Pramono Minta Dinkes Beri Peringatan Kerasi Nakes Jakarta yang Mencibir Pasien BPJS

Bagikan:

JAKARTA - Gubernur DKI Jakarta Pramono Anung meminta Dinas Kesehatan DKI Jakarta memberikan peringatan kepada tenaga kesehatan yang terbukti mencibir pasien pengguna BPJS Kesehatan.

Pernyataan itu disampaikan Pramono merespons viralnya dugaan komentar bernada merendahkan dari sejumlah akun yang diidentifikasi sebagai tenaga kesehatan terhadap seorang pasien BPJS.

Pramono mengaku telah memantau polemik tersebut dan meminta jajaran Dinas Kesehatan segera mempelajari kasus itu.

"Memang saya melihat itu dan saya akan minta kepada Dinas Kesehatan untuk memberikan peringatan bagi siapa pun yang melakukan tindakan kecibiran terhadap siapa pun yang menggunakan BPJS Kesehatan. Karena BPJS Kesehatan ini dilindungi oleh undang-undang," kata Pramono di Balai Kota DKI Jakarta, Kamis, 6 Agustus.

Kasus ini mencuat setelah seorang pasien mengaku harus menunggu ruang perawatan hingga delapan jam di rumah sakit. Keluhan tersebut kemudian mendapat respons negatif dari sejumlah akun yang diduga milik tenaga kesehatan. Beberapa hari setelah keluhan itu viral, pasien bernama Yurizal dikabarkan meninggal dunia pada 31 Juli 2026.

Pramono menegaskan pelayanan kesehatan menjadi salah satu sektor yang menjadi perhatian utama Pemprov DKI Jakarta. Ia menjelaskan, jumlah fasilitas kesehatan dan tenaga kesehatan di Jakarta sangat besar, sehingga pengawasan terhadap etika pelayanan harus diperkuat.

"Seperti diketahui Jakarta ini mempunyai 31 rumah sakit, 44 Puskesmas, 292 pembantu Puskesmas. Tentunya dari begitu banyak, ada puluhan ribu nakes yang bekerja," ucap Pramono.

"Maka untuk itu saya akan segera minta kepada Ibu Kepala Dinas Kesehatan dan juga Bu Premi untuk mempelajari ini dan mengambil tindakan dan mengingatkan siapa pun yang melakukan tindakan ini," lanjutnya.

Diketahui, unggahan seorang pasien pengguna BPJS Kesehatan yang mengeluhkan lamanya menunggu ruang rawat inap menjadi sorotan publik setelah pasien tersebut dikabarkan meninggal dunia. Polemik semakin meluas setelah beredar tangkapan layar sejumlah komentar yang diduga ditulis oleh tenaga kesehatan dan dokter, yang dinilai tidak menunjukkan empati kepada pasien.

Pada unggahan awal yang viral, pemilik akun @yurizaltrich mengaku telah menunggu selama delapan jam, namun belum juga mendapatkan ruang rawat inap.

"8 jam blm dpt ruangan. Gamau spill RS-nya, soalnya gue pake BPJS," tulis akun tersebut.

Unggahan itu kemudian memancing ribuan komentar. Salah satu yang menjadi sorotan berasal dari akun @bennychrstn yang diduga merupakan tenaga medis. "Kalo full, mau dipindahkan kemana? mau di lantai?" tulis akun tersebut.

Komentar itu kemudian dilanjutkan dengan penjelasan mengenai kondisi ruang rawat inap. "Enggak ada hubungannya sama BPJS atau enggak. BPJS yang make banyak, otomatis yg dirawat juga banyak, enggak cuma u sendiri," lanjutnya.

Namun, komentar yang paling menuai kecaman publik adalah kalimat yang menyinggung ruang jenazah. "Kalo mau pindah cepat, noh ruang jenazah selalu kosong."

"Ngeselin dah, nakes/RS bahkan pemerintah melalui BPJS berusaha ngebantuin, masyarakatnya malah gini," tulis akun tersebut.

Komentar tersebut memicu reaksi keras dari pengguna media sosial yang menilai candaan mengenai ruang jenazah tidak pantas disampaikan kepada seseorang yang sedang sakit dan sedang menunggu penanganan medis.

Tangkapan layar lain yang ikut beredar memperlihatkan akun @nouzzha_kim, yang disebut-sebut merupakan seorang dokter, memberikan komentar bernada keras kepada pasien.

"8 jam sangat sangat wajar apalagi kalau itu RS rujukan nasional. Mungkin sekelas RSHS Bandung atau RSCM ikut kan? Boleh gue bilang sesuatu? Lo banyak bacot," tulis akun tersebut.

Komentar tersebut juga menuai kritik karena dianggap tidak mencerminkan etika komunikasi seorang tenaga kesehatan terhadap pasien.

Selain itu, akun @nandafadyla juga menjadi sorotan setelah mengunggah komentar singkat yang berbunyi, "Bacot nih pasien."

Sementara akun @erudarahaadini menuliskan komentar lain yang juga ramai dikritik.

"PP nya kayak orang have tetapi aslinya haven't kah? haven't some brain cells," tulis akun tersebut.

Sejumlah tangkapan layar yang beredar kemudian mengaitkan beberapa akun tersebut dengan identitas tenaga medis. Beredar pula informasi mengenai dugaan tempat bekerja, riwayat pendidikan, hingga organisasi profesi yang berkaitan dengan akun-akun tersebut. Namun, informasi tersebut belum dapat diverifikasi secara independen.

Pasien yang mengunggah keluhan tersebut diketahui bernama Yurizal Tri Chaerawan. Kabar duka mengenai meninggalnya Yurizal disampaikan oleh sepupunya, Hilda Prianti Perdana, yang menyebut Yurizal meninggal dunia pada 31 Juli 2026 setelah sebelumnya diduga mengalami keterlambatan mendapatkan ruang perawatan.

Add VOI as a Preferred Source

Follow VOI news updates across Google.

+