Mata Air Kali Wonosari menjadi penopang di tengah kekeringan Gunungkidul - ANTARA News Megapolitan

Yogyakarta (ANTARA) - Di kawasan perbukitan Dusun Duwet, Kalurahan Purwodadi, Kapanewon Tepus, Kabupaten Gunungkidul, terdapat sebuah mata air yang oleh warga setempat dikenal sebagai thuk Kali Wonosari.

Area mata air ini cukup luas. Namun, saat musim kemarau tiba, debit airnya menyusut drastis hingga nyaris mengering. 

Mata air tersebut bukanlah sumber air yang jernih sebagaimana yang kerap tergambar dalam iklan air minum. Secara kasatmata, airnya tampak keruh, jauh dari kesan bening. Meski demikian, bagi warga sekitar, mata air itu menjadi penopang utama kehidupan ketika kekeringan melanda.

Setiap musim kemarau, lokasi itu selalu ramai didatangi warga. Mereka datang membawa jeriken maupun galon bekas air mineral untuk diisi dan dibawa pulang. Aktivitas yang telah berlangsung turun-temurun itu dikenal dengan sebutan ngangsu banyu.

Di sebuah sudut kolam mata air itu berdiri dua bilik mandi sederhana yang terbuat dari semen tanpa atap dan tanpa cat. Bilik laki-laki dan perempuan hanya dipisahkan tembok setinggi sekitar dua meter. Untuk mandi, warga harus menimba air menggunakan ember yang diikat dengan tali agar dapat menjangkau permukaan air di dasar kolam.

Meski airnya keruh, warga menganggap mata air Kali Wonosari sebagai oase di tengah kekeringan. Hampir setiap hari tempat itu tak pernah sepi, terutama ketika musim kemarau mulai memicu krisis air bersih.

Warga rela antre demi mendapatkan air. Ada yang memodifikasi sepeda motor untuk mengangkut jeriken, ada pula yang menggendong galon menggunakan jarik (kain batik panjang), pemandangan yang masih lazim dijumpai di pedesaan Gunungkidul.
 

Ngangsu banyu

Di bawah rindangnya pohon ketos, laban, dan munggur yang mengelilingi kolam, Wiwin (30) tampak menggendong galon bekas air mineral menggunakan jarik. Dengan langkah hati-hati, dia menuruni tebing menuju sumber air, lalu mengisi galon tersebut dari kubangan kecil. Dari sela-sela bebatuan, air mengalir perlahan melalui bambu yang dibelah sebagai saluran sederhana.

"Sudah dari dulu, sejak zaman nenek moyang, warga di sini ngangsu banyu karena setiap musim kemarau air pasti susah," kata Wiwin sembari mengencangkan jarik yang melilit tubuhnya.

Sejak Mei, ketika tempat tinggalnya mulai kekurangan air, Wiwin bolak-balik empat hingga lima kali sehari dari rumah menuju mata air Kali Wonosari untuk mengambil air.

Biasanya, ia berangkat pukul 05.00 WIB sebelum memulai aktivitas sehari-hari. Air yang dibawanya digunakan untuk memasak dan memenuhi kebutuhan rumah tangga. Jarak mata air itu sekitar dua kilometer dari tempat tinggalnya.

"Hampir setiap hari saya membawa jeriken dan galon bekas air mineral, naik turun ke sini untuk memenuhi kebutuhan air di rumah," ujarnya.

Apabila persediaan air di rumah menipis, Wiwin juga kerap datang pada malam hari untuk mengambil air.

Warga Dusun Duwet lainnya, Wahyu (34), juga menggantungkan kebutuhan air keluarganya pada air mata itu. Ia bergantian mengantre bersama warga lain sambil membawa dua jeriken berkapasitas masing-masing 30 liter.

"Saya bawa dua jeriken, diangkut pakai motor yang bagian belakangnya sudah dimodifikasi," katanya.

Menurut Wahyu, tradisi ngangsu banyu hanya dilakukan saat musim kemarau, terutama ketika kekeringan melanda. Ketika musim hujan, kebutuhan air warga umumnya tercukupi melalui penampungan air hujan yang dimiliki hampir setiap rumah.
 

Bertahan di tengah krisis air

Sebagian besar desa di Kapanewon Tepus merasakan dampak kekeringan setiap musim kemarau. Warga memanfaatkan mata air yang masih tersisa sebelum benar-benar mengering.

Di sejumlah wilayah, jaringan Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) juga belum menjangkau seluruh permukiman. Sebagian warga akhirnya memilih membeli air bersih dari penyedia jasa truk tangki.

"Itu pun harus mengantre. Waktu tunggunya bisa sampai dua minggu," kata Wiwin.

Karena itu, meskipun tampak keruh, air dari thuk Kali Wonosari tetap menjadi penolong bagi warga. Sebelum dikonsumsi, air tersebut terlebih dahulu direbus dan disaring untuk mengurangi endapan.

"Nanti biasanya bulan Agustus sampai September warga yang mengambil air akan semakin banyak, sementara debit airnya justru semakin menipis," ujarnya.
 

Upaya mengatasi kekeringan

Pemerintah Kabupaten Gunungkidul melalui Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) terus berupaya menangani dampak kekeringan yang terjadi di sejumlah wilayah.

Kepala BPBD Gunungkidul Purwono mengatakan hingga saat ini pihaknya telah menyalurkan 636 ribu liter air bersih ke berbagai daerah terdampak.

"Itu baru dari BPBD. Dropping air juga dilakukan oleh pemerintah kapanewon masing-masing, tetapi datanya belum seluruhnya kami terima," katanya. Kapanewon merupakan daerah setingkat kecamatan di DIY.

Menurut Purwono, Kapanewon Tepus menjadi wilayah yang paling terdampak kekeringan, disusul Kapanewon Rongkop. Khusus di Tepus, BPBD telah mendistribusikan 40 tangki air bersih dan kini masih menunggu usulan tambahan untuk penyaluran berikutnya.

"Kami masih menunggu usulan dari Tepus," ujarnya.

Ia menjelaskan, kekeringan di Gunungkidul  dipengaruhi kondisi topografi kawasan perbukitan karst yang memiliki sangat sedikit  mata air di permukaan. Selain itu, jangkauan layanan PDAM di sejumlah wilayah terpencil juga belum  memenuhi kebutuhan air masyarakat secara rutin setiap hari.

Sementara itu, Kepala Jawatan Sosial Pemerintah Kapanewon Tepus Sukisno mengatakan pihaknya telah menyalurkan bantuan air bersih menggunakan anggaran kapanewon ke tiga kalurahan, yakni Purwodadi, Sidoharjo, dan Tepus, dengan total 100 tangki air.

"Di Kalurahan Purwodadi itu sudah kami dropping air bersih," katanya.

Ia membenarkan warga Dusun Duwet, Kalurahan Purwodadi, mulai mengalami kekeringan dan mengandalkan thuk Kali Wonosari sebagai sumber air. Namun, hingga saat ini pemerintah kapanewon belum dapat memastikan apakah mata air tersebut mampu bertahan sepanjang musim kemarau.

Menurut Sukisno, pemerintah kapanewon juga siap mendukung upaya pelestarian thuk Kali Wonosari 

"Nanti kalau memang diperlukan peremajaan mata air juga bisa," kata Sukisno.

Pewarta: Agung Dwi Prakoso
Uploader : Naryo

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.