Namun, tidak semua pihak kecipratan untung dari pesta sepakbola terbesar di bumi ini. Berikut adalah peta perputaran uang Piala Dunia 2026 yang membagi para pelaku menjadi kelompok "Si Paling Untung" dan "Si Paling Buntung":
SI PALING UNTUNG (WINNERS)
1. FIFA: Sang Penguasa Takhta Finansial
Badan Pengatur Sepakbola Dunia (FIFA) menjadi pemenang terbesar dalam perputaran duit ini. Pada Piala Dunia Qatar 2022 lalu, FIFA sukses mengantongi pendapatan rekor sebesar USD7,6 miliar USD atau sekitar Rp136,38 triliun.
Kini, dengan format baru 48 tim di AS, Kanada, dan Meksiko, Deutsche Bank Research memprediksi pendapatan FIFA dalam siklus empat tahunan ini akan menembus angka luar biasa, mencapai USD13 miliar USD atau hampir Rp233,29 triliun!.
https://www.akurat.co/bola/874135/jadwal-final-piala-dunia-2026-spanyol-vs-argentina-cek-jam-tayang-siaran-tv-dan-situs-resmi-live-streaming
Pundi-pundi uang ini mengalir deras dari hak siar televisi, lisensi, sponsor, tiket, hingga pasar sekunder resale tiket resmi di mana FIFA memotong biaya admin sebesar 15 persen dari pembeli dan penjual sekaligus.
2. Perusahaan Taruhan (Bandar Judi): Rekor Sepanjang Sejarah
Piala Dunia 2026 berada di jalur yang tepat untuk menjadi ajang perjudian terbesar dalam sejarah manusia.
Firma layanan keuangan Macquarie memprediksi total taruhan yang berputar di turnamen ini akan menembus angka USD50 miliar USD atau sekitar Rp897,28 triliun, atau rata-rata sebesar USD500 juta USD Rp8,97 triliun per pertandingan.
Dikutip laman BBC, raksasa judi dunia seperti Flutter Entertainment menyebut nilai taruhan ini naik dua kali lipat dibanding edisi 2022, dipicu oleh legalisasi taruhan olahraga di AS serta maraknya sistem in-play betting.
SI PALING BUNTUNG (LOSERS)
1. Fans: Diperas Habis-habisan
Mimpi menonton tim kesayangan harus ditebus dengan harga selangit akibat kebijakan dynamic pricing.
Bahkan, Presiden AS Donald Trump saja mengaku enggan jika harus membayar tiket laga pembuka senilai USD1.000 USD (Rp17,9 juta).
Harga tiket resmi final di Stadion MetLife New Jersey, bahkan dijual mulai dari harga USD32.970 USD (Rp591,7 juta). Namun, bukan cuma harga tiket saja yang menyiksa para penggemar sepakbola.
Penderitaan fans berlanjut pada masalah transportasi. Tiket kereta New Jersey Transit rute pulang-pergi yang biasanya hanya USD12,90 USD (Rp231,5 ribu) dinaikkan menjadi USD150 USD (Rp2,69 juta) selama turnamen.
2. Kota-Kota Penyelenggara: 'Zonk' Ekonomi Jangka Panjang
Sebanyak 16 kota inang memang kebanjiran turis, namun para ahli ekonomi menyebut efek positifnya bagi ekonomi lokal jangka panjang sangat minim.
Meskipun FIFA mengklaim turnamen ini menyumbang USD17 miliar USD (Rp305 triliun) ke ekonomi AS dan menciptakan 185.000 lapangan kerja baru, realitasnya, lowongan tersebut hanyalah pekerjaan upah rendah yang bersifat sementara.
"Turnamen ini memang menciptakan lapangan kerja, tetapi tidak menciptakan kemakmuran jangka panjang," kata Alexander Budzier, pakar manajemen dari Oxford University dikutip laman BBC.
Budzier menjelaskan bahwa kota-kota penyelenggara justru kerap kehilangan turis reguler yang menghindari kekacauan turnamen.
Berbeda dengan Olimpiade London 2012 yang menyisakan proyek regenerasi wilayah baru, Piala Dunia 2026 hampir seluruhnya menggunakan stadion dan infrastruktur yang sudah ada, sehingga tidak ada pembangunan ekonomi jangka panjang yang tersisa bagi kota-kota tersebut setelah pesta berakhir.