Mengenal Kimpul dan Cara Mengolahnya agar Tidak Gatal, Umbi Lokal yang Bisa Jadi Alternatif Pangan

Liputan6.com, Jakarta - Di tengah harga bahan pangan pokok yang terus menjadi perhatian, mengenal kimpul dan cara mengolahnya agar tidak gatal bisa menjadi pengetahuan menarik untuk memperluas pilihan sumber karbohidrat. Umbi yang satu ini sebenarnya sudah lama dikenal di berbagai daerah Indonesia, tetapi belakangan kembali banyak diperbincangkan karena dapat diolah menjadi beragam makanan.

Kimpul memiliki tekstur dan cita rasa yang khas. Setelah dimasak dengan benar, umbinya dapat menjadi lembut, pulen, dan cocok dipadukan dengan bahan gurih maupun manis. Kimpul juga dapat diolah menjadi tepung sehingga pemanfaatannya tidak hanya terbatas sebagai umbi rebus.

Meski demikian, ada satu hal yang perlu diperhatikan sebelum mengonsumsi kimpul, yaitu rasa gatal atau sensasi mengiritasi yang dapat muncul apabila pengolahannya kurang tepat. Karena itu, proses membersihkan, merendam, memasak, atau mengeringkan kimpul menjadi bagian penting agar umbi ini lebih aman dan nyaman dikonsumsi. Berikut ulasan Liputan6.com, Minggu (9/8/2026).

Apa Itu Kimpul?

Ilustrasi kimpul

Perbesar

Ilustrasi kimpul (AI Generated)

Kimpul merupakan nama yang digunakan untuk kelompok umbi dari genus Xanthosoma, salah satunya Xanthosoma sagittifolium (L.) Schott. Dalam berbagai literatur internasional, tanaman ini dikenal sebagai cocoyam. Kimpul termasuk keluarga Araceae, atau kelompok talas-talasan.

Menurut Boakye dkk. dalam artikel ulasan Utilizing cocoyam (Xanthosoma sagittifolium) for food and nutrition security yang diterbitkan di Food Science & Nutrition pada 2018, cocoyam dalam banyak literatur merupakan istilah kolektif untuk tanaman pangan dari genus Colocasia dan Xanthosoma. Keduanya sama-sama termasuk keluarga Araceae sehingga kerap menimbulkan kebingungan dalam penamaan. Genus Xanthosoma sendiri memiliki banyak spesies, sementara Xanthosoma sagittifolium merupakan salah satu spesies yang paling banyak dibudidayakan.

Asal-usul kimpul juga menarik. Dalam kajian tersebut dijelaskan bahwa Xanthosoma berasal dari wilayah Amerika tropis, terutama diperkirakan dari Amerika Tengah dan Amerika Selatan. Tanaman tersebut kemudian diperkenalkan ke berbagai wilayah lain, termasuk Afrika dan Asia. Sifatnya yang relatif mudah beradaptasi membuat tanaman ini dapat berkembang di lingkungan tropis yang beragam.

Di Indonesia, kimpul dikenal dengan berbagai nama lokal. Dalam bahan rujukan yang digunakan untuk artikel ini, kimpul juga disebut talas Belitung, linyik, genjlong, bothe, atau bentul. Perbedaan penyebutan tersebut menunjukkan bahwa identitas tanaman talas-talasan memang dapat berbeda antara satu daerah dan daerah lainnya.

Kimpul juga berbeda dengan talas yang secara botani umumnya merujuk pada genus Colocasia. Kebingungan antara keduanya sebenarnya bukan hanya terjadi di Indonesia. Boakye dkk. menjelaskan bahwa kemiripan bentuk serta banyaknya nama lokal menjadi salah satu penyebab sulitnya membedakan kelompok Colocasia dan Xanthosoma dalam berbagai literatur.

Seperti apa tekstur dan rasa kimpul?

Ilustrasi kimpul

Perbesar

Ilustrasi kimpul (sumber: Wikimedia Commons)

Kimpul memiliki bagian umbi yang menjadi sumber pangan utama. Dalam kajian Boakye dkk., bagian cormel atau umbi anakan disebut memiliki nilai ekonomi penting dan dapat dimanfaatkan untuk berbagai produk pangan. Umbi tersebut dapat direbus, dikukus, dipanggang, digoreng, atau diproses menjadi tepung.

Ketika sudah matang, kimpul dapat menghasilkan tekstur yang lembut dan pulen. Karakter ini membuatnya cukup fleksibel untuk dijadikan bahan berbagai makanan. Penggunaannya tidak hanya sebagai makanan sederhana yang dikukus atau direbus, tetapi juga dapat dikembangkan menjadi keripik, makanan olahan, tepung, hingga bahan pembuat makanan lainnya.

Dari sisi kandungan, kimpul merupakan sumber karbohidrat sekaligus mengandung protein, serat, mineral, dan sejumlah vitamin. Kajian Boakye dkk. mencatat bahwa Xanthosoma sagittifolium dapat menjadi sumber energi, protein, dan vitamin dalam jumlah yang cukup berarti, dengan kandungan mineral seperti kalium, seng, serta komponen mineral lainnya.

