Ruang laut kita menyimpan potensi EBT yang luar biasa besar mulai dari energi angin pesisir (offshore wind), energi surya terapung (floating solar PV), hingga energi arus laut dan gelombang
Jakarta (ANTARA) - Pemerintah menyiapkan pengembangan Pembangkit Listrik Tenaga Arus Laut (PLTAL) di perairan Nusa Penida, Bali, yang ditargetkan mulai beroperasi pada 2029 sebagai bagian dari pengembangan energi baru dan terbarukan (EBT).
Direktur Jenderal Penataan Ruang Laut Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Kartika Listriana mengatakan perairan Nusa Penida dipilih sebagai lokasi pengembangan proyek tersebut berdasarkan data pengukuran arus laut, kesiapan interkoneksi jaringan listrik dan transportasi, serta dukungan kebijakan pemerintah daerah.
“Ruang laut kita menyimpan potensi EBT yang luar biasa besar mulai dari energi angin pesisir (offshore wind), energi surya terapung (floating solar PV), hingga energi arus laut dan gelombang,” kata Kartika dalam keterangan pers KKP di Jakarta, Rabu.
Menurut dia, pengembangan potensi tersebut memerlukan tata kelola ruang laut yang presisi, terintegrasi, dan berkelanjutan agar dapat dimanfaatkan sebagai sumber energi yang memberi nilai tambah.
Kartika mengatakan kebutuhan pembangunan ekonomi biru dan ekonomi hijau, perubahan iklim, serta meningkatnya permintaan energi menjadi tantangan yang harus direspons melalui pengelolaan ruang laut yang terencana dan berkeadilan.
“Sinergi antarpemangku kepentingan merupakan kunci utama agar regulasi dan instrumen kesesuaian kegiatan pemanfaatan ruang laut yang kita susun dapat adaptif terhadap perkembangan teknologi energi masa depan,” ujarnya.
Baca juga: Bali mulai bahas potensi pembangkit listrik arus laut Nusa Penida
Sementara itu, dalam keterangan yang sama, Gubernur Bali I Wayan Koster berharap Bali mampu mewujudkan kemandirian energi melalui pemanfaatan sumber energi bersih.
Pemerintah Provinsi Bali juga menyiapkan rancangan Keputusan Gubernur untuk menetapkan Nusa Penida sebagai kawasan rendah karbon.
“Kami menyiapkan rancangan Keputusan Gubernur untuk menetapkan Nusa Penida sebagai kawasan rendah karbon,” kata Koster.
Adapun pakar pengembangan energi baru terbarukan Institut Teknologi Bandung (ITB) sekaligus peneliti University of Maryland, Amerika Serikat, Dwi Susanto menilai Indonesia memiliki potensi besar memanfaatkan energi arus laut sebagai sumber pembangkit listrik.
Ia menjelaskan selat-selat di Indonesia, termasuk di kawasan Nusa Penida, memiliki potensi energi arus laut yang besar sehingga sangat prospektif untuk dikembangkan menjadi PLTAL.
Ia menyebut potensi energi listrik dari tiga selat di sekitar Nusa Penida diperkirakan mencapai 376,8 megawatt (MW), yang dinilai lebih dari cukup untuk memenuhi kebutuhan listrik wilayah tersebut meskipun pengembangannya akan dilakukan secara modular sesuai dengan kebutuhan.
Namun, menurut dia, potensi tersebut tidak akan berkembang tanpa dukungan pemerintah dan partisipasi masyarakat dalam pemanfaatannya.
“Potensi energi dari arus laut hanya akan menjadi sebatas angka potensi saja jika tidak ada aksi dari masyarakat dan dukungan dari pemerintah untuk memanfaatkannya,” ujar Dwi.
Baca juga: PLN bangun kabel bawah laut pertama di Sulawesi perluas akses listrik
Baca juga: KKP dan PLN sinkronkan tata ruang laut untuk infrastruktur listrik
Pewarta: Shofi Ayudiana
Editor: Agus Salim
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.