Mahasiswa Universitas Malahayati beri edukasi siswa SD cegah perundungan
Minggu, 9 Agustus 2026 14:50 WIB
Mahasiswa Kuliah Kerja Lapangan–Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKL-PPM) Universitas Malahayati saat memberikan edukasi pencegahan perundungan kepada siswa SDN 5 Metro Selatan, Kota Metro, Lampung. (ANTARA/HO/KKL-PPM Universitas Malahayati)
Lampung (ANTARA) - Mahasiswa Kuliah Kerja Lapangan–Pembelajaran Pemberdayaan Masyarakat (KKL-PPM) Universitas Malahayati memberikan edukasi pencegahan perundungan kepada siswa SDN 5 Metro Selatan, Kota Metro, Lampung, sebagai upaya membangun lingkungan pendidikan yang aman dan ramah anak.
Ketua Tim KKL-PPM Kelompok 97 Universitas Malahayati Rizky Firmansyah sebagaimana dikonfirmasi di Bandarlampung, Minggu, mengatakan kegiatan tersebut merupakan bentuk kepedulian mahasiswa terhadap lingkungan pendidikan, khususnya dalam membangun kesadaran siswa untuk saling menghargai.
“Program ini tidak hanya memberikan pemahaman mengenai bullying, tetapi juga mengajarkan siswa bagaimana mengenali, mengendalikan, dan menyampaikan emosinya dengan cara yang positif,” kata dia.
Menurut dia, pengetahuan yang diperoleh siswa diharapkan dapat menjadi pondasi dalam membentuk generasi yang cerdas, ramah, dan mampu menghindari berbagai bentuk kekerasan maupun kenakalan remaja.
Perundungan di lingkungan sekolah dasar masih menjadi tantangan karena tindakan seperti mengejek, memberikan julukan negatif, atau mengucilkan teman kerap dianggap sebagai candaan oleh anak-anak.
Padahal, perilaku tersebut dapat berdampak terhadap kondisi psikologis korban, rasa percaya diri, serta konsentrasi dalam mengikuti proses pembelajaran.
Sementara itu, Kepala SDN 5 Metro Selatan Dwi Jayanti menyambut positif kegiatan yang digelar mahasiswa Universitas Malahayati tersebut.
“Edukasi mengenai pencegahan perundungan dan pengenalan emosi ini sangat krusial bagi anak-anak usia sekolah dasar. Kami berharap kegiatan ini dapat membangun kesadaran para siswa agar saling menghargai dan menciptakan suasana sekolah yang ramah anak,” ujarnya.
Perwakilan dewan guru SDN 5 Metro Selatan Defi Meliyana mengatakan metode simulasi yang digunakan dalam kegiatan tersebut membantu siswa memahami perbedaan antara candaan dan tindakan yang sudah masuk kategori perundungan.
“Terkadang anak-anak tidak sadar kalau ejekan mereka menyakiti perasaan temannya. Dengan simulasi peran ini, kami di dewan guru jadi lebih mudah mengarahkan siswa saat terjadi kesalahpahaman di kelas,” katanya.
Dalam kegiatan tersebut, siswa juga diberikan ruang untuk mengungkapkan pengalaman dan perasaan mereka selama berinteraksi dengan teman di lingkungan sekolah.
Selain mengenali bentuk-bentuk perundungan, mahasiswa mengajarkan teknik pengendalian emosi dasar ketika menghadapi konflik, antara lain mengelola rasa marah, melakukan teknik pernapasan untuk menenangkan diri, serta menyampaikan perasaan secara santun tanpa kekerasan.
Salah seorang siswa kelas V berinisial N (11) mengaku mendapatkan pemahaman baru mengenai cara menghadapi ejekan dari teman.
“Dulu kalau diejek dan diberi panggilan nama aneh-aneh, saya cuma bisa diam dan sering takut mau sekolah. Setelah ikut kegiatan ini, saya jadi tahu cara menenangkan diri dan berani bilang ke guru kalau ada yang mengganggu,” ujar dia.
Sementara, siswa kelas IV berinisial R (10), mengaku pernah mengejek temannya, mengatakan simulasi membuat dirinya memahami dampak perilaku tersebut terhadap perasaan orang lain.
“Awalnya saya pikir cuma bercanda biasa. Setelah melihat simulasi, ternyata teman saya bisa sedih dan menangis. Saya tidak mau mengejek lagi dan mau meminta maaf kepada teman-teman,” ucapnya.
Mahasiswa KKL-PPM Universitas Malahayati bersama pihak sekolah berharap edukasi tersebut dapat menjadi langkah awal dalam membangun budaya bebas perundungan secara berkelanjutan.
Upaya tersebut diharapkan mampu menciptakan iklim pendidikan yang aman, inklusif, dan menyenangkan sehingga siswa dapat tumbuh dan berkembang secara optimal, baik dari sisi akademik maupun sosial dan emosional.
Pewarta : Riadi Gunawan
Editor:
Citro Atmoko
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.