I.League juga menyiapkan dukungan finansial untuk membantu klub menghadapi tingginya biaya yang muncul selama menjalani kompetisi internasional.
Hal ini diutarakan oleh Direktur Komersial I.League, Sadikin Aksa. Menurutnya, kkub Indonesia membutuhkan dukungan lebih besar ketika harus tampil di beberapa kompetisi dalam satu musim.
Menurutnya, padatnya agenda membuat klub tidak bisa hanya mengandalkan satu tim untuk menjalani seluruh pertandingan.
Kedalaman skuad menjadi salah satu faktor penting apabila klub ingin bersaing di level Asia.
"Jadi memang gini, untuk bersaing di kompetisi Asia, ya apalagi kayak Persib dan kalau enggak salah sih Persib sudah melakukan ya sekarang dengan pengalaman tahun lalu," kata Sadikin dalam diskusi PSSI Pers di Kantor I.League, Jakarta Selatan, Senin (31/8/2026).
Sadikin mencontohkan Persib yang pada musim sebelumnya harus menjalani sejumlah kompetisi sekaligus. Selain Super League, klub juga tampil di kompetisi AFC, League Cup, serta ASEAN Club Championship.
"Itu tidak mungkin bangun satu tim, minimal tiga. Itulah yang membedakan kita waktu itu," ujarnya.
"Dulu kita pikir dengan satu tim saja cukup untuk bersaing atau berkompetisi di beberapa turnamen, tidak mungkin."
https://www.akurat.co/bola/884671/acl-two-jaga-kualitas-gbla-persib-pilih-hadapi-manila-digger-di-si-jalak-harupat
Pada musim 2026-2027, Persib menjadi salah satu wakil Indonesia di kompetisi Asia. Maung Bandung dijadwalkan tampil di play-off AFC Champions League Two, sedangkan Borneo FC Samarinda berlaga di AFC Challenge League.
Sadikin menegaskan I.League telah melakukan komunikasi dengan klub-klub yang tampil di kompetisi Asia sebelum menyusun kalender pertandingan.
Karena itu, jadwal kompetisi domestik yang telah dirilis disebut sebagai hasil pembahasan dengan klub terkait.
"Kita sebelum merilis jadwal, kita komunikasi dengan klub yang berkompetisi di AFC dan AFF. Jadi, ini adalah yang terbaik, jadwal yang sudah kami komunikasikan dengan mereka," tuturnya.
Namun, I.League tetap membuka kemungkinan melakukan perubahan jadwal apabila perjalanan klub di kompetisi internasional semakin jauh.
Penyesuaian dapat dilakukan ketika klub mencapai fase-fase penting seperti babak 16 besar hingga final.
"Jadi tidak mungkin nanti perubahan itu ada pada saat kalau mereka masuk 16 besar, masuk final misalnya, itu pasti ada adjustment lagi, pasti dan pasti kita akan mengakomodasi klub-klub ini," kata Sadikin.
Selain persoalan jadwal, I.League juga menyoroti besarnya biaya yang harus ditanggung klub ketika bertanding di luar negeri.
Menurut Sadikin, aspek finansial menjadi bagian penting dalam upaya meningkatkan daya saing klub Indonesia di kawasan Asia.
"Dan bukan cuma support dari pengaturan jadwal, financially pun kita support, karena kita tahu bertanding ke luar itu cukup mahal," ujarnya.
Sadikin bahkan mengingat pengalamannya ketika masih menangani PSM Makassar. Saat itu, satu perjalanan tandang ke Manila, Filipina, untuk tampil di AFC Cup disebut bisa menghabiskan biaya hingga sekitar Rp900 juta.
"Saya malah bilang boleh enggak kita tarik ke belakang waktu dulu, waktu PSM itu bertanding ke mana, ke Manila itu away saja Rp900 juta," ucapnya.
Dengan banyaknya pertandingan yang harus dijalani, Sadikin menilai klub peserta kompetisi Asia membutuhkan strategi pengelolaan skuad yang matang.
Pelatih juga dituntut mampu mengatur pemain agar sanggup menjalani puluhan pertandingan dalam satu musim.
"Jadi strategi tim pelatih yang harus jago, ya. Jadi mereka bisa bertanding berapa, bisa sampai 45 laga selama satu musim," katanya.
Sadikin juga menilai klub-klub Indonesia masih membutuhkan waktu untuk mengejar perkembangan klub-klub Asia Tenggara.
Menurutnya, sejumlah klub di kawasan tersebut telah melakukan transformasi lebih dahulu.
Sedangkan klub Indonesia baru mulai melakukan perubahan secara lebih serius dalam beberapa tahun terakhir.
"Kalau kita mau berharap bisa mencapai mereka yang sudah bertransformasi dari mungkin sepuluh tahun lalu, ya tidak bisa tiba-tiba. Tapi apakah kita menuju ke sana? Menuju ke sana," tutur Sadikin.
Ia menyebut pandemi COVID-19 dan sanksi larangan transfer atau banned turut memengaruhi perkembangan sepak bola Indonesia.
Kondisi tersebut membuat klub Indonesia tertinggal dari sejumlah kompetitor di Asia Tenggara yang tetap menjalankan proses transformasi.
Karena itu, I.League berharap dukungan terhadap klub yang tampil di kompetisi Asia dapat menjadi bagian dari proses memperkuat daya saing sepakbola Indonesia.
Sadikin menargetkan klub Indonesia mulai mampu bersaing lebih baik dalam dua hingga tiga tahun ke depan.
"Saya yakin kalau kita mau bersaing dengan kondisi kayak kita sekarang, dua hingga tiga tahun ke depan harusnya kita sudah bisa bersaing," kata Sadikin.
Ia sekaligus membantah anggapan bahwa I.League tidak memberikan dukungan kepada klub yang tampil di level internasional.
Menurutnya, tidak seluruh permintaan klub terkait jadwal bisa dipenuhi karena setiap keputusan memiliki konsekuensi terhadap kompetisi secara keseluruhan.
"Kalau ada komentar mengenai jadwalnya kita tidak support, itu salah total. Kita support jadwalnya mereka, tapi kalau ditanya tidak mungkin semuanya kita penuhi semua," ujar Sadikin.
"Intinya, kita support mereka financially sudah pasti."