Langkah primer, sekunder, tersier cegah risiko paparan asap karhutla

Jakarta (ANTARA) - Dokter spesialis paru dan pernapasan Dr. dr. Feni Fitriani Taufik, Sp.P(K), M.Pd.Ked menyampaikan langkah pencegahan primer, sekunder, dan tersier bisa dilakukan untuk membantu mengurangi risiko penyakit dari paparan asap kebakaran hutan dan lahan (karhutla).

Menurut Feni, pencegahan primer artinya mencegah supaya pajanan asap karhutla itu tidak terjadi, terutama melalui penanganan sumber kebakarannya harus segera diatasi, sementara masyarakat di sekitar lokasi perlu meminimalkan risiko terpapar asap kebakaran.

“Caranya seperti apa? Hindari aktivitas di luar rumah karena polusi akibat asap kebakaran itu tentu akan lebih besar konsentrasinya ada di luar rumah. Kalau pun harus keluar rumah, gunakan masker jenis apa pun tetap ada faktor perlindungannya dibanding tidak menggunakan masker sama sekali,” kata Feni kepada ANTARA di Jakarta, Rabu.

Dosen di Departemen Pulmonologi dan Kedokteran Respirasi Fakultas Kedokteran Universitas Indonesia itu menyarankan jika memang harus beraktivitas keluar rumah, lakukan dengan perhitungan yang tepat, waktu yang sesingkat mungkin, dan proteksi yang semaksimal.

Selain memakai masker, perlindungan juga perlu dilengkapi dengan kacamata agar mata tidak mengalami iritasi serta menggunakan pakaian yang melindungi seluruh tubuh.

Sementara itu, saat berada di rumah sebaiknya tutup rapat jendela dan pintu agar asap kebakaran tidak masuk dan menjadi polusi udara di dalam rumah.

“Di dalam rumah sendiri jangan menambah polusi udara, misalnya tidak merokok di dalam rumah, tidak menyalakan lilin atau obat nyamuk bakar di dalam rumah karena konsentrasi polusi di dalam rumah, udara di dalam rumah akan meningkat dengan melakukan kegiatan tersebut,” ujar Feni.

Pada pencegahan sekunder, lanjut Feni, dilakukan untuk mencegah supaya yang terpajan tidak menjadi sakit, apabila asap kebakaran hutan itu belum sepenuhnya dapat dikendalikan. Dalam hal ini, masyarakat perlu memperhatikan gejala-gejala yang mengarah pada perburukan hingga menyiapkan obat pertolongan pertama di rumah.

“Segera ke dokter atau fasilitas kesehatan jika keluhan yang tadi belum ada perbaikan,” ujar dia.

Kemudian pencegahan tersiernya, Feni menyarankan, apabila sudah terkena dampak paparan asap karhutla harus dirawat atau dapat obat-obat tambahan sesuai anjuran dokter. Pasien yang terdampak ini juga harus benar-benar memperhatikan pengobatan dan kesehatannya.

Ia mengingatkan kebiasaan yang tidak sehat dihindarkan, terutama merokok sebaiknya dihentikan bukan hanya pada saat karhutla ini terjadi tetapi untuk seterusnya.

Feni menekankan hal utama yang perlu dilakukan masyarakat tetap menjaga pola hidup bersih dan sehat. Upaya tersebut mencakup istirahat yang cukup, mengelola stres yang muncul selama situasi karhutla, memperbanyak mengonsumsi air putih, dan makan makanan yang bergizi sebisa mungkin.

“Artinya dengan mempertahankan pola hidup bersih dan sehat ini mudah-mudahan daya tahan tubuh masih bisa dioptimalkan sehingga tidak terlalu terdampak dengan efek kebakaran hutan tersebut,” kata dr. Feni, yang berpraktik di RSUP Persahabatan, Jakarta Timur.

Feni juga menambahkan upaya sinergi mencegah efek karhutla yang berisiko pada kesehatan, seperti perlu menghentikan kebiasaan individu yang membakar sampah hingga penyediaan shelter penampungan yang menjamin dengan udara yang lebih bersih juga dapat menjadi solusi untuk melindungi warga terdampak.

Sebelumnya, Kementerian Kesehatan menyampaikan bahwa hingga Jumat (21/8) kebakaran hutan dan lahan telah berdampak ke 87 kabupaten/kota di wilayah Provinsi Jambi, Riau, Sumatera Selatan, Kalimantan Barat, Kalimantan Tengah, Kalimantan Selatan, dan Kalimantan Timur.

Akibatnya, sekitar tiga juta warga di 37 kabupaten/kota terpapar kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan.

Paparan partikel halus PM2,5 dalam asap karhutla yang dapat masuk ke saluran pernapasan dan meningkatkan risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut (ISPA).