PCINU Jepang Usulkan Fleksibilitas Kepengurusan hingga Diplomasi Pemakaman Muslim di Muktamar Ke-35 NU

AKURAT.CO Pengurus Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (PCINU) Jepang menyampaikan sejumlah usulan strategis menjelang pelaksanaan Muktamar Ke-35 Nahdlatul Ulama (NU) yang dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Pondok Pesantren Bahrul Ulum Tambakberas, Jombang.

Usulan tersebut mencakup fleksibilitas masa khidmah kepengurusan PCINU, penguatan diplomasi internasional, pemberdayaan ilmuwan Nahdliyin di bidang sains dan teknologi, hingga dukungan terhadap penyediaan lahan pemakaman bagi umat Islam di Jepang.

Ketua PCINU Jepang Achmad Gazali mengatakan masa kepengurusan PCINU sebaiknya tidak diseragamkan dengan kondisi seluruh negara. Menurutnya, karakteristik organisasi NU di luar negeri berbeda-beda sehingga membutuhkan kebijakan yang lebih fleksibel.

Baca Juga: Jelang Muktamar ke-35 NU, Alvara Soroti Tantangan Strategis Kepemimpinan PBNU

Ia menilai masa khidmah selama dua tahun belum cukup untuk menjalankan berbagai program di Jepang yang saat ini membina 17 Majelis Wakil Cabang Istimewa Nahdlatul Ulama (MWCINU), sembilan lembaga, lima badan otonom, dan satu entitas Keluarga Mahasiswa Nahdlatul Ulama (KMNU).

Gazali berpandangan fleksibilitas masa kepengurusan akan membantu menjaga kesinambungan program sekaligus meningkatkan efektivitas organisasi.

Selain persoalan kelembagaan, PCINU Jepang juga mengusulkan agar PBNU memperkuat peran diplomasi internasional melalui jaringan PCINU di berbagai negara. Menurut Gazali, hubungan yang telah terbangun dengan ulama maupun tokoh Muslim di Jepang dapat dikembangkan menjadi kerja sama yang lebih luas melalui seminar, forum akademik, maupun pertukaran kunjungan.

Ia juga mendorong PBNU memberikan perhatian lebih besar terhadap potensi ilmuwan Nahdliyin yang berkiprah di bidang Science, Technology, Engineering, and Mathematics (STEM).

Menurutnya, NU telah memiliki banyak akademisi dan peneliti di bidang sains dan teknologi, namun belum memiliki wadah yang mampu mengonsolidasikan kontribusi mereka secara maksimal bagi pengembangan organisasi.

Selain itu, Gazali menilai persoalan penyediaan lahan pemakaman Muslim di Jepang menjadi kebutuhan yang semakin mendesak seiring meningkatnya jumlah warga negara Indonesia yang bermukim di negara tersebut.

Ia berharap PBNU dapat menjalin komunikasi dengan pemerintah Indonesia agar mendorong kerja sama dengan pemerintah Jepang terkait penyediaan lahan pemakaman bagi umat Islam.

Menurut Gazali, fasilitas pemakaman Muslim yang tersedia di Prefektur Ibaraki dan Saitama memiliki kapasitas terbatas, sementara biaya pemulangan jenazah ke Indonesia juga relatif tinggi.

PCINU Jepang saat ini juga tengah mengupayakan pembelian dua kavling lahan pemakaman di Saitama dan berharap memperoleh dukungan pendanaan melalui LAZISNU.

Selain berbagai usulan tersebut, Gazali menginginkan adanya mekanisme komunikasi yang lebih rutin antara PBNU dengan seluruh PCINU di berbagai negara. Menurutnya, komunikasi yang intensif akan memperkuat koordinasi sekaligus menjadi ruang berbagi pengalaman mengenai tantangan yang dihadapi warga Nahdliyin di luar negeri.

Baca Juga: PKB Jabar Dorong Muktamar NU Lahirkan Kepemimpinan Berkarakter Idham Chalid dan Gus Dur

Menjelang Muktamar Ke-35 NU, Gazali juga menyampaikan harapan agar kepemimpinan PBNU periode mendatang mampu menjaga marwah ulama, memiliki integritas, serta memahami kebutuhan warga Nahdliyin, termasuk yang berada di luar negeri.

Muktamar Ke-35 NU dijadwalkan berlangsung pada 27–31 Agustus 2026 di Jombang. Selain memilih Rais Aam dan Ketua Umum PBNU periode 2026–2031, forum permusyawaratan tertinggi NU tersebut juga akan membahas berbagai rekomendasi strategis terkait arah organisasi pada lima tahun mendatang, termasuk sejumlah usulan yang disampaikan berbagai badan otonom, lembaga, serta PCINU dari berbagai negara.

Sumber: NU Online.