Jakarta (ANTARA) - Pemerintah menegaskan kepemilikan aset kapal pesiar berlogo instansi Kementerian Pertahanan yang viral di media sosial tetap berada di tangan pihak swasta.
Kepala Biro Informasi Pertahanan Kemenhan Brigadir Jenderal TNI Rico Ricardo Sirait
kapal swasta tersebut memang dikerahkan untuk mendukung operasi dan logistik program strategis nasional, khususnya percepatan ketahanan pangan di berbagai wilayah Indonesia.
"Pemanfaatannya diarahkan penuh untuk menyokong kerja besar negara dalam mewujudkan swasembada pangan," ujar Brigjen TNI Rico dalam keterangan di Jakarta, Sabtu.
Ia menjelaskan penempelan logo Kemenhan pada kapal milik Jhonlin Marine Transport tersebut menandakan aktivitas operasional armada berada di bawah otoritas dan penugasan pemerintah.
Disebutkan bahwa kapal digunakan untuk mendukung kegiatan dan mobilisasi kebutuhan program ketahanan pangan yang dilaksanakan di sejumlah wilayah Indonesia, termasuk Wanam, Papua Selatan, serta wilayah Kalimantan dan Sumatera.
Adapun kapal pesiar ekspedisi J7 Explorer mendadak menjadi perbincangan hangat di media sosial. Pemicunya, lambung kapal mewah sepanjang 120 meter tersebut tampak disemati logo resmi Kemenhan.
Dalam keterangan terpisah, pengusaha asal Kalimantan Selatan, Andi Samsudin Arsyad atau Haji Isam mengaku kapal tersebut merupakan miliknya. Kapal J7 Explorer berbobot 8.076 GT itu disebut dibangun di Batam dan selesai pada 2022.
Alih-alih dipakai untuk plesiran mewah, Isam mengatakan kapal megah tersebut "disulap" menjadi kapal induk atau pangkalan bergerak (floating base camp) untuk mendukung proyek pencetakan sawah skala besar di Wanam, Kabupaten Merauke, Papua Selatan.
Menurutnya, karakter geografis Papua Selatan yang terisolasi dan minim infrastruktur darat menjadikan keberadaan J7 Explorer sangat krusijal.
Dijelaskan bahwa kapal tersebut berfungsi sebagai pusat koordinasi, tempat tinggal sementara para tenaga ahli, sekaligus titik tumpu rantai logistik di tengah sulitnya akses lapangan.
Ia menegaskan keterlibatan J7 Explorer menjadi bagian keterlibatan swasta merespons agenda prioritas ketahanan pangan di era pemerintahan Presiden Prabowo Subianto.
Guna mengejar target cetak sawah di Merauke, kata dia, ribuan unit alat berat serta tenaga profesional dari dalam dan luar negeri diterjunkan langsung ke lokasi proyek.
"Sekitar 2.000 ekskavator didatangkan dari China. Selain itu, tenaga ahli dari China, Jepang, dan Eropa juga dilibatkan untuk mendukung pekerjaan di lapangan," ungkap Isam.
Dia menuturkan keterlibatannya dalam mega proyek itu bukan semata-mata berhitung soal untung rugi bisnis, melainkan bentuk tanggung jawab menjalankan amanah negara.
Dengan demikian, proyek tersebut diharapkan tak hanya memperkuat stok pangan nasional, tetapi juga membuka lapangan kerja baru bagi masyarakat Papua.
Dengan peran baru di Merauke, sambung dia, J7 Explorer kini melepaskan citranya sebagai kapal pesiar mewah. Kapal raksasa itu menjelma menjadi infrastruktur penunjang utama yang bergerak menembus bentang alam timur Indonesia demi menyukseskan proyek pangan nasional.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pemerintah: Kepemilikan pesiar berlogo Kemenhan di tangan pihak swasta
Pewarta: Agatha Olivia Victoria
Editor : Debby H. Mano
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.