Senin, 17 Agustus 2026 - 16:19 WIB
Jakarta, VIVA – Menteri Perdagangan, Budi Santoso memastikan, koordinasi antardaerah tetap terjaga untuk memenuhi kebutuhan bagi korban gempa bumi di Nusa Tenggara Timur (NTT).
Baca Juga
Budi mengatakan, pihaknya mengoptimalkan distribusi stok kebutuhan bahan pokok dari provinsi-provinsi terdekat dengan NTT, seperti Nusa Tenggara Barat (NTB) dan Jawa Timur, agar bantuan lebih cepat sampai tujuan.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
“Di NTT terus kita monitor distribusinya, jangan sampai terlambat. Jadi kita kita terus koordinasi dengan (provinsi) di sebelahnya, seperti NTB atau juga dari Jawa, karena dari Jawa ini kan banyak pasokan telur. Jawa Timur banyak pasokan telur,” kata Budi di Jakarta, Senin, 17 Agustus 2026.
Baca Juga
Mendag Budi Santoso.
Photo :
- Antara.
Dia mengatakan, hal ini senada dengan upaya Kemendag, yang melakukan penyesuaian harga melalui pencocokan bisnis (business matching) antardaerah yang mengalami kebutuhan pasokan dan kesenjangan harga bahan pokok.
Baca Juga
“Ketika daerah-daerah lain itu harganya naik, kita membuat namanya business matching antarwilayah. Jadi kita fasilitasi ya dengan dinas dan pelaku usahanya agar ketemu antara supplier dan pembeli yang ada di wilayah timur yang harganya mahal,” ujar Budi.
Selain itu, Dia mengatakan bahwa pihaknya juga terus melakukan peninjauan (monitoring) terkait kebutuhan bahan pokok dan distribusinya ke daerah-daerah terdampak bencana.
Hal itu dilakukan melalui kerja sama dengan distributor di wilayah terdekat, Direktorat Jenderal Perdagangan Dalam Negeri (PDN) Kemendag, dan pemerintah daerah.
“Kami juga sudah koordinasi dengan para distributor, terutama distributor yang ada di wilayah lain di provinsi terdekat, di NTB, misalnya. Kita sudah koordinasi untuk dengan pelaku usaha agar tetap menjaga pasokan-pasokan terutama pasca bencana ini di NTT,” ujarnya.
Sebelumnya, gempa bumi dengan magnitudo (M) 7,7 terjadi di wilayah Kabupaten Nagekeo, Nusa Tenggara Timur (NTT), pada Sabtu (15/8), pukul 05.58 WITA.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) pada Minggu (16/8) malam, mencatat 54 warga meninggal dunia, 199 orang luka-luka, 9.963 orang mengungsi, dan 1.528 kepala keluarga (KK) terdampak.
BNPB juga mencatat sebanyak 2.403 rumah rusak akibat gempa di sisi utara Pulau Flores tersebut, di mana 1.543 di antaranya mengalami rusak berat, 328 rusak sedang, 532 rusak ringan.
Halaman Selanjutnya
Sebanyak 22 fasilitas pendidikan rusak dan 88 lainnya terdampak oleh guncangan gempa tersebut. Sedangkan fasilitas kesehatan yang terdampak mencapai 211 unit, di antaranya 21 rumah sakit dan 190 puskesmas. (Ant).