AKURAT.CO Nvidia kembali mengirim GPU AI H200 ke China setelah Amerika Serikat memberikan izin ekspor. Namun, pengirimannya masih dibatasi dan setiap pembelian harus mendapat persetujuan pemerintah China.
ByteDance dan Tencent dilaporkan telah menerima sekitar 10.000 unit H200 dalam beberapa pekan terakhir. Sejumlah perusahaan teknologi China lainnya juga disebut berpeluang memperoleh jumlah serupa.
Pengiriman tersebut menjadi pergerakan signifikan H200 ke China sejak Presiden AS Donald Trump menyetujui ekspornya pada Desember 2025. Meski begitu, sebagian besar chip yang mendapat izin AS harus tetap berada di luar China daratan, terutama di Hong Kong.
Dikutip dari Tom's Hardware, Senin (24/8/2026), China menerapkan sistem persetujuan melalui National Development and Reform Commission (NDRC). Lembaga tersebut menentukan jumlah H200 yang boleh dibeli setiap perusahaan secara individual.
Kebijakan ini diterapkan ketika China terus memperkuat industri chip kecerdasan buatan dalam negeri. TrendForce memperkirakan chip lokal akan menguasai hampir 90 persen pasar AI kelas atas China pada 2026.
Huawei menjadi salah satu perusahaan yang memperkuat pasokan chip lokal melalui seri Ascend. Produksi Ascend 910C diperkirakan mencapai sekitar 600.000 unit sepanjang 2026.
Meski pasokan lokal meningkat, chip China masih memiliki keterbatasan untuk melatih model AI paling canggih. Karena itu, sejumlah perusahaan teknologi masih membutuhkan GPU Nvidia untuk menjalankan proses komputasi berat.
DeepSeek menjadi salah satu perusahaan yang masih mengandalkan Nvidia untuk proses pelatihan model AI. Sementara itu, chip Huawei lebih banyak digunakan untuk menjalankan model yang sudah selesai dilatih.
Nvidia H200 dibekali memori HBM3e berkapasitas 141 GB dengan bandwidth 4,8 TB per detik. Spesifikasi tersebut membuatnya cocok untuk kebutuhan pelatihan model AI berskala besar.
Bagi Beijing, izin terbatas tersebut dapat membantu memenuhi kebutuhan komputasi tanpa kembali bergantung sepenuhnya pada Nvidia. Di sisi lain, pembatasan impor memberi kesempatan bagi produsen chip lokal untuk memperluas pasar.
Situasi ini menjadi tantangan bagi Nvidia karena akses perusahaan ke pasar China masih terbatas. Selain kuota pembelian, Nvidia juga harus membayar pungutan sebesar 25 persen dari penjualan H200 ke China kepada pemerintah AS.
Kembalinya H200 ke China belum berarti Nvidia kembali menguasai pasar AI di negara tersebut. Kebijakan itu justru menunjukkan China masih membutuhkan chip asing untuk sementara waktu sambil mempercepat kemandirian industri semikonduktornya.