Ambon (ANTARA) - Dinas Tenaga Kerja dan Transmigrasi (Disnakertrans) Provinsi Maluku menargetkan sedikitnya 60 persen tenaga kerja lokal mengisi posisi staf dan operator tingkat menengah pada konstruksi Proyek Strategis Nasional (PSN) Blok Masela untuk meningkatkan keterlibatan masyarakat.
Kepala Disnakertrans Maluku M. Rizal Latuconsina di Ambon, Kamis, mengatakan target tersebut disiapkan melalui peningkatan kompetensi tenaga kerja lokal agar mampu memenuhi kebutuhan industri migas, sekaligus memastikan manfaat ekonomi proyek Blok Masela dapat dirasakan masyarakat.
"Target kami minimal 60 persen posisi staf dan operator tingkat menengah pada fase konstruksi awal diisi tenaga kerja lokal. Karena itu, yang kami dorong sekarang bukan hanya rekrutmen, tetapi juga kesiapan kompetensi masyarakat Maluku agar sesuai dengan kebutuhan industri," katanya.
Ia menjelaskan pemerintah pusat bersama INPEX sebagai operator Proyek Blok Masela telah menyepakati bahwa proses rekrutmen tenaga kerja akan mengutamakan masyarakat Maluku, khususnya yang berada di wilayah terdampak langsung, yakni Kabupaten Kepulauan Tanimbar dan Kabupaten Maluku Barat Daya.
Menurut dia, kebijakan tersebut sejalan dengan arahan pemerintah agar pembangunan proyek strategis nasional memberikan dampak langsung terhadap peningkatan kesejahteraan masyarakat di daerah.
Rizal mengatakan pemerintah juga telah menyiapkan sumber daya manusia sejak beberapa tahun terakhir. Sejumlah putra-putri asal Kepulauan Tanimbar dan Maluku Barat Daya telah memperoleh pendidikan di Akademi Minyak dan Gas (Akamigas) Cepu milik Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral sebagai bagian dari persiapan kebutuhan tenaga kerja Blok Masela.
Selain meningkatkan penyerapan tenaga kerja lokal, Disnakertrans Maluku juga menargetkan sebanyak 2.000 tenaga kerja memperoleh sertifikasi kompetensi Badan Nasional Sertifikasi Profesi (BNSP) maupun sertifikasi internasional pada bidang migas dan sektor pendukung.
"Kami ingin tenaga kerja lokal tidak hanya menjadi penonton, tetapi memiliki sertifikasi yang diakui sehingga mampu bersaing mengisi kebutuhan tenaga kerja proyek Blok Masela," ujarnya.
Untuk mendukung target tersebut, Disnakertrans akan memperkuat berbagai program pelatihan yang disesuaikan dengan kebutuhan industri, termasuk mewajibkan peserta mengikuti skema magang bersertifikat selama enam hingga 12 bulan di fasilitas proyek maupun perusahaan penyedia jasa (vendor) utama sebagai syarat kelulusan pelatihan daerah.
Selain itu, setiap program pelatihan akan mengintegrasikan materi Bahasa Inggris teknis, keselamatan dan kesehatan kerja (K3), serta pembentukan etos kerja industri guna meningkatkan kesiapan tenaga kerja menghadapi lingkungan kerja migas.
Disnakertrans juga menyiapkan skema alih teknologi secara bertahap melalui program shadowing, yakni pekerja lokal mendampingi tenaga ahli asing sejak tahap konstruksi hingga memasuki masa operasi.
"Melalui skema ini kami menargetkan seluruh tenaga kerja asing pada posisi ahli memiliki pendamping lokal dengan logbook transfer pengetahuan yang dapat diverifikasi, sehingga keahlian tersebut nantinya dapat dikuasai tenaga kerja daerah," kata Rizal.
Ia menambahkan Disnakertrans juga menargetkan terciptanya iklim ketenagakerjaan yang kondusif selama pembangunan Blok Masela dengan mendorong komunikasi antara pemerintah, perusahaan, dan masyarakat guna mencegah munculnya konflik sosial terkait proses rekrutmen tenaga kerja.
"Kami ingin pembangunan Blok Masela berjalan lancar dengan mengedepankan tenaga kerja lokal yang kompeten, sehingga proyek ini benar-benar menjadi pengungkit pertumbuhan ekonomi sekaligus membuka kesempatan kerja yang luas bagi masyarakat Maluku," ujarnya.
Pewarta: Ode Dedy Lion Abdul Azis
Editor : Daniel
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.