AKURAT.CO Istilah shadow banking atau perbankan bayangan kembali menjadi perhatian seiring berkembangnya layanan keuangan digital.
Aktivitas ini merujuk pada kegiatan pembiayaan yang dilakukan di luar sistem perbankan konvensional dan dapat menimbulkan risiko apabila tidak berada dalam kerangka pengawasan yang memadai.
Istilah shadow banking tidak berarti seluruh lembaga keuangan nonbank merupakan lembaga ilegal. Sejumlah lembaga keuangan nonbank justru beroperasi secara resmi dan diawasi regulator.
Persoalan muncul ketika aktivitas pembiayaan dilakukan di luar ketentuan, minim transparansi, atau menggunakan struktur yang menyerupai fungsi perbankan tanpa perlindungan dan pengawasan yang memadai.
Apa Itu Shadow Banking?
Secara sederhana, shadow banking menggambarkan aktivitas intermediasi keuangan yang dilakukan di luar sistem perbankan.
Pelakunya dapat menghimpun atau mengelola dana dan menyalurkannya kembali dalam bentuk pembiayaan, tetapi tidak memiliki karakteristik pengawasan dan perlindungan yang sama seperti bank.
Berbeda dengan bank umum yang secara resmi menghimpun dana masyarakat dan menyalurkannya dalam bentuk kredit atau pembiayaan, aktivitas shadow banking dapat berlangsung melalui berbagai lembaga atau skema keuangan di luar sistem perbankan.
Istilah tersebut pertama kali dipopulerkan ekonom Paul McCulley pada periode menjelang krisis keuangan global 2008.
Jangan Samakan Semua Fintech dan Lembaga Nonbank dengan Shadow Banking
Perkembangan teknologi membuat masyarakat semakin mudah mengakses pembiayaan di luar bank. Namun, keberadaan layanan tersebut tidak otomatis berarti shadow banking.
Fintech P2P lending yang telah memperoleh izin dan berada dalam pengawasan OJK, misalnya, merupakan bagian dari industri jasa keuangan yang memiliki aturan tersendiri.
Sebaliknya, layanan pinjaman online ilegal dapat menimbulkan risiko lebih besar karena beroperasi di luar ketentuan. OJK bahkan menyebut fintech P2P lending ilegal berpotensi melakukan praktik shadow banking dan skema Ponzi.
Karena itu, masyarakat perlu membedakan antara lembaga keuangan nonbank yang legal dan aktivitas keuangan yang berjalan di luar pengawasan regulator.
Bagaimana Shadow Banking Bekerja?
Pada dasarnya, aktivitas shadow banking menjalankan fungsi yang mirip dengan intermediasi keuangan, yakni mempertemukan pihak yang memiliki dana dengan pihak yang membutuhkan pembiayaan.
Risiko dapat muncul ketika mekanismenya melibatkan:
Pengumpulan dana tanpa izin atau pengawasan yang memadai.
Penyaluran pembiayaan tanpa manajemen risiko yang baik.
Penggunaan dana jangka pendek untuk pembiayaan jangka panjang.
Leverage yang tinggi.
Minimnya transparansi mengenai penggunaan dan pengelolaan dana.
Tidak adanya perlindungan dana seperti yang berlaku pada produk perbankan tertentu.
Struktur seperti ini dapat membuat lembaga atau pelaku usaha rentan terhadap masalah likuiditas ketika banyak investor atau pemberi dana menarik dananya dalam waktu bersamaan.
Baca Juga: Jangan Salah Hitung, Ini Cara Menentukan Masa Subur agar Peluang Hamil Lebih Besar