Jakarta, CNN Indonesia --
Pemerintah membidik penerapan mandatori campuran bioetanol sebesar 20 persen (E20) mulai Januari 2028 sebagai langkah lanjutan memperkuat bauran energi nasional setelah implementasi biodiesel B50. Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) kini tengah menyiapkan regulasi hingga formula harga bioetanol dari berbagai bahan baku lokal.
Direktur Jenderal Energi Baru, Terbarukan, dan Konservasi Energi (EBTKE) Kementerian ESDM Eniya Listiani Dewi mengatakan target tersebut merupakan arahan Presiden Prabowo Subianto yang disampaikan usai peluncuran program biodiesel B50.
"Pada saat B50 saya sempat ditanya. Untuk etanol, ini untuk campuran bensin. Kemudian bisa 100 persen enggak? Bisa Pak. Ada beberapa jenis bioetanol," ujar Eniya usai acara Pekan Riset Sawit Indonesia (Perisai) di Jakarta, Senin (20/7).
ADVERTISEMENT
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut dia, pemerintah menargetkan implementasi mandatori bioetanol 20 persen mulai Januari 2028 dengan tetap menyesuaikan kemampuan produksi dalam negeri.
"Pokoknya 20 persen di Januari 2028. Tetapi tadi disesuaikan dengan kemampuan lokal," katanya.
Eniya mengatakan pemerintah akan mendorong badan usaha swasta membangun pabrik bioetanol sebagaimana keberhasilan pengembangan industri biodiesel.
"Nanti swasta itu boleh dan sangat kita dorong untuk bisa menghasilkan pabrik-pabrik itu. Tinggal bahan bakunya," ujarnya.
Ia menyebut pembangunan pabrik bioetanol diperkirakan membutuhkan waktu sekitar satu setengah tahun. Namun, tantangan terbesar justru memastikan ketersediaan bahan baku.
Untuk tahap awal, pemerintah menyiapkan tiga sumber bahan baku utama, yakni singkong, jagung, serta tebu. Khusus jagung, bahan baku bioetanol akan memanfaatkan bonggol, bukan bijinya, sehingga tidak mengganggu kebutuhan pangan.
"Nah bahan bakunya kita adres tiga dulu. Singkong, ketela yang besar-besar, lalu jagung, kalau jagung bonggolnya, bukan jagungnya," tutur Eniya.
Ia menambahkan produksi bioetanol juga akan meningkat seiring kenaikan produksi gula dari tebu maupun hasil panen jagung.
"Semakin banyak kita produksi gula, maka semakin banyak kita dapatkan bioetanol. Semakin banyak kita produksi jagung, semakin banyak juga kita dapatkan bioetanol," ucapnya.
Selain menyiapkan bahan baku, pemerintah juga tengah menyusun formula harga bioetanol berbasis singkong dan jagung. Saat ini formula harga baru tersedia untuk bioetanol berbahan baku molase tebu.
"Kalau yang dari jagung itu belum. Lalu ketela juga belum. Nah ini saya dalam enam bulan ini insya Allah bisa," kata Eniya.
Formula tersebut nantinya akan menjadi dasar penetapan harga bioetanol sesuai karakteristik masing-masing bahan baku.
Sementara itu, di sektor biodiesel, Badan Pengelola Dana Perkebunan (BPDP) memastikan pendanaan program B50 masih mencukupi meski kebutuhan biodiesel meningkat.
Direktur Utama BPDP Eddy Abdurrachman mengatakan kebutuhan insentif biodiesel tahun ini justru turun menjadi sekitar Rp32,3 triliun dari rencana awal sekitar Rp47 triliun, menyusul kenaikan harga solar yang membuat pemerintah tidak perlu membayar insentif selama tiga bulan terakhir.
"Cashflow kita sampai sekarang masih bagus," ujar Eddy.
Menurutnya, kondisi tersebut membuat BPDP masih mampu mendukung pendanaan program biodiesel, termasuk implementasi B50 yang mulai berlaku pada tahun ini.
(lau/ins)
Add
as a preferred
source on Google