Palangka Raya (ANTARA) - Pemerintah Kabupaten Kotawaringin Barat (Kobar), Kalimantan Tengah (Kalteng), mengembangkan Tradisi Bebersih Kampung Laut Darat di Desa Sabuai, Kecamatan Kumai, sebagai daya tarik wisata budaya sekaligus memperkuat pelestarian warisan budaya masyarakat setempat.
Kepala Dinas Pariwisata Kobar Rona Nirmala di Pangkalan Bun, Rabu, mengatakan prosesi adat tahunan tersebut memiliki potensi besar untuka diusulkan masuk dalam Calendar of Events (CoE) Kabupaten Kotawaringin Barat karena memadukan ritual adat yang sakral dengan kekayaan kuliner tradisional, seni pertunjukan, dan busana adat.
"Prosesi adat tersebut memiliki keautentikan yang luar biasa. Perpaduan antara ritual adat yang sakral, kekayaan 40 jenis kuliner tradisional, seni pertunjukan, serta busana adat menjadi kekuatan besar untuk menghadirkan pengalaman wisata budaya yang berkelas di Kobar," katanya.
Tradisi Bebersih Kampung Laut Darat merupakan warisan budaya yang rutin dilaksanakan masyarakat Desa Sabuai sebagai bentuk ungkapan syukur atas keberkahan alam sekaligus penghormatan kepada leluhur. Prosesi tersebut dinilai memiliki nilai sakral yang kuat serta mampu menghadirkan pengalaman wisata budaya dan gastronomi yang khas bagi wisatawan.
Rona mengatakan pihaknya akan terus memberikan pendampingan agar tradisi tersebut dapat berkembang sebagai destinasi wisata budaya tanpa mengurangi nilai-nilai sakral yang diwariskan oleh para leluhur.
"Pengembangannya tetap memperhatikan nilai-nilai adat yang ada, karena merupakan warisan dari para leluhur," ujarnya.
Menurut dia, pengembangan tradisi tersebut juga perlu didukung penyusunan standar operasional prosedur (SOP) bagi wisatawan agar kesakralan ritual tetap terjaga, kebersihan kawasan pesisir terpelihara, serta mampu menghadirkan pengalaman wisata yang berkualitas dan berkelanjutan.
Dalam prosesi Bebersih Kampung Laut Darat, rangkaian kegiatan diawali dengan permohonan izin kepada leluhur penjaga wilayah, kemudian masyarakat secara gotong royong menyiapkan enam ancak berisi 40 jenis kue tradisional khas Sabuai sebagai simbol penghormatan dan rasa syukur.
Selanjutnya, ancak tersebut diarak menuju enam titik sakral, yakni Muhara, Natai Bata, Sambu, Beguruh, Tatah, dan Laut Lepas di perairan Pantai Sabuai. Setiap lokasi memiliki makna filosofis dan kosmologis yang mencerminkan keharmonisan hubungan manusia dengan alam dan Sang Pencipta.
Rona berharap tradisi adat Desa Sabuai itu dapat semakin memperkuat citra Kabupaten Kotawaringin Barat sebagai destinasi wisata budaya di Kalimantan Tengah, sekaligus menjadi upaya pelestarian warisan budaya agar tetap dikenal dan diwariskan kepada generasi muda.
Baca juga: Kotawaringin Barat optimalkan desa wisata pacu ekonomi daerah
Baca juga: Desa Wisata Pasir Panjang Kalteng ramai dikunjungi wisatawan
Pewarta: Rendhik Andika
Editor: Budhi Santoso
Copyright © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.