REPUBLIKA.CO.ID,JAKARTA -- Organisasi perempuan alumni Al-Azhar Mesir, Wihdah Azhariyah Indonesia (WAZIN) terus memperkuat kiprahnya dalam dakwah, pendidikan, dan pemberdayaan masyarakat. Komitmen tersebut diwujudkan melalui tiga agenda yang digelar dalam rangkaian Temu Ukhuwah WAZIN di Jakarta, Ahad (9/8/2026).
Tiga agenda tersebut meliputi peresmian Sekretariat DPP WAZIN, peluncuran Majelis Ta'lim wa Muzakarah WAZIN (Mata Wazin), serta talkshow tentang ketahanan ekonomi keluarga berbasis nilai-nilai syariah.
Mengusung tema “Bersinergi Menjadi Cahaya Umat: Menguatkan Peran Muslimah Berilmu, Berakhlak dan Berdaya untuk Kemaslahatan”, kegiatan tersebut berlangsung di Sekretariat DPP WAZIN, Jalan Mini III 24A, Bambu Apus, Jakarta Timur.
Ketua Umum DPP WAZIN, Elly Warti Maliki mengatakan, dirangkainya tiga agenda tersebut dalam satu momentum mencerminkan semangat WAZIN untuk terus bergerak dan bersinergi dalam menghadirkan kemaslahatan bagi umat.
“Tiga agenda dalam satu kegiatan ini menjadi bukti bahwa WAZIN semakin menyala dalam kebaikan. Kita ingin terus bersinergi, bergerak bersama, dan menghadirkan program-program yang memberikan manfaat serta memberdayakan umat,” ujarnya dalam siaran pers yang diterima pada Senin (10/8/2026).
Menurut Elly, WAZIN sebagai wadah perempuan alumni Al-Azhar memiliki tanggung jawab untuk menghadirkan kontribusi nyata di tengah masyarakat. Kontribusi itu dilakukan melalui penguatan keilmuan, dakwah, pendidikan, hingga pemberdayaan keluarga dan masyarakat.
Ia menilai penguatan kapasitas Muslimah menjadi bagian penting dalam membangun keluarga dan masyarakat yang lebih baik. Karena itu, perempuan alumni Al-Azhar didorong tidak hanya memiliki kapasitas keilmuan dan akhlak, tetapi juga mampu berdaya serta memberikan kontribusi nyata.
Rangkaian kegiatan diawali dengan peresmian Sekretariat DPP WAZIN. Keberadaan sekretariat tersebut diharapkan menjadi tonggak baru dalam penguatan organisasi perempuan alumni Al-Azhar di Indonesia.
Sekretariat tidak hanya difungsikan sebagai pusat administrasi organisasi, tetapi juga sebagai rumah bersama keluarga besar WAZIN. Tempat tersebut diharapkan menjadi pusat berbagai aktivitas dakwah, pendidikan, pengabdian masyarakat, serta penguatan jejaring perempuan alumni Al-Azhar.
Dengan adanya sekretariat yang representatif, WAZIN berharap koordinasi dan sinergi antaranggota dari berbagai daerah dapat semakin kuat. Sekretariat juga diharapkan menjadi ruang untuk mempertemukan berbagai potensi dan gagasan perempuan alumni Al-Azhar dalam menghadirkan program yang bermanfaat bagi masyarakat.
Dalam kesempatan yang sama, WAZIN meluncurkan Majelis Ta'lim wa Muzakarah WAZIN (Mata Wazin) dengan tagline “Dengan Ilmu Menuju Peradaban.”
Mata Wazin dirancang sebagai ruang pembelajaran, kajian, dan penguatan kapasitas keilmuan bagi Muslimah secara berkelanjutan. Dalam rangkaian peluncuran tersebut, Miftahul Khairi dilantik sebagai Ketua Mata Wazin.
Mata Wazin diharapkan dapat memperkuat tradisi keilmuan sekaligus membangun budaya belajar dan berdiskusi di kalangan Muslimah.
Tradisi keilmuan Al-Azhar menjadi salah satu fondasi dalam membentuk Muslimah yang berilmu, berakhlak, berdaya, dan mampu berkontribusi bagi kemaslahatan umat.
Tagline “Dengan Ilmu Menuju Peradaban” juga menegaskan bahwa ilmu tidak berhenti pada proses pembelajaran. Ilmu diharapkan melahirkan amal, kontribusi, dan kebermanfaatan bagi masyarakat.
Agenda berikutnya adalah Talkshow Financial Keluarga Islami bertajuk “Membangun Ketahanan Ekonomi Keluarga Berbasis Nilai-Nilai Syariah.”
Talkshow menghadirkan Ardiansyah Rakhmadi, Asisten Direktur Madya Direktorat Pengaturan dan Pengembangan Keuangan Syariah OJK sekaligus anggota Bidang Fatwa Dewan Syariah Nasional (DSN) MUI, serta Marhamah Saleh, dosen Fakultas Ilmu Tarbiyah dan Keguruan UIN Syarif Hidayatullah Jakarta sekaligus anggota Komisi Fatwa MUI.
Ardiansyah mengingatkan masyarakat agar lebih berhati-hati ketika melakukan transaksi jual beli secara cicilan. Menurut dia, masyarakat perlu memastikan penyedia produk dan layanan yang digunakan memiliki legalitas, memahami akad dan ketentuan produk, serta menggunakan pembiayaan sesuai kebutuhan.
Selain itu, kemampuan membayar dan berbagai risiko juga perlu diperhitungkan sebelum mengambil pembiayaan.
Sementara itu, Marhamah menilai persoalan keuangan keluarga tidak selalu berkaitan dengan besar atau kecilnya pendapatan. Rendahnya literasi keuangan syariah, gaya hidup konsumtif, kesulitan membedakan kebutuhan dan keinginan, serta kurangnya keterbukaan antara suami dan istri juga dapat menjadi persoalan.
Karena itu, literasi keuangan dinilai menjadi bagian penting dalam membangun ketahanan sekaligus keharmonisan keluarga.
Pengelolaan keuangan keluarga, menurut dia, perlu dibangun atas dasar pengetahuan, keterbukaan, tanggung jawab, dan nilai-nilai syariah.
Dalam konteks tersebut, Muslimah memiliki peran strategis dalam membangun budaya pengelolaan keuangan yang sehat di keluarga. Peran itu tidak hanya berkaitan dengan mengatur dan merencanakan keuangan rumah tangga, tetapi juga menanamkan nilai tanggung jawab, hidup sederhana, dan kecakapan finansial kepada generasi berikutnya.
Melalui tiga agenda tersebut, WAZIN menegaskan komitmennya untuk terus memperkuat sinergi dan memperluas kebermanfaatan bagi umat.
Peresmian sekretariat menjadi penguatan rumah bersama organisasi, Mata Wazin menjadi ruang penguatan ilmu dan tradisi intelektual, sedangkan edukasi ketahanan ekonomi keluarga menjadi upaya menghadirkan solusi yang relevan bagi keluarga Muslim.