Mengapa ritual tidak menjelma menjadi moral? - ANTARA News Jawa Timur

Surabaya (ANTARA) - Indonesia sering disebut sebagai salah satu bangsa yang paling religius di dunia. Rumah-rumah ibadah berdiri megah di berbagai tempat. Pengajian, ceramah, zikir, dan berbagai kegiatan keagamaan berlangsung hampir setiap hari. Pada bulan Ramadhan, masjid dan musala dipenuhi jamaah. Antrean keberangkatan haji dan umrah terus mengular dari tahun ke tahun.

Namun, di tengah semarak kehidupan keagamaan itu, kita juga masih menyaksikan korupsi, kebohongan, penyalahgunaan jabatan, fitnah, ujaran kebencian, manipulasi, dan berbagai bentuk pelanggaran moral lainnya. Fenomena inilah yang melahirkan pertanyaan yang tidak mudah dijawab: mengapa ritual keagamaan tampak semakin semarak, tetapi kehidupan moral belum selalu menunjukkan kemajuan yang sepadan?

Pertanyaan tersebut tidak dimaksudkan untuk meragukan pentingnya ritual. Dalam semua agama, ritual memiliki kedudukan yang sangat penting. Ritual membantu manusia membangun hubungan dengan Tuhan, menumbuhkan kesadaran spiritual, serta memelihara identitas dan tradisi keagamaan.

Persoalannya muncul ketika ritual berhenti sebagai aktivitas simbolik dan gagal menjelma menjadi perilaku moral dalam kehidupan nyata. Sebuah senda gurau yang cukup populer menggambarkan kegelisahan itu.

Ada yang berkata bahwa sebagian orang tidak terlalu khawatir melakukan dosa karena merasa tahu cara memperoleh pengampunan. Dalam versi yang lebih sinis, bahkan muncul ungkapan, "Korupsi dulu, nanti umrah," atau "Berdosa setahun, lalu cari malam Lailatul Qadar."

Tentu saja ungkapan semacam itu bukan ajaran agama. Namun, popularitasnya menunjukkan adanya kritik sosial yang patut direnungkan. Kritik tersebut bukan ditujukan kepada agama, melainkan kepada cara sebagian orang memahami dan mengamalkan agama.

Dalam tradisi Islam, misalnya, terdapat banyak ajaran tentang keutamaan ibadah. Puasa Asyura disebut dapat menjadi sebab dihapuskannya dosa setahun yang lalu. Lailatul Qadar disebut lebih baik daripada seribu bulan. Berbagai hadis juga menjelaskan keutamaan umrah, sedekah, zikir, dan amal-amal lainnya. Semua itu benar adanya dan merupakan bagian dari ajaran agama. 
Persoalan muncul ketika ajaran-ajaran tersebut dipahami secara terpisah dari keseluruhan pesan moral agama. Tidak jarang muncul kesan bahwa agama, terutama menyediakan berbagai cara untuk menghapus dosa, sementara perhatian terhadap pencegahan dosa justru kurang mendapat penekanan yang memadai.

Padahal, tujuan utama agama bukanlah menyediakan jalan pintas untuk membersihkan kesalahan, melainkan membimbing manusia agar tidak mudah terjerumus ke dalam kesalahan. Pengampunan memang merupakan bagian penting dari ajaran agama, tetapi pengampunan bukanlah izin untuk terus melakukan pelanggaran.

Korupsi memberikan contoh yang jelas. Korupsi bukan sekadar pelanggaran hukum. Korupsi adalah pengkhianatan terhadap amanah. Uang yang dikorupsi bukan sekadar angka dalam laporan keuangan. Di baliknya terdapat hak masyarakat yang dirampas, pelayanan publik yang menurun, kesempatan pendidikan yang hilang, dan kesejahteraan yang terhambat.

Oleh karena itu, tidak masuk akal jika seseorang membayangkan bahwa kerusakan sosial sebesar itu dapat diselesaikan hanya dengan memperbanyak ritual keagamaan. Demikian pula dengan kebohongan, fitnah, manipulasi, dan berbagai bentuk ketidakjujuran.

Semua itu merusak kepercayaan yang menjadi fondasi kehidupan bersama. Masyarakat tidak dapat dibangun hanya dengan ritual yang baik, tetapi juga membutuhkan moralitas yang baik. Ketika kepercayaan sosial runtuh, pembangunan ekonomi, politik, dan pendidikan pun ikut terganggu.

