Musim ombak pangkas hasil tangkapan nelayan Gorontalo hingga separuh - ANTARA News Gorontalo

Gorontalo (ANTARA) - Musim angin timur yang memicu gelombang tinggi di perairan Teluk Tomini memangkas hasil tangkapan nelayan di Desa Botubarani, Kabupaten Bone Bolango, Provinsi Gorontalo, hingga sekitar 50 persen karena mereka tidak dapat melaut jauh.

Nelayan Botubarani, Karim, Kamis, mengatakan selama musim ombak dirinya bersama nelayan lain hanya menangkap ikan dengan jenis tertentu di perairan dekat pantai karena angin kencang membuat aktivitas melaut ke laut lepas menjadi berisiko.

"Kalau musim ombak begini paling dapat sekitar 70 sampai 100 ekor atau sekitar lima kilogram. Kalau cuaca normal bisa sampai 20 kilogram," kata Karim.

Ia mengatakan musim angin timur terjadi setiap tahun dan berlangsung sekitar enam bulan. Selama periode tersebut nelayan membatasi area penangkapan ikan di sekitar pesisir agar tetap dapat melaut dengan aman.

Menurut dia, saat cuaca normal nelayan dapat melaut lebih jauh untuk memperoleh hasil tangkapan yang lebih banyak dan beragam. Namun ketika gelombang tinggi, mereka hanya mengandalkan hasil tangkapan di perairan dangkal.

Nelayan Botubarani lainnya, Yunan, mengatakan hasil tangkapan yang berkurang turut mempengaruhi pendapatan keluarga karena sebagian besar nelayan di desa tersebut tidak memiliki mata pencaharian lain.

"Kalau ombak begini bahaya juga, tapi bagaimana lagi karena kebutuhan di rumah. Tidak ada pekerjaan lain selain melaut," katanya.

Ia menjelaskan nelayan juga mengubah metode penangkapan ikan saat musim ombak dengan menggunakan jaring di perairan dekat pantai, berbeda dengan kondisi normal ketika mereka lebih sering memancing di laut yang lebih jauh.

Menurut Yunan, keputusan untuk melaut sangat bergantung pada kondisi angin. Jika angin masih bertiup kencang, nelayan memilih menunda melaut demi menjaga keselamatan.

Ia berharap cuaca segera membaik agar nelayan kembali dapat menjangkau daerah penangkapan yang lebih jauh sehingga hasil tangkapan dan pendapatan mereka dapat meningkat.

Pewarta: Faradila Alim
Editor : Debby H. Mano

COPYRIGHT © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.