambahkan pembangunan jembatan tersebut menggunakan anggaran dana bagi hasil cukai hasil tembakau (DBHCHT) tahun anggaran 2026.
Berdasarkan kontrak, pekerjaan pembangunan jembatan dikerjakan selama empat bulan, mulai 27 Juli 2026 dan selesai pada 23 November 2026.
Supriyadi menjelaskan jembatan lama memiliki panjang 12 meter dan lebar 3 meter dengan konstruksi IWF biasa. Sementara jembatan baru akan menggunakan konstruksi gelagar fabrikasi (welded built-up girder) dengan mutu 345 MPa.
Gelagar jembatan baru memiliki panjang 15 meter tanpa pilar di tengah, sedangkan lebar lantai jembatan diperbesar menjadi 8 meter.
"Konstruksi bangunan juga dibuat lebih tinggi 1 meter dibandingkan bangunan awal, sehingga ketika debit puncak air sungai dipastikan tidak menyentuh lantai jembatan sehingga air sungai juga tidak mudah limpas," ujarnya.
Menurut dia, pengalaman sebelumnya menunjukkan bahwa ketika terjadi cuaca ekstrem, luapan arus sungai kerap melimpas mencapai badan jembatan lama hingga menutup akses transportasi warga.
Peninggian konstruksi tersebut, diharapkan dapat memberi ruang aman bagi aliran air sekaligus menjaga akses transportasi masyarakat tetap dapat dilalui saat terjadi peningkatan debit air.
Terkait progres pengerjaan, Supriyadi mengakui sempat terjadi deviasi negatif sebesar 3,8 persen dari target rencana 4,4 persen. Kondisi tersebut terjadi akibat proses pergeseran pipa PDAM dan jaringan listrik di sekitar area konstruksi.
Pewarta: Akhmad Nazaruddin
Editor:
Heru Suyitno
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.