Kamis, 30 Juli 2026 - 19:40 WIB
Jakarta, VIVA – Polri menyiapkan langkah mitigasi hingga menyiagakan ribuan personel untuk mengantisipasi fenomena El Nino, cuaca ekstrem, serta kebakaran hutan dan lahan (karhutla) pada puncak musim kemarau yang diperkirakan berlangsung pada Juli hingga September 2026.
Baca Juga
Langkah tersebut disampaikan pada Rapat Pencegahan dan Penanganan Karhutla yang dipimpin Wakil Kapolri Komisaris Jenderal Polisi Dedi Prasetyo dan Wakil Menteri Kehutanan Rohmat Marzuki di Gedung Mabes Polri, Jakarta, Kamis.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Dalam keterangan yang dikonfirmasi, Kepala Divisi Humas Polri Inspektur Jenderal Polisi Johnny Eddizon Isir mengatakan rapat konsolidasi ini merupakan respons cepat atas arahan Presiden Prabowo Subianto untuk memperkuat mitigasi sejak dini guna mencegah karhutla sekaligus mengurangi dampak El Nino pada masyarakat.
Baca Juga
"Seluruh jajaran telah bergerak melalui patroli terpadu, penguatan deteksi dini, kesiapsiagaan personel, pemanfaatan teknologi, serta kolaborasi dengan kementerian, lembaga, pemerintah daerah, TNI, dan seluruh pemangku kepentingan," katanya.
Sebagai tindak lanjut arahan Presiden, kata Johnny, Polri telah memperkuat langkah mitigasi sejak tahap prabencana melalui pendekatan pencegahan berbasis data, kolaborasi lintas sektor, dan kesiapsiagaan personel.
Baca Juga
Mitigasi itu termasuk dengan memperbarui pemetaan wilayah rawan karhutla, memverifikasi hotspot (titik api) di lapangan, memperkuat early warning system (sistem peringatan dini), serta mengoptimalkan patroli terpadu bersama TNI, Manggala Agni, pemerintah daerah, dan masyarakat.
Polri juga menginstruksikan personel Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat (Bhabinkamtibmas) bersama Bintara Pembina Desa (Babinsa) mendata langsung kondisi masyarakat di wilayah rawan, meliputi ketersediaan sumber air, potensi kekeringan, kondisi lahan pertanian, hingga kebutuhan bantuan sosial adaptif apabila dampak El Nino meningkat.
Upaya tersebut diperkuat dengan pemanfaatan command center (pusat komando) yang telah terintegrasi dengan kementerian dan lembaga terkait untuk memantau hotspot secara real time.
ADVERTISEMENT
GULIR UNTUK LANJUT BACA
Penggunaan drone, CCTV di pos-pos pantau, serta sistem informasi kebakaran menjadi bagian dari penguatan deteksi dini sehingga setiap potensi kebakaran dapat segera diverifikasi dan ditangani sebelum meluas.
Di lapangan, jelas Johnny, Polri menyiagakan 48.368 personel Sabhara dan 23.360 personel Brimob untuk mendukung operasi penanganan karhutla, disertai penerapan sistem rayonisasi antar-Polres dan antar-Polda agar dukungan personel maupun peralatan dapat digerakkan secara cepat sesuai perkembangan situasi.
Halaman Selanjutnya
Dalam aspek penegakan hukum, Polri terus meningkatkan pengawasan terhadap praktik pembakaran lahan.