Rupiah ditutup di level Rp17.744 per USD, melemah 19 poin dibandingkan posisi penutupan sebelumnya di Rp17.725 per USD. Sepanjang perdagangan, rupiah sempat menguat 75 poin sebelum kembali berbalik arah.
Baca Juga: Aida Budiman Ungkap Dilema BI Jaga Stabilitas Rupiah Tanpa Mengorbankan Pertumbuhan
Ibrahim memperkirakan pergerakan rupiah masih akan berlangsung volatil dengan kecenderungan melemah. "Untuk perdagangan hari ini, mata uang rupiah fluktuatif namun ditutup melemah di rentang Rp17.740-Rp17.790," kata Ibrahim dalam riset hariannya, Jumat (28/8/2026).
Tekanan terhadap rupiah salah satunya datang dari pergerakan dolar AS. Mata uang Negeri Paman Sam menguat ketika pasar mempertimbangkan prospek kebijakan suku bunga The Fed dan perkembangan ekonomi AS.
Perhatian investor tertuju pada data inflasi Personal Consumption Expenditures (PCE) Amerika Serikat yang menjadi salah satu indikator penting bagi The Fed dalam menentukan kebijakan moneter.
Data terbaru Bureau of Economic Analysis (BEA) menunjukkan indeks harga PCE pada Juli 2026 naik 0,2% secara bulanan dan 3,7% secara tahunan. Sementara itu, core PCE yang tidak memasukkan komponen makanan dan energi naik 0,2% secara bulanan dan 3,3% secara tahunan.
Angka core PCE 3,3% tersebut masih jauh di atas target inflasi The Fed sebesar 2%. Kondisi ini membuat pasar kembali mencermati kemungkinan arah kebijakan suku bunga AS ke depan.
Reuters melaporkan data inflasi terbaru tersebut meningkatkan ekspektasi pasar terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed.
Pasar juga menunggu pernyataan Gubernur The Fed Kevin Warsh dalam agenda Jackson Hole untuk mendapatkan petunjuk mengenai arah kebijakan moneter berikutnya.
Bagi rupiah, perkembangan tersebut menjadi penting karena perubahan ekspektasi terhadap suku bunga AS dapat memengaruhi arus modal dan permintaan terhadap dolar AS.
Jika pasar melihat The Fed masih perlu mempertahankan kebijakan moneter ketat lebih lama, dolar AS berpotensi mendapatkan dukungan.
Sebaliknya, sinyal pelonggaran kebijakan dapat memberikan ruang bagi mata uang negara berkembang, termasuk rupiah. Selain kebijakan The Fed, perkembangan geopolitik juga menjadi perhatian pasar valuta asing.
Salah satu faktor yang diperhatikan investor adalah situasi di sekitar Selat Hormuz. Jalur tersebut merupakan salah satu rute penting bagi perdagangan minyak dunia sehingga setiap gangguan terhadap aktivitas pelayaran dapat memengaruhi harga energi dan sentimen pasar global.
Harapan mulai muncul setelah terdapat perkembangan diplomatik yang melibatkan Iran dan Qatar. Pembicaraan tersebut diharapkan dapat mengurangi gangguan pasokan energi dari kawasan Teluk.
Namun, risiko geopolitik belum sepenuhnya hilang. Posisi Iran dan Amerika Serikat masih memiliki perbedaan terkait penyelesaian konflik, sementara ketidakpastian mengenai akses melalui Selat Hormuz tetap menjadi perhatian investor.
Pergerakan rupiah pun berpotensi ikut terdampak apabila ketegangan kembali meningkat. Investor biasanya cenderung meningkatkan permintaan terhadap aset yang dianggap lebih aman ketika risiko geopolitik membesar.
Sebaliknya, apabila pembicaraan diplomatik menghasilkan perkembangan positif dan risiko gangguan pasokan minyak menurun, tekanan terhadap pasar keuangan global dapat mereda.
Dari dalam negeri, sentimen pasar juga datang dari dinamika sosial dan politik. Aksi demonstrasi di depan Gedung DPR RI pada Kamis (27/8/2026) berlangsung tertib. Sejumlah anggota DPR menemui massa dan menerima aspirasi terkait pembahasan RUU Perampasan Aset.
Meski aksi berlangsung kondusif, perkembangan politik domestik tetap menjadi bagian dari sentimen yang diperhatikan investor karena dapat memengaruhi persepsi terhadap stabilitas ekonomi dan kebijakan pemerintah.
Di sisi lain, survei Tempo Data Science menunjukkan tingkat kepuasan publik terhadap kinerja pemerintahan Presiden Prabowo Subianto dan Wakil Presiden Gibran Rakabuming Raka berada di 37% pada Agustus 2026.
Survei tersebut dilakukan pada 31 Juli-11 Agustus 2026 terhadap 1.260 responden di 38 provinsi. Angka kepuasan itu turun dari 75% pada Desember 2025 dan 58% pada Maret 2026.
Persoalan ekonomi menjadi salah satu sumber utama ketidakpuasan masyarakat. Dalam survei tersebut, mahalnya harga kebutuhan pokok, kondisi ekonomi yang sulit, serta persoalan lapangan kerja menjadi sejumlah persoalan yang paling banyak disebut responden.
Namun, faktor domestik tersebut perlu dilihat sebagai bagian dari keseluruhan sentimen pasar, bukan sebagai satu-satunya penentu pergerakan rupiah.
Dengan berbagai faktor tersebut, pergerakan rupiah pada perdagangan berikutnya masih berpotensi berlangsung volatil.
Proyeksi Ibrahim menempatkan rupiah pada rentang Rp17.740-Rp17.790 per USD. Artinya, pelaku pasar masih perlu mencermati kemungkinan penguatan dolar AS sekaligus perkembangan geopolitik dan sinyal kebijakan The Fed.
Pergerakan di kisaran tersebut juga menunjukkan bahwa pasar valuta asing masih menghadapi ketidakpastian yang cukup tinggi.
Data inflasi AS, pernyataan pejabat The Fed, serta perkembangan konflik Iran dan kondisi Selat Hormuz menjadi sejumlah faktor eksternal yang dapat mengubah arah pergerakan mata uang.
Untuk perdagangan Jumat (28/8/2026), perhatian pasar dengan demikian akan tertuju pada apakah rupiah mampu bertahan di sekitar level Rp17.700-an atau kembali menghadapi tekanan menuju level Rp17.790 per USD.