Liputan6.com, Jakarta - Malaysia bersiap memasuki babak baru industri kendaraan listrik (electric vehicle/EV) dengan memulai produksi baterai lithium-ion berbasis graphene pada bulan ini. Langkah tersebut menjadi bagian dari strategi negara tersebut untuk memperkuat rantai pasok kendaraan listrik sekaligus mengurangi ketergantungan terhadap produk impor.
Dilansir dari Paultan, baterai terbaru itu dikembangkan oleh NanoMalaysia melalui anak usahanya, Gigafactory Malaysia.
Fasilitas tersebut diklaim menjadi pabrik pertama di Malaysia yang memproduksi teknologi baterai hasil pengembangan dalam negeri dan ditargetkan dapat melayani kebutuhan pasar ASEAN.
Chief Executive Officer (CEO) NanoMalaysia, Rezal Khairi Ahmad, mengatakan proyek ini menjadi tonggak penting bagi pengembangan ekosistem kendaraan listrik nasional.
Menurutnya, Malaysia kini hampir mengoperasikan fasilitas produksi baterai lokal pertama yang memanfaatkan teknologi buatan dalam negeri.
Bahkan, proyek tersebut disebut berpotensi menjadi yang pertama di kawasan ASEAN dengan teknologi baterai yang dikembangkan secara mandiri.
Berbeda dari baterai lithium-ion konvensional, produk terbaru NanoMalaysia menggunakan kimia nikel mangan kobalt (NMC) dan memanfaatkan material graphene sebagai pengganti grafit pada elektroda negatif.
Penggunaan graphene diklaim mampu meningkatkan kapasitas penyimpanan energi hingga tiga kali lipat dibandingkan baterai lithium-ion berbasis grafit.
Selain itu, baterai ini diproyeksikan mampu memberikan jarak tempuh hingga 640 kilometer dalam sekali pengisian daya. Teknologi pengisian cepat juga telah disematkan dengan target kepadatan energi melebihi 200 Wh/kg.
Meski demikian, perusahaan belum mengungkap kapasitas baterai secara rinci maupun model kendaraan yang digunakan sebagai acuan pengujian performa tersebut.