Platform Analisa Wajah AI Dikecam, Sarankan Operasi Plastik

Jakarta -

Sejumlah platform analisa wajah berbasis AI tengah menuai kecaman. Tidak hanya menilai fitur wajah, tetapi juga memberikan rekomendasi prosedur kosmetik yang dinilai berlebihan Botox, filler hingga operasi plastik.

Teknologi ini berkembang seiring tren looksmaxxing, yang menganggap daya tarik bisa dianalisa, diukur dan dioptimalkan. Masalahnya, AI seolah-olah memberikan standar berbasis ilmiah untuk menentukan fitur wajah mana yang dianggap menarik dan mana yang perlu diperbaiki. Salah satu pengguna, Danielle, 37 tahun, mengenal Qoves melalui TikTok ketika sedang menganggur dan mulai mempertanyakan penampilannya.

"Saya sempat berpikir, kalau saya lebih cantik atau punya fitur wajah yang berbeda, mungkin itu akan membantu," ujarnya, seperti dikutip Fashion Times.

ADVERTISEMENT

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Danielle kemudian membayar US$330 atau sekitar Rp 5,8 juta untuk laporan kecantikan personal sepanjang 30 halaman. Analisa tersebut menilai berbagai fitur wajah, termasuk bentuk telinga dan tingkat femininitas. Hasilnya, Danielle disarankan mempertimbangkan rhinoplasty, operasi kelopak mata bawah, canthopexy, implan dagu hingga malarplasty. Filler, Botox, microblading dan perawatan bulu mata juga masuk dalam daftar.

Qoves bukan satu-satunya layanan semacam ini. Platform seperti Epica dan Facemaxify juga menawarkan analisa wajah serta rekomendasi kecantikan. Para ahli kemudian mempertanyakan ketika fitur wajah yang sebenarnya normal mulai dianggap sebagai masalah hanya karena tidak sesuai dengan standar tertentu.

Sejumlah psikolog meragukan gagasan bahwa daya tarik manusia bisa ditentukan melalui formula universal. Dr. Justin Mogilski, yang penelitiannya mengenai karakteristik wajah maskulin dan feminin pernah digunakan dalam pembahasan Qoves, mengatakan hasil penelitian tersebut tidak bisa diterapkan begitu saja kepada seluruh populasi.

"Apakah hasil penelitian bisa berlaku untuk setiap populasi di dunia atau bahkan di suatu negara? Tidak. Daya tarik sebuah fitur wajah bisa berbeda tergantung budaya, lingkungan dan konteksnya," jelasnya.

Dr. Mitch Brown, yang telah mempelajari daya tarik manusia selama lebih dari satu dekade, juga menilai bukti ilmiah yang ada belum cukup untuk menentukan seseorang perlu mengubah fitur wajah tertentu.

"Saya rasa ilmu pengetahuannya belum cukup jelas untuk sampai pada kesimpulan seperti itu. Saya akan menyarankan siapa pun untuk berhati-hati," ujarnya.

Artinya, skor dan rekomendasi AI tidak bisa dianggap sebagai ukuran objektif tentang seberapa cantik seseorang. Penilaian tersebut tetap dipengaruhi oleh data, budaya dan asumsi yang digunakan sistem.

Dampak psikologis menjadi persoalan yang tak kalah serius. Psikolog Dr. Tracy Vaillancourt memperingatkan bahwa teknologi semacam ini bisa sangat merugikan orang yang sudah memiliki masalah citra tubuh.

"Hal-hal seperti ini bisa sangat merusak bagi orang dengan gangguan dismorfia tubuh, masalah citra tubuh, riwayat gangguan makan maupun mereka yang memiliki rasa percaya diri rendah," kata Vaillancourt.

Perusahaan analisis kecantikan berbasis AI seharusnya dapat memberikan saran yang lebih objektif dan proporsional, misalnya seputar makeup atau skincare, bukan langsung mengarahkan pengguna pada prosedur kosmetik. Di sisi lain, pengguna juga perlu lebih bijak dalam memanfaatkan platform kecantikan agar hasil analisis tidak justru memengaruhi kepercayaan diri atau membuat mereka terus mencari kekurangan pada diri sendiri.

(kik/kik)