Pagar setinggi apa pun tidak akan mampu menggantikan nilai kepercayaan yang tumbuh dari tata kelola kota yang baik, komunikasi yang jernih, dan ruang publik yang benar-benar menghadirkan rasa aman bagi semua
Surabaya (ANTARA) - Gerbang sebuah pusat perbelanjaan lazimnya menjadi penanda keterbukaan. Orang datang untuk bekerja, berbelanja, bertemu keluarga, atau sekadar menikmati ruang kota. Makna itu berubah ketika pagar-pagar tinggi mulai berdiri di sejumlah mal.
Bukan hanya mengubah wajah bangunan, pagar juga memunculkan beragam tafsir di tengah masyarakat. Sebagian menganggapnya sebagai langkah pengamanan yang wajar, sementara yang lain melihatnya sebagai simbol kecemasan yang tidak perlu.
Fenomena itu menjadi perhatian pemerintah daerah. Di Surabaya, Wali Kota Eri Cahyadi mengimbau pengelola mal agar tidak meninggikan pagar karena dapat mengurangi estetika kota, sekaligus memunculkan kesan seolah-olah masyarakat sedang menghadapi ancaman besar.
Pemerintah Kota Surabaya memilih jalan koordinasi, bukan konfrontasi. Pagar tidak diminta dibongkar, melainkan disesuaikan agar tetap menjalankan fungsi keselamatan, tanpa menciptakan rasa takut.
Sikap serupa juga muncul di Jakarta, ketika Gubernur Pramono Anung meminta pengelola mal dan perkantoran melepas pagar yang baru dipasang karena kondisi ibu kota dinilai tetap aman.
Di balik persoalan fisik berupa pagar, tersimpan pertanyaan yang jauh lebih besar. Kota seperti apa yang ingin dibangun Indonesia? Kota yang memperkuat rasa saling percaya atau kota yang dipenuhi batas-batas yang membuat setiap orang merasa harus selalu waspada?

Kota terbuka
Perkembangan kota modern tidak lagi hanya diukur dari banyaknya gedung pencakar langit atau pusat perbelanjaan megah. Kualitas sebuah kota juga dinilai dari kemampuannya menyediakan ruang publik yang aman, nyaman, ramah pejalan kaki, sekaligus terbuka bagi seluruh warga.
Pagar memang memiliki fungsi. Dalam ilmu perancangan kota, pembatas dibutuhkan untuk mengarahkan sirkulasi, melindungi aset, dan mengurangi potensi kecelakaan. Hanya saja, ketika ukurannya berlebihan, pagar dapat menghasilkan pesan yang berbeda.
Ruang yang semestinya mengundang masyarakat justru terasa eksklusif. Orang tidak lagi melihat bangunan sebagai bagian dari kota, melainkan benteng yang memisahkan diri dari lingkungan sekitarnya.
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.