Parik Malintang (ANTARA) - Menteri Lingkungan Hidup (LH) RI Mohammad Jumhur Hidayat mengatakan gerakan tobat ekologis nasional dijalankan untuk menyasar kolektif yang merusak lingkungan guna menyelamatkan bumi ini dari kerusakan.
"Tobat ekologis nasional ini sebenarnya adalah tobat kolektif kita sebagai bangsa. Sedikit banyak, kita semua terlibat dalam merusak bumi ini. Mulai dari pemerintah pusat, pemerintah provinsi, pemerintah kabupaten dan kota, sampai ke tingkat paling bawah seperti kepala desa dan RT, bahkan hingga rakyat itu sendiri ikut serta merusak bumi ini," kata Mohammad Jumhur Hidayat di Kabupaten Padang Pariaman, Sumatera Barat, Selasa.
Hal tersebut ia sampaikan saat sambutan pada penanaman pohon di kasawan Politeknik Pelayaran Sumbar di Kecamatan Ulakan Tapakis, Padang Pariaman dalam rangkaian kunjungan kerjanya di provinsi tersebut, Selasa.
Ia menegaskan kerusakan lingkungan yang terjadi saat ini tidak bisa dibebankan kepada satu pihak saja, melainkan merupakan akumulasi kelalaian bersama dari hulu hingga hilir.
Oleh karena itu gerakan yang digaungkan oleh Kementerian LH tersebut menyasar semua pihak yang secara sadar maupun tidak telah berkontribusi dalam merusak ekosistem lingkungan di Indonesia.
Ia mencontohkan tindakan sederhana di masyarakat yang berdampak fatal, seperti kebiasaan membuang sampah sembarangan dan pembuangan limbah plastik langsung ke aliran sungai.
"Ternyata ada teluk di republik ini kalau ada 10 ikan, tujuh di antaranya positif mengandung mikroplastik. Dan itu racun dan menyebabkan kanker dan semacamnya," katanya.
Hal tersebut, lanjutnya karena sampah yang dibuang ke sungai terurai selama puluhan tahun kemudian dimakan ikan.
Ia mengatakan gerakan tersebut bukan sekadar imbauan namun harus direncanakan dan dijalankan secara terstruktur serta dipimpin oleh pihak-pihak yang memiliki keunggulan di bidangnya masing-masing.
Ia mendorong kolaborasi aktif lintas sektor dengan pembagian peran yang jelas mulai dari pemerintah menggunakan kebijakannya serta akademisi dan tokoh masyarakat di bidangnya masing-masing.
Menteri LH meyakini bahwa tekad bersama untuk memulihkan satu-satunya bumi yang kita miliki ini merupakan instrumen kuat yang dapat menyatukan seluruh elemen bangsa di tengah berbagai perbedaan.
Sementara itu, Gubernur Sumbar Mahyeldi mengatakan provinsi tersebut beberapa bulan lalu mengalami banjir dan longsor dengan kerugian mencapai Rp33 triliun.
Menurutnya tobat ekologis tersebut dapat meminimalisir terjadinya dampak bencana dan kerusakan yang ditimbulkan.
Pewarta: Aadiaat Makruf S.
Uploader: Laras Robert
COPYRIGHT © ANTARA 2026