Bagikan:
YOGYAKARTA - Di era yang serba cepat, meluangkan waktu untuk membaca buku mungkin terasa semakin sulit. Padahal, membaca bukubukan hanya menambah wawasan, tetapi juga dapat membantu menenangkan pikiran dan menjaga kesehatan otak. Menariknya, sebuah penelitian bahkan menemukan bahwa kebiasaan membaca buku berkaitan dengan peluang hidup yang lebih panjang. Meski bukan berarti membaca secara langsung membuat seseorang berumur panjang, aktivitas sederhana ini dinilai memberi manfaat bagi kesehatan mental dan fungsi kognitif dalam jangka panjang.
Penelitian menemukan kaitan antara membaca buku dan umur lebih panjang
Temuan tersebut berasal dari penelitian yang dipublikasikan dalam jurnal Social Science & Medicine pada 2016. Studi ini dipimpin oleh Becca R. Levy, profesor di Yale School of Public Health, Yale University, Amerika Serikat, bersama rekan penelitinya, Martin D. Slade dan Avni Bavishi. Penelitian ini melibatkan 3.635 orang dewasa berusia 50 tahun ke atasyang diamati selama sekitar 12 tahun.
Para peneliti membandingkan kebiasaan membaca buku dengan peluang bertahan hidup para peserta. Hasilnya menunjukkan bahwa orang yang membaca buku lebih dari 3,5 jam setiap minggu, atau sekitar 30 menit per hari, memiliki peluang bertahan hidup sekitar 20 persen lebih tinggidibandingkan mereka yang tidak membaca buku. Hubungan ini tetap terlihat meski peneliti telah memperhitungkan berbagai faktor lain, seperti usia, jenis kelamin, pendidikan, kondisi kesehatan, status ekonomi, hingga kebiasaan hidup.
Menurut Becca dilansir Verywell Mind, Kamis, 30 Juli, membaca buku tampaknya memberikan manfaat yang lebih besar dibandingkan bacaan yang lebih singkat, seperti koran atau majalah. Alasannya, buku mendorong pembaca untuk berkonsentrasi lebih lama, memahami alur cerita, mengingat informasi, dan menghubungkan berbagai gagasan. Aktivitas tersebut menjadi latihan yang baik bagi otak sehingga membantu menjaga kemampuan berpikir seiring bertambahnya usia.

Mengapa membaca buku baik untuk pikiran?
Selain melatih otak, membaca buku juga memberi kesempatan bagi pikiran untuk beristirahat dari tekanan sehari-hari. Saat tenggelam dalam sebuah cerita atau pembahasan, perhatian Anda beralih dari berbagai kekhawatiran yang sedang dihadapi. Kondisi ini dapat membantu mengurangi stres sekaligus membuat pikiran terasa lebih tenang setelah menjalani aktivitas yang padat.
Para ahli juga menjelaskan bahwa kebiasaan membaca membantu membangun cognitive reserve atau cadangan kognitif. Istilah ini mengacu pada kemampuan otak untuk tetap berfungsi dengan baik meskipun mengalami proses penuaan atau perubahan tertentu. Semakin sering otak dilatih melalui aktivitas yang menantang, seperti membaca, semakin baik pula kemampuannya dalam mempertahankan fungsi kognitif.
Tak hanya itu, membaca cerita fiksi maupun nonfiksi juga dapat memperluas cara pandang seseorang. Ketika mengikuti perjalanan tokoh dalam sebuah buku, pembaca belajar memahami berbagai emosi, sudut pandang, dan pengalaman hidup yang berbeda. Hal ini dipercaya dapat meningkatkan empati, membantu mengelola emosi, sekaligus mendukung kesehatan mental secara keseluruhan.
BACA JUGA:
Meski demikian, penting untuk dipahami bahwa penelitian ini menunjukkan hubungan, bukan sebab-akibat. Artinya, membaca buku tidak otomatis membuat seseorang hidup lebih lama. Namun, kebiasaan tersebut menjadi salah satu aktivitas positif yang berkaitan dengan kesehatan otak, kesejahteraan mental, dan kualitas hidup yang lebih baik.
Meluangkan waktu sekitar 20 hingga 30 menit setiap hari untuk membaca buku bisa menjadi langkah sederhana yang bermanfaat. Anda tidak harus memilih buku dengan topik yang berat. Novel, biografi, buku pengembangan diri, atau tema lain yang Anda sukai sama-sama dapat membantu menjadikan membaca sebagai kebiasaan yang menyenangkan sekaligus baik bagi pikiran.
Add VOI as a Preferred Source
Follow VOI news updates across Google.
+