Jakarta -
enyelesaian sengketa senilai USD 18 miliar (Rp 321 triliun) oleh Meta dalam kasus federal Amerika Serikat mengenai kecanduan media sosial dinilai sebagian pihak belum memuaskan.
Kesepakatan yang diumumkan bersama Jaksa Agung California Rob Bonta dan kelompok bipartisan yang terdiri dari 51 Jaksa Agung membuat Meta masih rentan terhadap litigasi lanjutan yang berasal dari tuduhan serupa, serta berbagai pembatasan regulasi yang mungkin akan mengikuti.
"Kesepakatan ini sama sekali tidak bersifat mencegah tuntutan lain. Secara konseptual, ini adalah batas bawah, bukan batas atas," ujar Bonta yang dikutip detikINET dari CNBC.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa pihak menilai perusahaan tersebut lolos dengan mudah, terutama mengingat kapitalisasi pasarnya yang mencapai USD 1,5 triliun.
Pengacara Meta sebelumnya memperingatkan gabungan persidangan Jaksa Agung negara bagian ini dapat berujung ganti rugi hingga USD 1,4 triliun, sementara pengacara yang mewakili negara bagian menyebut angka USD 200 miliar sebagai jumlah yang lebih masuk akal.
Kesepakatan tersebut tercapai hanya sekitar sepekan setelah sidang pembacaan argumen pembuka dimulai. Satu-satunya eksekutif penting Meta yang bersaksi adalah Kepala Instagram Adam Mosseri.
Jaksa Agung Florida, James Uthmeier, mengkritik pembayaran ganti rugi tersebut. "Ini sudah pasti kemenangan bagi Meta. Pendapatan senilai beberapa minggu, itu tak cukup ketika Anda membicarakan perusahaan sebesar ini," ujar Uthmeier. Florida masih terus melanjutkan gugatan serupa terhadap Meta.
"Kami akan maju ke pengadilan, kami siap bertarung demi anak-anak kami di Florida. Kami takkan tunduk dan menyerah," cetusnya.
Texas bukan bagian dari penyelesaian, namun mereka sepakat menerima pembayaran USD 1 miliar secara terpisah.
Di luar masalah dana, Meta harus melakukan perubahan pada aplikasinya seperti Facebook dan Instagram. Perubahan meliputi batasan penggunaan harian dan jam malam bagi remaja, verifikasi usia yang ditingkatkan, serta pembuatan fitur tambahan untuk orang tua dan wali.
Para legislator masih dapat memberlakukan aturan tambahan terhadap Meta dan industri medsos secara lebih luas. Terdapat pula sebuah kasus gabungan yang melibatkan klaim kerugian perorangan dan kasus federal terpisah.
Para pengacara yang mewakili kelompok-kelompok tersebut menyatakan berencana melanjutkan proses litigasi terhadap Meta beserta kompetitornya.
"Ribuan anak muda dan distrik sekolah negeri masih punya tuntutan tertunda terhadap Meta, begitu juga dengan TikTok, Snap, dan YouTube, dan kami siap melanjutkan pertarungan itu," kata para pengacara yang mewakili distrik sekolah.
(fyk/fyk)
TAGS
LIHAT LAINNYA