Majalengka -
Di Desa Cieurih, Majalengka, ada buah unik yang konon merupakan warisan Belanda. Namanya buah kopi anjing dengan rasa asam-asam manis.
Buah kopi anjing sekilas berbentuk seperti kentang. Saat masih mentah, kulitnya cenderung berwarna kecokelatan atau kuning kusam. Ketika matang, warnanya berubah menjadi kuning lebih jelas.
Di balik kulitnya terdapat daging buah berwarna putih kekuningan. Dagingnya cukup tebal dengan tekstur yang mirip jambu kristal. Di bagian tengah terdapat satu biji berukuran cukup besar berwarna cokelat.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Buah ini bisa langsung disantap setelah dicuci. Rasanya segar dengan perpaduan asam dan manis, meski rasa asam lebih dominan.
Kepala Desa Cieurih Acep Beny Bunyanudin mengatakan, keberadaan pohon kopi anjing di desanya sudah ada sejak dirinya masih kecil. Menurut cerita yang berkembang dari orang-orang tua terdahulu, tanaman tersebut merupakan warisan dari zaman Belanda.
"Kalau kopi anjing itu sebetulnya saya juga tidak terlalu paham. Cuma dari zaman saya masih kecil, buah tersebut sudah ada," kata Acep saat diwawancarai detikJabar belum lama ini.
"Menurut orang-orang tua terdahulu, katanya itu warisan dari zaman Belanda, zaman perang dahulu. Ada kopi namanya kopi anjing," sambungnya.
Nama kopi anjing sendiri, kata Acep, bukan karena bentuk buahnya menyerupai biji kopi. Sebutan itu justru dikaitkan dengan bentuk bijinya.
"Kenapa disebut kopi anjing? Katanya karena bentuknya itu seperti kotoran anjing," ujarnya.
Keberadaan kopi anjing dulunya cukup mudah ditemukan di Desa Cieurih. Acep menyebut, pohon tersebut bahkan banyak tumbuh di pekarangan rumah warga.
Namun, seiring waktu, jumlahnya semakin berkurang. Warga mulai menebang pohon kopi anjing karena belum mengetahui manfaat maupun nilai ekonomi dari tanaman tersebut.
Pohon buah kopi anjing. Foto: Erick Disy Darmawan
"Kalau dulu ada. Hampir di setiap rumah, di setiap pekarangan, di belakang rumah itu ada pohon tersebut," kata Acep.
"Cuma karena belum tahu manfaatnya apa, jadi banyak yang ditebang. Sekarang hanya ada beberapa rumah yang masih ada kopi itu," sambungnya.
Padahal, bagi warga yang masih mengenalnya, buah tersebut bisa dimanfaatkan sebagai camilan. Buah kopi anjing biasanya disantap langsung dan tidak banyak diolah.
"Kalau untuk rasa asam-asam manis. Biasanya hanya untuk cemilan saja," katanya.
"Kalau kopi anjing itu sebetulnya saya juga tidak terlalu paham. Cuma dari zaman saya masih kecil, buah tersebut sudah ada," kata Acep saat diwawancarai detikJabar belum lama ini.
"Menurut orang-orang tua terdahulu, katanya itu warisan dari zaman Belanda, zaman perang dahulu. Ada kopi namanya kopi anjing," sambungnya.
Nama kopi anjing sendiri, kata Acep, bukan karena bentuk buahnya menyerupai biji kopi. Sebutan itu justru dikaitkan dengan bentuk bijinya.
"Kenapa disebut kopi anjing? Katanya karena bentuknya itu seperti kotoran anjing," ujarnya.
Keberadaan kopi anjing dulunya cukup mudah ditemukan di Desa Cieurih. Acep menyebut, pohon tersebut bahkan banyak tumbuh di pekarangan rumah warga.
Buah kopi anjing. Foto: Erick Disy Darmawan
Namun, seiring waktu, jumlahnya semakin berkurang. Warga mulai menebang pohon kopi anjing karena belum mengetahui manfaat maupun nilai ekonomi dari tanaman tersebut.
"Kalau dulu ada. Hampir di setiap rumah, di setiap pekarangan, di belakang rumah itu ada pohon tersebut," kata Acep.
"Cuma karena belum tahu manfaatnya apa, jadi banyak yang ditebang. Sekarang hanya ada beberapa rumah yang masih ada kopi itu," sambungnya.
Padahal, bagi warga yang masih mengenalnya, buah tersebut bisa dimanfaatkan sebagai camilan. Buah kopi anjing biasanya disantap langsung dan tidak banyak diolah.
"Kalau untuk rasa asam-asam manis. Biasanya hanya untuk cemilan saja," katanya.
Artikel ini sudah tayang di detikjabar dengan judul "Mengenal Kopi Anjing, Buah Langka Warisan Belanda di Majalengka"
(adr/adr)