Pengungsi Palestina berebut makanan berbuka puasa yang didistribusikan oleh dapur amal selama bulan suci Ramadhan, di Khan Younis, Jalur Gaza selatan, 26 Februari 2026.
REPUBLIKA.CO.ID, KAIRO — Menteri Luar Negeri Mesir, Badr Abdelatty memperingatkan bahwa rencana untuk memindahkan warga Palestina dari Jalur Gaza masih menjadi opsi yang dipertimbangkan. Badr menyatakan bahwa Kairo akan menentangnya dengan kekuatan penuh. Ia juga menyebut langkah semacam itu sebagai "garis merah" bagi negara-negara Arab dan Muslim.
Dalam wawancara dengan kantor berita Palestina Wafa, Abdelatty mengatakan bahwa pemindahan sukarela tidak dapat dianggap sukarela jika diciptakan kondisi yang membuat kehidupan di Gaza menjadi mustahil. Mendorong penduduk untuk pergi dalam situasi seperti itu sama dengan tindakan paksaan yang melanggar hukum internasional serta hak-hak penduduk di bawah pendudukan.
Abdelatty menegaskan, Mesir tidak akan menerima dan tidak akan membiarkan pemindahan tersebut terjadi. Mesir juga menegaskan kembali komitmennya agar warga Palestina tetap berada di tanah mereka, dikutip dari laman MEHR News Agency, Ahad (9/8/2026).
Terkait Tepi Barat yang diduduki, Abdelatty menyatakan keprihatinan atas meningkatnya pelanggaran terhadap warga Palestina. Dia menggambarkan situasi tersebut sebagai aneksasi diam-diam serta aneksasi de facto yang merusak prospek berdirinya negara Palestina.
Pada Sabtu (8/8/2026), diberitakan bahwa selama 48 jam terakhir, rumah sakit di Gaza telah menerima jenazah dua warga Palestina yang meninggal akibat luka-luka dari serangan Israel sebelumnya, serta enam orang yang terluka dalam serangan baru, menurut Kementerian Kesehatan wilayah tersebut.
Sejak gencatan senjata dimulai pada bulan Oktober tahun lalu, Israel telah membunuh 1.257 orang dan melukai 4.131 orang dalam serangan yang terjadi hampir setiap hari di Jalur Gaza.
Secara keseluruhan, sejak perang dimulai pada 7 Oktober 2023, serangan Israel telah membunuh 73.384 orang dan melukai 174.242 orang.
Menurut kementerian tersebut, dua orang lainnya meninggal dunia akibat luka-luka yang mereka derita dalam serangan sebelumnya. Kementerian menyatakan bahwa jumlah korban kumulatif sejak dimulainya perang genosida oleh rezim Israel pada 7 Oktober 2023 telah mencapai 73.384 orang tang wafat dan 174.242 orang terluka.