Surabaya (ANTARA) - Langit mulai kehilangan semburat jingga ketika aroma bawang putih, arang, dan rempah perlahan mengambil alih udara di Kota Surabaya, Jawa Timur.
Di sejumlah sudut kota, kursi-kursi plastik mulai terisi, wajan kembali dipanaskan, dan percakapan mengalir di antara kepulan uap makanan. Malam tidak sekadar menjadi pergantian waktu. Ia menjelma ruang perjumpaan, tempat ekonomi bergerak, tradisi bertahan, dan kota menunjukkan wajah yang berbeda.
Kuliner malam telah lama menjadi bagian dari identitas Surabaya. Dari kawasan Kedungdoro dan Genteng yang melegenda hingga sentra-sentra kuliner yang terus bertambah, aktivitas ekonomi berlangsung ketika sebagian besar perkantoran telah tutup. Kota seakan memiliki denyut kedua yang baru terasa setelah matahari tenggelam.
Fenomena ini semakin menarik karena pemerintah kota tidak lagi memandang kuliner malam sekadar aktivitas perdagangan informal. Penataan kawasan, penguatan legalitas, hingga pengembangan sentra wisata kuliner menunjukkan bahwa aktivitas tersebut kini diposisikan sebagai bagian dari pembangunan kota, penggerak ekonomi kreatif, sekaligus daya tarik wisata.
Ruang kota
Perdebatan mengenai pedagang kaki lima hampir selalu mempertemukan dua kepentingan. Di satu sisi terdapat kebutuhan masyarakat mencari nafkah. Di sisi lain terdapat kewajiban pemerintah menjaga fungsi jalan, trotoar, kebersihan, dan ketertiban kota.
Surabaya mencoba mengambil jalan yang lebih seimbang. Pemerintah kota menegaskan bahwa kawasan kuliner malam di Jalan Kedungdoro dan Jalan Genteng memiliki dasar hukum yang telah berlaku sejak puluhan tahun. Status tersebut menjadikan kedua kawasan sebagai pengecualian dalam pengaturan fungsi jalan.
Namun pengecualian itu bukan berarti bebas dari aturan. Aktivitas perdagangan tetap harus menghormati ruang publik, menjaga drainase, tidak menggunakan trotoar sebagai tempat berjualan, serta meminimalkan kemacetan.
Pendekatan ini penting karena menunjukkan bahwa pelestarian warisan kuliner dapat berjalan berdampingan dengan penegakan tata kota. Banyak kota besar menghadapi dilema antara mempertahankan kawasan legendaris dan menegakkan aturan.
Tidak sedikit yang akhirnya kehilangan karakter karena memilih penggusuran sebagai solusi paling mudah. Sebaliknya, ada pula yang membiarkan kawasan tumbuh tanpa kendali hingga menimbulkan persoalan baru.
Surabaya tampaknya memilih jalan tengah. Kawasan yang memiliki nilai sejarah dipertahankan, tetapi kualitas pengelolaannya terus diperbaiki. Pendekatan tersebut lebih berkelanjutan dibanding sekadar memindahkan persoalan dari satu titik ke titik lain.
Langkah ini juga mencerminkan perubahan cara pandang terhadap sektor informal. Pedagang tidak lagi hanya diposisikan sebagai objek penertiban, melainkan bagian dari ekosistem ekonomi perkotaan yang perlu ditata agar tumbuh secara sehat.
Data Kementerian Pariwisata selama beberapa tahun terakhir menunjukkan wisata kuliner menjadi salah satu alasan utama wisatawan berkunjung ke berbagai daerah di Indonesia. Artinya, makanan bukan lagi sekadar kebutuhan konsumsi, melainkan pengalaman wisata yang memberikan nilai ekonomi berlipat.
Kota yang mampu menjaga kualitas kawasan kulinernya berpeluang memperoleh manfaat ekonomi yang jauh lebih besar daripada sekadar transaksi makanan.
Denyut ekonomi
Kuliner malam mempunyai efek berganda yang sering kali luput dari perhatian. Di balik semangkuk rawon atau seporsi nasi goreng, terdapat rantai ekonomi yang panjang.
Petani memasok bahan pangan. Nelayan mengirim hasil tangkapan. Pedagang pasar menyediakan bumbu. Pengusaha es batu, pemasok gas, jasa transportasi daring, hingga pekerja parkir ikut memperoleh manfaat dari ramainya aktivitas malam.