Dalam Al-Quran, keimanan hampir selalu disandingkan dengan amal saleh. Bahkan, tema keadilan, amanah, kejujuran, dan kepedulian terhadap sesama muncul berulang kali. Hal ini menunjukkan bahwa agama tidak hanya berbicara tentang hubungan manusia dengan Tuhan, tetapi juga hubungan manusia dengan manusia lainnya.

Sayangnya, dalam praktik dakwah dan pendidikan agama, perhatian terhadap dimensi moral dan sosial terkadang kalah menonjol dibandingkan pembahasan mengenai pahala dan ganjaran. Banyak orang sangat memahami amalan apa yang dapat mendatangkan pahala besar, tetapi belum tentu memiliki pemahaman yang sama kuat mengenai pentingnya menjaga amanah, menghindari konflik kepentingan, menghormati hak orang lain, atau berlaku jujur dalam kehidupan sehari-hari. 

Akibatnya, ukuran keberagamaan sering kali lebih mudah dilihat dari aktivitas ritual daripada kualitas moral. Padahal, masyarakat yang sehat tidak hanya membutuhkan orang-orang yang rajin beribadah, tetapi juga orang-orang yang dapat dipercaya, jujur, adil, dan bertanggung jawab.

Refleksi ini menjadi semakin penting ketika bangsa kita sedang berupaya membangun karakter generasi masa depan. Pendidikan agama tentu harus memperkuat keyakinan dan praktik ibadah. Namun, pada saat yang sama, pendidikan agama juga harus memastikan bahwa ritual melahirkan moral, bahwa kesalehan melahirkan kejujuran, dan bahwa kedekatan kepada Tuhan tercermin dalam kepedulian terhadap sesama. 

Refleksi yang sama juga relevan ketika bangsa Indonesia setiap tahun memperingati Hari Ulang Tahun Kemerdekaan. Menjelang 17 Agustus 2026, berbagai kegiatan, seperti upacara, lomba, pawai, dan pemasangan bendera kembali diselenggarakan di seluruh negeri sebagai wujud kecintaan terhadap tanah air.

Namun, peringatan kemerdekaan tidak seharusnya berhenti pada kegiatan seremonial semata. Makna sejati kemerdekaan akan benar-benar terwujud apabila tercermin dalam sikap jujur, disiplin, peduli terhadap sesama, taat hukum, menolak korupsi, serta mengutamakan kepentingan bangsa di atas kepentingan pribadi. Kemerdekaan perlu dihayati setiap hari melalui perilaku warga negara yang berintegritas dan bertanggung jawab.

Keberhasilan agama tidak hanya diukur dari ramainya rumah ibadah, banyaknya jamaah yang hadir dalam pengajian, atau panjangnya antrean ibadah haji dan umrah. Keberhasilan agama juga harus tampak dalam kehidupan yang lebih jujur, lebih adil, lebih amanah, dan lebih beradab. Demikian pula, keberhasilan bangsa tidak hanya diukur dari semaraknya perayaan Hari Kemerdekaan, megahnya upacara, atau banyaknya bendera yang berkibar di sepanjang jalan.

Keberhasilan itu harus tercermin dalam semakin kuatnya integritas penyelenggara negara, semakin tingginya kepatuhan terhadap hukum, semakin rendahnya korupsi, serta semakin tumbuhnya kepedulian antarsesama warga bangsa.

Ritual memang penting. Perayaan juga penting. Akan tetapi, keduanya bukanlah tujuan akhir. Ritual keagamaan seharusnya menjadi jalan menuju pembentukan moral pribadi, sedangkan ritual kebangsaan seharusnya menjadi jalan menuju pembentukan karakter bangsa.

Ketika ritual tidak menjelma menjadi moral, dan ketika peringatan kemerdekaan tidak menjelma menjadi integritas kebangsaan, keduanya kehilangan sebagian daya transformasinya. 
Sebaliknya, ketika ritual melahirkan manusia yang jujur, amanah, dan peduli kepada sesama, serta ketika semangat kemerdekaan melahirkan warga negara yang berintegritas, bertanggung jawab, dan mencintai bangsanya melalui tindakan nyata, saat itulah agama dan kemerdekaan benar-benar menjadi kekuatan yang memuliakan kehidupan.

*) Prof Ali Saukah, Dekan FKIP Universitas Muhammadiyah Kalimantan Timur, anggota Dewan Pendidikan Nasional

Pewarta: Prof Ali Saukah *)
Editor : Masuki M. Astro
COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.