Potensi tersebut membuat kimpul menarik dalam pembahasan diversifikasi pangan. Bahkan, penulis kajian tersebut menilai umbi kimpul dapat dikembangkan menjadi produk seperti chips, makanan siap olah, tepung, dan bahan pengental sup atau saus.

Mengapa Kimpul Bisa Menyebabkan Gatal?

Salah satu alasan kimpul tidak dapat sembarangan dikonsumsi adalah adanya sifat getir atau mengiritasi yang dikenal sebagai acidity atau acridity. Sensasi tersebut berkaitan dengan keberadaan oksalat pada bagian tanaman.

Boakye dkk. menjelaskan bahwa oksalat termasuk antinutrisi yang terdapat pada berbagai bagian cocoyam, termasuk umbi, tangkai daun, dan daun. Apabila tidak dimasak dengan baik, bagian tanaman tersebut dapat menimbulkan sensasi iritasi atau gatal pada tenggorokan. Karena itu, diperlukan proses pengolahan sebelum kimpul dikonsumsi.

Hal tersebut juga sejalan dengan penelitian Sefa-Dedeh dan Agyir-Sackey (2002, 2004) yang dicantumkan dalam daftar pustaka artikel Boakye dkk. Penelitian tersebut membahas struktur pati dan raphides pada Xanthosoma sagittifolium serta pengaruh pengolahan terhadap kandungan oksalat pada kimpul dan talas.

Karena itu, rasa gatal tidak seharusnya menjadi alasan untuk menghindari kimpul sepenuhnya. Persoalannya lebih terletak pada bagaimana umbi tersebut dipersiapkan dan dimasak.

Beragam olahan kimpul

Perbesar

Beragam olahan kimpul (AI Generated)

1. Gunakan sarung tangan ketika mengupas

Langkah pertama yang praktis adalah menggunakan sarung tangan ketika mengupas dan memotong kimpul. Permukaan umbi dan cairannya dapat menyebabkan rasa tidak nyaman pada kulit sebagian orang.

Setelah dikupas, kimpul sebaiknya segera dicuci hingga bersih. Pisahkan pula bagian yang kotor atau rusak sebelum masuk ke tahap pengolahan berikutnya.

2. Rendam setelah dikupas

Salah satu cara yang dapat digunakan dalam pengolahan rumahan adalah merendam potongan kimpul dalam air garam selama sekitar 15–30 menit. Setelah perendaman, kimpul dapat dicuci kembali sebelum dimasak.

Perlu dicatat bahwa durasi tersebut merupakan praktik pengolahan yang dicantumkan dalam bahan rujukan artikel ini, bukan angka yang secara spesifik diuji dalam jurnal PDF yang terlampir.

Literatur ilmiah dalam PDF justru menunjukkan bahwa perendaman atau soaking termasuk teknik pengolahan yang dapat membantu menurunkan kadar oksalat pada cocoyam. Teknik lain yang disebutkan adalah pemarutan, pengukusan, dan perebusan.

3. Rebus atau kukus sampai benar-benar matang

Perebusan merupakan salah satu metode yang paling sederhana untuk mengolah kimpul. Potongan kimpul dapat direbus sampai teksturnya lunak. Air rebusan kemudian dibuang dan kimpul dapat dibilas sebelum diolah lebih lanjut.

Pengukusan juga dapat menjadi pilihan. Dalam kajian Boakye dkk., perebusan dan pengukusan merupakan metode tradisional yang banyak digunakan karena kimpul memang tidak dikonsumsi mentah. Literatur tersebut menegaskan bahwa bagian tanaman yang digunakan sebagai makanan umumnya melalui perlakuan panas seperti merebus, memanggang, atau menggoreng.

Bahan rujukan yang digunakan dalam artikel ini juga menyebutkan perebusan kimpul bersama asam jawa atau daun salam selama sekitar 20–30 menit sebagai salah satu praktik pengolahan rumahan. Setelahnya, kimpul dapat dibilas menggunakan air mengalir.

Namun, penting untuk membedakan antara praktik kuliner tersebut dan hasil penelitian ilmiah. Jurnal yang terlampir mendukung efektivitas perebusan, pengukusan, perendaman, dan pengeringan dalam menurunkan oksalat, tetapi tidak secara khusus menyatakan bahwa asam jawa atau daun salam merupakan bahan yang wajib digunakan.

4. Pastikan kimpul tidak setengah matang

Jangan terburu-buru mengangkat kimpul hanya karena bagian luarnya terlihat matang. Tekstur bagian dalam perlu diperiksa. Kimpul yang sudah matang biasanya menjadi lebih lunak dan mudah ditusuk.

Hal ini penting karena kajian ilmiah menunjukkan bahwa kimpul yang tidak dimasak dengan baik dapat menimbulkan sensasi iritasi pada tenggorokan. Dengan kata lain, memasak sampai matang merupakan bagian penting dalam pengolahan kimpul, bukan sekadar bertujuan mendapatkan tekstur yang empuk.

