Perang Iran Masuk Bulan Kelima, Trump Mulai Frustrasi dan Pertimbangkan Eskalasi Militer

AKURAT.CO Presiden Amerika Serikat Donald Trump disebut semakin frustrasi dan skeptis terhadap peluang tercapainya perdamaian jangka panjang seiring perang dengan Iran memasuki bulan kelima tanpa tanda-tanda akan segera berakhir.

Menurut laporan The Wall Street Journal yang terbit Kamis, sejumlah pejabat pemerintahan dan orang-orang dekat Trump khawatir konflik berkepanjangan tersebut mulai membebani pemerintahan Presiden AS itu. Perang disebut berpotensi mendorong kenaikan harga, menekan tingkat kepuasan publik terhadap Trump, sekaligus mengancam peluang Partai Republik dalam pemilu paruh waktu atau midterm elections mendatang.

Seorang pejabat senior pemerintahan mengatakan Trump meyakini bahwa Iran hanya memahami bahasa kekuatan militer. Trump disebut berada dalam kondisi "revenge mode" atau mode balas dendam terhadap Teheran, sehingga pilihan untuk melanjutkan serangan militer menjadi semakin terbuka.

Di tengah situasi tersebut, Amerika Serikat terus mengerahkan tambahan pasukan dan persenjataan ke kawasan Timur Tengah. Langkah ini dilakukan ketika Trump mempertimbangkan eskalasi militer lebih lanjut, meski pemerintahannya menghadapi kekhawatiran mengenai besarnya biaya perang serta dukungan publik terhadap konflik yang berkepanjangan.

Hubungan Trump dan Netanyahu Ikut Menegang

Perang dengan Iran juga dilaporkan berdampak pada hubungan Trump dengan Perdana Menteri Israel Benjamin Netanyahu.

Seorang pejabat senior pemerintahan mengatakan Trump kini enggan berbicara maupun bertemu dengan Netanyahu. Ketegangan tersebut muncul di tengah meningkatnya tekanan politik dan militer akibat perang yang belum menunjukkan jalan keluar.

Sebelumnya, Trump juga dilaporkan mempertimbangkan serangan besar-besaran Amerika Serikat terhadap Iran sebagai bagian dari strategi untuk menekan Teheran.

Trump Disebut Jadi Target Ancaman Pembunuhan Iran

Konflik yang memasuki bulan kelima ini juga memberikan tekanan personal kepada Trump dan sejumlah penasihat seniornya.

Menurut orang-orang yang mengetahui situasi tersebut, beberapa pejabat pemerintahan telah mendapat peringatan dari badan intelijen Amerika Serikat mengenai ancaman pembunuhan yang diduga berasal dari Iran. Mereka bahkan disarankan meningkatkan kewaspadaan dan menghindari penggunaan layanan kendaraan tertentu.

Saat menghadiri KTT NATO di Turki, Trump dilaporkan menerima pengarahan mengenai informasi intelijen Israel terkait dugaan rencana Iran untuk membunuhnya.

Meski sejumlah pejabat AS mempertanyakan kredibilitas informasi tersebut, pengarahan itu disebut turut memengaruhi keputusan Trump untuk kembali ke Amerika Serikat menggunakan pesawat kepresidenan Air Force One yang lebih lama, bukan jet yang diberikan Qatar kepada pemerintah AS.

Trump kemudian dilaporkan murka setelah The New York Times mengungkap alasan di balik pergantian pesawat tersebut. Ia menilai kebocoran informasi itu dapat menimbulkan risiko keamanan dan pemerintahannya pun berupaya mencari sumber kebocoran.

Harga BBM Jadi Perhatian Trump

Di tengah perang yang terus berlangsung, Trump juga disebut mendorong agar harga bensin turun menjelang pemilu paruh waktu.

Orang-orang yang mengetahui pembicaraan internal pemerintahan mengatakan Trump dinilai tidak terlalu khawatir dibandingkan para penasihatnya mengenai dampak politik perang terhadap Partai Republik.

Namun, para penasihat Trump disebut semakin cemas bahwa konflik berkepanjangan dengan Iran dapat menjadi beban politik bagi pemerintahannya. Selain meningkatkan tekanan terhadap harga energi dan ekonomi, perang juga berpotensi memengaruhi tingkat kepuasan pemilih menjelang pemilu paruh waktu.

Dengan perang memasuki bulan kelima, Trump kini menghadapi dilema besar: melanjutkan tekanan militer terhadap Iran dengan risiko konflik semakin meluas, atau mencari jalan keluar diplomatik yang dapat menghentikan perang tanpa dianggap sebagai bentuk kekalahan Amerika Serikat.

Sumber: Middleeastmonitor