Jakarta (ANTARA) - Pengamat ekonomi dari Universitas Indonesia (UI) Heru Sutadi menilai tantangan terbesar sektor keuangan saat ini bukan lagi memperluas digitalisasi layanan, melainkan membangun financial wellness atau kesejahteraan finansial masyarakat agar transformasi digital benar-benar memberikan dampak terhadap pertumbuhan ekonomi.
Heru mengatakan penggunaan keuangan digital terutama pada anak muda cenderung meningkat dengan kecakapan mengadopsi dompet digital, QRIS hingga investasi digital untuk memenuhi gaya hidup. Namun kemudahan akses perlu didorong dengan penggunaan yang meningkatkan kesejahteraan.
“Tantangannya kini bukan lagi mendorong adopsi, melainkan memastikan penggunaan layanan tersebut dilakukan secara bijak, aman, dan produktif sehingga benar-benar meningkatkan kesejahteraan finansial,” kata Heru kepada ANTARA, Sabtu.
Heru menilai kesadaran generasi muda terhadap pentingnya investasi dan perencanaan keuangan mulai meningkat karena akses informasi yang semakin luas.
Menurut dia, meningkatnya penggunaan layanan keuangan digital belum sepenuhnya mencerminkan naiknya literasi keuangan masyarakat. Tingginya transaksi digital lebih banyak menunjukkan perubahan cara bertransaksi dibanding kemampuan mengelola keuangan secara sehat.
Ia menjelaskan indikator literasi keuangan tidak hanya diukur dari kemampuan menggunakan aplikasi digital, tetapi juga kemampuan menyusun anggaran, menabung secara rutin, berinvestasi sesuai profil risiko, serta memahami manfaat dan risiko setiap produk keuangan.
“Masih banyak yang terjebak gaya hidup konsumtif, penggunaan paylater berlebihan, atau investasi tanpa memahami risikonya. Karena itu, literasi keuangan tetap menjadi pekerjaan rumah yang harus terus diperkuat," ujarnya.
Heru mengatakan semakin banyak anak muda yang memiliki kemampuan mengelola keuangan secara sehat, semakin besar pula kontribusinya terhadap pertumbuhan ekonomi nasional.
Tabungan dan investasi akan meningkatkan pembentukan modal, transaksi digital mendorong efisiensi ekonomi, sementara akses pembiayaan yang sehat dapat melahirkan lebih banyak wirausaha baru.
Ia mengatakan perbankan perlu bertransformasi dengan membangun ekosistem yang tidak hanya berfokus pada penyediaan aplikasi digital, tetapi juga mendorong nasabah mengelola keuangan secara lebih baik.
Upaya tersebut dapat dilakukan melalui penyediaan fitur perencanaan keuangan, target menabung, investasi bertahap, hingga pengingat pengelolaan keuangan yang terintegrasi dalam layanan digital.
Selain itu, kolaborasi dengan perguruan tinggi, komunitas, dan berbagai platform digital dinilai lebih efektif untuk meningkatkan literasi keuangan generasi muda dibandingkan hanya mengandalkan promosi atau insentif sesaat.
Berita ini telah tayang di Antaranews.com dengan judul: Pengamat: Kesejahteraan finansial jadi tantangan baru era digitalisasi
Pewarta: Fitra Ashari
Uploader : Moh Ponting
COPYRIGHT © ANTARA 2026
Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.