5. Keringkan jika ingin membuat produk kering

Kimpul juga dapat dikeringkan terlebih dahulu. Cara ini cocok jika umbi akan dibuat menjadi keripik atau tepung.

Dalam kajian Boakye dkk., pengeringan menggunakan oven, drum dryer, sinar matahari, maupun solar drying dilaporkan dapat membantu menurunkan kandungan antinutrisi pada cocoyam.

Untuk membuat tepung, buku Membuat Tepung Umbi dan Variasi Olahannya karya Murtiningsih dan Suyanti yang dicantumkan dalam bahan rujukan menyebutkan bahwa kimpul dapat dikupas, dicuci berulang, diiris tipis, kemudian dikeringkan hingga mudah dipatahkan. Pengeringan dapat dilakukan dengan sinar matahari atau oven sekitar 60 derajat Celsius. Setelah kering, umbi digiling dan diayak hingga menghasilkan tepung halus.

Tepung kimpul selanjutnya dapat digunakan untuk berbagai olahan seperti mi, brownies, dan kue kering. Potensi pengolahan menjadi tepung ini juga sejalan dengan kajian Boakye dkk. yang menyebutkan bahwa tepung dari cormels Xanthosoma sagittifolium berpotensi digunakan dalam berbagai industri makanan.

Kimpul Bisa Diolah Menjadi Apa Saja?

Panen Kimpul

Perbesar

Panen Kimpul dari Pekarangan. (Gambar: AI Generated)

Setelah melalui pengolahan yang tepat, kimpul cukup fleksibel untuk dijadikan berbagai makanan. Buku Pangan Nusantara: Karakteristik dan Prospek untuk Percepatan Diversifikasi Pangan karya Murdijati Gardjito dkk. yang menjadi salah satu rujukan menyebutkan penggunaan kimpul dalam pembuatan gethuk.

Kimpul juga dapat dibuat menjadi keripik, perkedel, kroket, kolak, lemet, hingga makanan berbahan tepung kimpul. Gethuk kimpul misalnya dibuat dari kimpul yang direbus kemudian ditumbuk bersama gula dan kelapa. Hasilnya memiliki tekstur lembut dan dapat dibentuk sesuai selera.

Pemanfaatan tersebut sebenarnya memperlihatkan bahwa kimpul bukan sekadar pengganti nasi atau umbi rebus. Umbi ini dapat dikembangkan menjadi makanan tradisional maupun produk pangan yang lebih modern. Kajian Boakye dkk. juga menunjukkan bahwa cocoyam dapat diarahkan menjadi produk keripik, tepung, makanan siap olah, dan berbagai produk pangan lain.

Pada akhirnya, mengenal kimpul dan cara mengolahnya agar tidak gatal bukan hanya soal menemukan alternatif bahan pangan. Pengetahuan tersebut juga membantu kita memahami bahwa pangan lokal memiliki karakteristik tersendiri yang membutuhkan teknik pengolahan sesuai sifat bahannya. Dengan penanganan yang tepat, kimpul dapat menjadi bahan pangan yang cukup menarik untuk dikembangkan di dapur rumah.

Tanya Jawab Seputar Kimpul

1. Apa itu kimpul?

Kimpul adalah umbi dari genus Xanthosoma, salah satunya Xanthosoma sagittifolium. Tanaman ini termasuk keluarga Araceae atau kelompok talas-talasan dan dalam literatur internasional dikenal sebagai cocoyam.

2. Apakah kimpul sama dengan talas?

Tidak persis sama. Kimpul umumnya merujuk pada genus Xanthosoma, sedangkan talas yang umum dikenal secara botani berasal dari genus Colocasia. Keduanya memang masih berada dalam famili Araceae sehingga bentuknya sering dianggap mirip.

3. Kenapa kimpul terasa gatal?

Sensasi gatal atau iritasi pada kimpul berkaitan dengan keberadaan oksalat dan struktur seperti raphides yang dibahas dalam literatur tentang Xanthosoma sagittifolium. Kimpul yang belum diolah atau kurang matang dapat menyebabkan sensasi mengiritasi, terutama pada tenggorokan.

4. Bagaimana cara paling aman mengolah kimpul?

Kimpul sebaiknya tidak dimakan mentah. Kupas dengan hati-hati, cuci, lalu gunakan metode pengolahan seperti perendaman, perebusan, pengukusan, atau pengeringan. Penelitian yang dirangkum Boakye dkk. menunjukkan bahwa metode-metode tersebut dapat membantu menurunkan kadar oksalat pada cocoyam.

5. Kimpul bisa dibuat menjadi makanan apa?

Kimpul dapat dibuat menjadi gethuk, keripik, perkedel, kroket, kolak, lemet, hingga tepung. Tepung kimpul kemudian dapat dimanfaatkan sebagai bahan untuk berbagai produk makanan seperti mi dan kue. Literatur ilmiah juga mencatat potensi cormels kimpul untuk dikembangkan menjadi tepung, keripik, dan produk pangan siap olah.