Jakarta -
Merek mobil China melesat di pasar global. Mobil China merambah pasar Eropa hingga Asia Tenggara, sampai-sampai memberikan tekanan besar buat merek Jepang dan Eropa. Namun, penjualan mobil China di negeri sendiri justru melemah.
Dilaporkan Reuters, penjualan mobil di China terus menurun sejak akhir tahun lalu akibat lemahnya permintaan dan persaingan harga yang sengit.
Data dari Asosiasi Mobil Penumpang China (CPCA) menunjukkan penjualan mobil di China pada Juli turun 21,1 persen dibandingkan bulan yang sama tahun sebelumnya. Pada Juli 2026, industri otomotif China hanya mencatatkan angka penjualan sebanyak 1,47 unit kendaraan. Ini menjadi penurunan penjualan selama 10 bulan berturut-turut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Di sisi lain, ekspor mobil China justru melonjak hingga 88 persen. China telah mengekspor 923.000 unit kendaraan.
Meskipun data tersebut mencakup merek non-Tiongkok yang diproduksi di Tiongkok, tren penurunan dua digit di pasar domestik dan pertumbuhan ekspor dua digit tetap terlihat di kalangan produsen mobil dalam negeri.
Pada paruh pertama tahun ini, penjualan mobil domestik China turun sebanyak 2,3 juta unit dibandingkan tahun sebelumnya, atau anjlok 20 persen. Sedangkan ekspor mobil pada semester I tahun 2026 naik 71 persen.
Analis HSBC, Yuqian Ding, menyatakan bahwa permintaan mobil domestik kemungkinan akan stabil dan berpotensi mulai pulih pada periode akhir Agustus hingga September seiring dengan meningkatnya momentum siklus model baru. Namun, ia menilai pemulihan berbentuk huruf V (pemulihan cepat dan tajam) tampaknya tidak akan terjadi.
Para ahli menilai, menghadapi permintaan domestik yang lesu, produsen mobil China memiliki dorongan kuat untuk mempercepat langkah ekspansi ke luar negeri yang sebenarnya sudah berjalan. Hal ini akan semakin menekan para pesaing dari Eropa dan Jepang yang sudah kesulitan bersaing dengan kendaraan listrik China dengan teknologi yang lebih maju tapi harganya lebih murah.
"Produsen mobil China memiliki kelebihan kapasitas produksi, rantai pasok yang sangat kompetitif, produk yang semakin canggih, serta insentif ekonomi yang kuat untuk mencari pertumbuhan di luar China," ujar Bill Russo, CEO perusahaan konsultan Automobility yang berbasis di Shanghai.
"Ekspansi global menjadi kebutuhan strategis bagi produsen mobil terkemuka China," tambahnya.
(rgr/dry)