Jakarta -
Dunia sepakbola sedang panas, hal ini disebabkan oleh pernyataan Presiden FIFA Gianni Infantino yang berencana menjual saham Piala Dunia. Untuk melancarkan wacana tersebut, FIFA akan mendirikan perusahaan baru yang dinamai FIFA Forward Enterprise (FFE) sebagai wadahnya.
Ke depan, para investor swasta bisa bergabung untuk membeli saham Piala Dunia. Badan baru ini akan dikawal oleh FIFA dan perusahaan asal AS, Thrive Eternal sebagai pemimpin kelompok investor. Nantinya negara anggota FIFA bisa membeli saham minoritas. Saham tersebut diharapkan bisa menjadi pemasukan tambahan bagi federasi sepakbola terkait.
Namun, demi mewujudkan wacana ini FIFA harus mendapat persetujuan dari 211 anggota asosiasi. Organisasi sepakbola tertinggi di dunia itu bahkan mengiming-imingi dana sebesar USD 40 juta bagi anggota yang setuju. Mantan Ketua Komite Tata Kelola FIFA, Miguel Maduro mengecam wacana dari Gianni Infantino. Menurutnya cara yang dipakai FIFA itu sama saja seperti suap.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Itu adalah bentuk suap yang dilegalkan, FIFA bekerja sebagai kartel politik, diberi makan dan didukung oleh sistem patronase, yang bekerja melalui uang yang didistribusikan FIFA kepada federasi nasional. Ada kemungkinan besar bahwa wacana ini akan disetujui oleh banyak negara anggota dan terus didorong FIFA," tutur Miguel Maduro dikutip dari BBC, dilansir detikSport.
Salah satu organisasi sepakbola tingkat kontinental yang paling vokal dalam menolak rencana Gianni Infantino adalah Federasi Sepakbola Eropa (UEFA). Mereka bahkan mengancam akan memboikot turnamen resmi FIFA jika wacana ini terwujud. UEFA yang saat ini berisikan 55 negara secara tegas menginginkan FIFA untuk membatalkannya. Federasi tertinggi sepakbola Eropa itu bahkan mengatakan jika Piala Dunia bukanlah produk yang bisa dijual begitu saja ke investor.
"UEFA dan 55 asosiasi anggotanya bersatu. Kami dengan suara bulat dan tanpa ragu menolak proposal FIFA untuk mengalihkan kepemilikan Piala Dunia dan kompetisi FIFA lainnya kepada investor swasta," tulis pernyataan resmi UEFA dilansir detikSport.
Penolakan juga datang dari Federasi Sepakbola Amerika Utara, Tengah, dan Kepulauan Karibia (CONCACAF). Organisasi sepakbola yang berisikan 41 negara anggota tersebut ikut bersuara menyatakan ketidaksetujuannya dengan rencana Infantino. CONCACAF bahkan mempertanyakan urgensi FIFA untuk mencari investor swasta di turnamen-turnamen mereka.
Setali tiga uang dengan UEFA dan CONCACAF, Konfederasi Sepakbola Asia atau AFC juga merasa kecewa kepada FIFA. Sebab mereka merasa tak dilibatkan dalam usulan menjual saham Piala Dunia, transparansi dari FIFA dipertanyakan.
"AFC tidak dilibatkan dalam pembahasan usulan tersebut dan merasa kecewa karena masalah sepenting ini telah menjadi konsumsi publik sebelum keluarga besar AFC diberi kesempatan untuk menelaah dan mendiskusikannya melalui saluran tata kelola yang tepat dan telah mapan," tulis AFC dalam rilisnya dilansir dari detikSport.
Infantino sendiri butuh setidaknya dukungan lebih dari 50 persen anggota FIFA agar rencananya terwujud. FIFA saat ini punya 211 anggota dari enam benua. Lalu, apa sebenarnya urgensi dari wacana ini? Benarkah FIFA saat ini diisi oleh orang-orang yang memiliki kepentingan pribadi? Simak analisisnya dalam detikSore!
Ikuti terus ulasan mendalam berita-berita hangat detikcom dalam sehari yang disiarkan secara langsung langsung (live streaming) pada Senin-Jumat, pukul 15.30-18.00 WIB, di 20.detik.com dan TikTok detikcom. Sampaikan komentar Anda melalui kolom live chat yang tersedia.
"Detik Sore, Nggak Cuma Hore-hore!"
(gub/vys)