Pengamat sebut kewarganegaraan ganda bawa untung-rugi bagi olahraga

Jakarta (ANTARA) - Pengamat sepak bola Indonesia Mohamad Kusnaeni menyebutkan pemberlakuan kebijakan kewarganegaraan ganda yang diusulkan pemerintah membawa potensi untung dan rugi bagi pembangunan olahraga nasional.

"Menurut saya, rencana kebijakan kewarganegaraan ganda memang harus diambil dengan hati-hati karena ada sisi untung dan rugi, meski untungnya lebih banyak termasuk untuk pembangunan olahraga Indonesia," kata Mohamad Kusnaeni di Jakarta, Jumat.

Ia menyampaikan hal itu menanggapi langkah pemerintah mengusulkan kewarganegaraan ganda yang disampaikan Presiden Prabowo dalam Penyampaian Pengantar/Keterangan Pemerintah atas RUU tentang APBN Tahun Anggaran 2027 beserta Nota Keuangan di Gedung MPR RI, Jakarta.

Prabowo mengusulkan agar Indonesia memberlakukan kewarganegaraan ganda bagi talenta-talenta tertentu yang dibutuhkan bangsa Indonesia. Menurut Kepala Negara, Indonesia memiliki jutaan warga diaspora yang tersebar di seluruh dunia. Di antara mereka, ada yang menjadi ilmuwan hebat, dokter, insinyur, ahli kecerdasan buatan, seniman, serta atlet, terutama pemain bola profesional kelas dunia.

Namun, sebagian terpaksa mengambil kewarganegaraan lain karena kebutuhan karier, keluarga, atau pengabdian mereka di luar negeri. Sementara itu, pemerintah tidak bisa memaksa talenta terbaik Indonesia memilih antara kesempatan berkarya di level dunia dan ikatan mereka kepada Tanah Air.

Oleh sebab itu, ia mengusulkan agar dewan melakukan perubahan undang-undang untuk membuka kewarganegaraan ganda secara terbatas bagi mereka yang memiliki talenta istimewa dan dapat memberikan sumbangan luar biasa bagi kepentingan nasional.

Prabowo menegaskan kebijakan itu harus dirancang secara selektif dan terukur, disertai uji integritas, kewajiban yang jelas, serta perlindungan penuh terhadap keamanan dan kepentingan negara.

Baca juga: Prabowo: Pemerintah usulkan kewarganegaraan ganda terbatas

Kusnaeni menilai usulan kebijakan tersebut merupakan bentuk sikap yang realistis dari Presiden terhadap perkembangan globalisasi yang menghadirkan pertukaran antarnegara di berbagai aspek, terutama negara-negara yang memiliki hubungan historis.

Dari segi olahraga, pertukaran terjadi, baik dari segi atlet maupun bisnis olahraga. Ia mencontohkan banyak pemain sepak bola di Liga Prancis yang berasal dari Maroko. Banyak pemain Maroko yang memiliki kewarganegaraan ganda (Maroko-Prancis) karena kedua negara memiliki hubungan historis yaitu Maroko merupakan bekas jajahan Prancis.

Demikian pula Inggris dengan dengan negara bekas jajahannya seperti Australia maupun Singapura, serta negara-negara lainnya.

"Jadi memang kewarganegaraan ganda merupakan sesuatu yang lumrah secara global," katanya.

Hanya saja, Kusnaeni melanjutkan, jika Indonesia menerapkan kebijakan tersebut, maka harus dilandasi prinsip kehati-hatian dengan proses dan pertimbangan yang matang karena hukum Indonesia masih mengakui satu kewarganegaraan.

Menurutnya, kebijakan tersebut bisa menjadi angin segar bagi kemajuan olahraga di Indonesia karena memudahkan talenta atlet diaspora yang selama ini kesulitan untuk memilih menjadi WNI atau tetap menjadi warga negara lain demi karier dan masa depannya.

Namun, kata dia, sisi lain perlu diperhitungkan secara matang karena warga yang mendapat kebijakan tersebut memiliki loyalitas ganda sehingga harus diuji dengan standar yang jelas. Selain itu, juga terkait potensi gangguan terhadap peluang atlet Indonesia sendiri.

"Jadi memang (kebijakan kewarganegaraan ganda) harus sangat hati-hati, dibahas secara komprehensif, secara bijaksana," katanya.

Baca juga: Pemerintah usulkan kewarganegaraan ganda terbatas bagi talenta

Pewarta: Aloysius Lewokeda
Editor: Irwan Suhirwandi
Copyright © ANTARA 2026

Dilarang keras mengambil konten, melakukan crawling atau pengindeksan otomatis untuk AI di situs web ini tanpa izin tertulis dari Kantor Berita ANTARA.