Badan Pusat Statistik juga mencatat sektor penyediaan akomodasi dan makan minum secara konsisten menjadi salah satu penyumbang penting terhadap pertumbuhan ekonomi daerah di berbagai provinsi. Hal itu menunjukkan bahwa industri kuliner bukan sekadar usaha berskala kecil, melainkan bagian dari mesin ekonomi nasional.
Karena itu, pengembangan kawasan kuliner malam tidak cukup hanya menyediakan tempat berjualan. Hal yang lebih penting adalah menciptakan pengalaman yang membuat pengunjung ingin kembali.
Upaya tersebut mulai terlihat dalam pengembangan Sentra Wisata Kuliner (SWK) Kalimas Timur. Penataan kawasan tidak berhenti pada relokasi pedagang. Pemerintah juga merancang pencahayaan kawasan, mural, pemasangan kamera pengawas, penyediaan tempat penyimpanan gerobak, pembangunan dermaga, hingga integrasi dengan wisata perahu dan kawasan wisata religi di Surabaya Utara. Bahkan anak-anak muda didorong menghadirkan inovasi agar kawasan memiliki identitas yang khas.
Pendekatan semacam ini sejalan dengan tren kota-kota dunia. Kawasan kuliner tidak lagi hanya menjual makanan, tetapi juga suasana, cerita, budaya, dan pengalaman. Pengunjung datang bukan sekadar makan, melainkan menikmati ruang publik yang aman, nyaman, dan menarik untuk didokumentasikan.
Di era media sosial, daya tarik visual, bahkan dapat menjadi promosi paling efektif. Satu kawasan yang bersih, tertata, memiliki pencahayaan baik, dan menawarkan pengalaman unik akan lebih mudah dikenal tanpa biaya promosi yang besar.
Menjaga warisan
Meski prospek kuliner malam kota menjanjikan, sejumlah tantangan tetap harus dihadapi.
Persoalan sampah masih menjadi pekerjaan rumah utama. Aktivitas kuliner malam menghasilkan limbah makanan, plastik sekali pakai, minyak bekas, dan air cucian piring yang apabila tidak dikelola dengan baik akan mencemari lingkungan.
Kemacetan juga memerlukan perhatian serius. Semakin populer suatu kawasan kuliner, semakin besar pula kebutuhan terhadap rekayasa lalu lintas, area parkir, dan transportasi publik yang memadai.
Di sisi lain, kualitas pelayanan harus terus ditingkatkan. Kebersihan makanan, keamanan pangan, harga yang transparan, hingga kenyamanan pengunjung menjadi faktor yang menentukan keberlanjutan satu tujuan wisata kuliner.
Karena itu, pengembangan kuliner malam sebaiknya tidak berhenti pada pembangunan fisik. Digitalisasi pembayaran, promosi terpadu, pelatihan keamanan pangan, sertifikasi higienitas, pengelolaan sampah berbasis ekonomi sirkular, hingga kolaborasi dengan komunitas kreatif perlu menjadi bagian dari strategi jangka panjang.
Surabaya sesungguhnya memiliki modal yang kuat. Kota ini mempunyai kuliner legendaris, jaringan sentra wisata kuliner, komunitas pelaku UMKM yang besar, serta pemerintah yang mulai menempatkan kuliner sebagai bagian dari perencanaan kota. Modal tersebut akan semakin bernilai apabila dibarengi inovasi yang konsisten.
Kuliner malam bukan sekadar tempat mengisi perut setelah matahari terbenam. Ia adalah ruang ekonomi rakyat, panggung kebudayaan, sekaligus wajah sebuah kota yang dikenang para pengunjung.
Ketika aroma masakan bertemu dengan tata ruang yang baik, pelayanan yang nyaman, dan lingkungan yang bersih, yang lahir bukan hanya wisata kuliner, melainkan identitas kota yang hidup hingga larut malam.
Di situlah pembangunan menemukan maknanya. Bukan hanya membangun jalan dan gedung, melainkan juga merawat ruang-ruang tempat masyarakat bekerja, berkumpul, dan menumbuhkan harapan. Sebab kota yang tetap hangat setelah senja adalah kota yang berhasil menjaga denyut ekonominya tanpa kehilangan wajah manusianya.
Uploader : Taufik
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.