Bangkok -
Kota Bangkok di Thailand punya banyak tempat yang bisa membuat wisatawan tak henti berdecak kagum dengan daya tariknya.
Selain punya daya tarik seperti lanskap kota dan alamya. Ikon-ikon wisata bernuansa religi juga tentunya jadi daya tarik tersendiri untuk Thailand, terkhusus Kota Bangkok.
Baru-baru ini detikTravel berkunjung ke kota tersebut, menggunakan penerbangan rute baru Jakarta-Bangkok dari maskapai TransNusa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Kuil-kuil di wilayah tersebut menjadi sebuah destinasi umum yang akan dikunjungi wisatawan mancanegara. Pada saat itu detikTravel berkunjung ke Wat Arun Ratchawarara.
Kuil yang berdiri di tepi Sungai Chao Phraya ini menjadi salah satu ikon wisata Bangkok yang hampir selalu ramai oleh wisatawan.
Begitu menginjakkan kaki di kompleks kuil tersebut, detikTravel terperangah dengan bangunan yang megah nan indah itu. Tak ayal banyak wisatawan mancanegara yang menginjakkan kaki di tempat ini.
Wisatawan di Wat Arun, Bangkok. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)
Tentunya mengabadikan momen menjadi aktivitas yang sepanjang mata melihat dilakukan oleh wisatawan di sana. Tak lupa balutan busana khas Thailand (Chut Thai) juga mereka kenakan sebagai pelengkapnya.
Sebagia infromasi, Wat Arun bukan sekadar destinasi populer untuk berfoto. Kuil ini menyimpan sejarah panjang yang berkaitan dengan perjalanan ibu kota Thailand.
Menurut Tourism Authority of Thailand (TAT), Wat Arun sudah ada sejak masa Ayutthaya, jauh sebelum Bangkok berkembang menjadi ibu kota. Setelah Ayutthaya jatuh pada 1767, Raja Taksin mendirikan ibu kota baru di Thonburi, di tepi barat Sungai Chao Phraya.
Wat Arun kemudian menjadi kuil penting pada periode tersebut. Ketika ibu kota dipindahkan ke Bangkok pada masa Raja Rama I, Wat Arun tetap memiliki posisi penting dalam sejarah awal Kerajaan Rattanakosin.
Wisatawan di Wat Arun, Bangkok. (Muhammad Lugas Pribady/detikcom)
Perubahan besar pada tampilan Wat Arun terjadi pada masa Raja Rama II dan dilanjutkan oleh Raja Rama III. Pada periode inilah pagoda utama diperbesar dan dihiasi dengan berbagai ornamen hingga menghasilkan bentuk yang dikenal wisatawan sekarang.
TAT juga mencatat bahwa bangunan utama di sisi pagoda berkaitan dengan masa pemerintahan Rama II. Nama Wat Arun berasal dari Aruna, yang dalam tradisi Hindu berkaitan dengan dewa fajar. Karena itu, kuil ini sering disebut Temple of Dawn atau Kuil Fajar.
Kembali ke pengalaman berkunjung ke sana. Menyoal pemandangan, jangan diragukan. Berdasarkan situasi di sana, waktu yang pas untuk berkunjung ke Wat Arun adalah sore hari menjelang jam operasional tutup, sekitar pukul 18.00 waktu setempat.
Karena cahaya matahari terbenam dengan langit berwarna orange akan membuat Wat Arun menjadi lebih cinematic. Belum lagi karena tempatnya berada di pinggir Sungai Chao Phraya, menjadikan pemandangan di tempat ini menjadi indah berkali-kali lipat.
Untuk tiket masuk ke Wat Arun, wisatawan mancanegara dibanderol harga 200 baht atau kurang lebihnya Rp 90 ribu per orangnya. Harga tiket tersebut sudah termasuk satu botol air minum dan bebas akses di komplek kuil tersebut.
(upd/ddn)